MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Bayangkan, setiap hari ribuan ton makanan yang masih layak konsumsi berakhir di tempat sampah, sementara di sisi lain masih ada saudara kita yang kelaparan.ironis memang, tapi inilah realita yang menggerakkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) untuk bertindak lebih keras!
Nita Yulianis, Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas, dengan tegas mengungkapkan keprihatinannya atas kontradiksi menyakitkan ini. “Setiap hari, tidak sedikit makanan yang masih layak konsumsi berakhir menjadi sampah. Di sisi lain, masih banyak masyarakat yang membutuhkan akses pangan yang cukup dan bergizi,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (22/6).
Pernyataan ini bukan sekadar himbauan biasa. Ini adalah seruan perang melawan pemborosan pangan nasional yang selama ini berlangsung senyap. Bapanas pun memperkuat Gerakan Selamatkan Pangan (GSP) dengan menggandeng seluruh elemen bangsa—dari pemerintah pusat hingga komunitas akar rumput—dalam sebuah sinergi multipihak yang masif.
Salah satu wujud nyata penguatan gerakan ini terlihat di Sulawesi Selatan. Dalam pertemuan koordinasi bertajuk “Penguatan Kolaborasi Multipihak dalam Pencegahan dan Pengurangan Sisa Pangan melalui Implementasi Stop Boros Pangan”, Bapanas dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan komitmen luar biasa.
Bahkan, provinsi ini terpilih sebagai salah satu penerima manfaat mobil penyelamatan pangan pada tahun 2026! Bayangkan, mobil khusus ini akan menjadi ‘pahlawan jalanan’ yang mengangkut makanan berlebih dari hotel, restoran, dan katering, lalu menyalurkannya langsung ke tangan yang membutuhkan.
Lima Jurus Jitu Bapanas
Nita membeberkan lima strategi utama yang terus didorong Bapanas untuk memastikan gerakan ini berhasil:
1. Penguatan konsepsi dan kerangka kerja penyelamatan pangan
2. Penguatan kebijakan di tingkat pusat dan daerah
3. Implementasi aksi nyata di lapangan
4. Pengembangan kolaborasi multipihak yang solid
5. Sinkronisasi program antara pemerintah pusat dan daerah
Hasilnya pun mulai terlihat. Hingga saat ini, sudah 17 provinsi dan 54 kabupaten/kota yang memiliki instruksi atau surat edaran kepala daerah untuk mendukung GSP. Sulawesi Selatan menjadi salah satu yang paling aktif melaporkan kegiatan penyelamatan pangan melalui platform Stop Boros Pangan.
Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan Sulawesi Selatan, Kemal Redindo Syahrul Putra, menegaskan bahwa keberhasilan gerakan ini tidak bisa dicapai sendirian. Diperlukan sinergi pentahelix—kolaborasi lima pilar: pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media.
Di Sulawesi Selatan, mereka sudah menggandeng mitra-mitra strategis seperti:
· Baznas (Badan Amil Zakat Nasional)
· PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia)
· IHGMA (Indonesian Hotel General Manager Association)
“Kolaborasi menjadi kunci dalam penyelamatan pangan. Tidak ada satu pihak pun yang bisa bekerja sendiri. Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, pangan surplus yang masih aman dan layak konsumsi dapat disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan sekaligus mengurangi potensi pemborosan pangan,” ujar Kemal penuh semangat.
Tapi tunggu dulu, Bapanas dan Pemprov Sulsel tidak asal salurkan makanan. Aspek keamanan pangan menjadi perhatian utama! Mereka sudah menyiapkan fasilitas lengkap berupa mobil dan laboratorium keamanan pangan serta cold storage yang dapat dimanfaatkan bersama mitra perhotelan dan restoran.
“Kami juga membuka ruang kerja sama dengan mitra hotel, restoran, maupun komunitas untuk memanfaatkan fasilitas yang kami miliki. Keamanan pangan harus menjadi prioritas agar proses penyelamatan pangan dapat berjalan dengan baik dan memberi manfaat bagi masyarakat,” tambah Kemal.
Yang menarik, gerakan ini juga melibatkan komunitas keagamaan. Suzana, Wakil Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sulawesi Selatan, mengungkapkan bahwa pihaknya sudah menjalankan kampanye penyelamatan pangan selama lima tahun terakhir melalui program Ego to Eco dengan tagline menggugah: ‘Makan Habis Tanpa Sisa’ dan ‘Cegah Sebelum Menjadi Sampah’.
“Melalui pemasangan poster di hotel, restoran, kafe, dan kini juga di wihara-wihara, kami terus mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam mengonsumsi pangan. Pencegahan harus dilakukan sebelum pangan berakhir menjadi sampah,” tegas Suzana.
Dengan penguatan gerakan ini, Bapanas optimis target pengurangan pemborosan pangan nasional bisa tercapai. Gerakan Selamatkan Pangan bukan hanya soal menyelamatkan makanan, tapi juga menyelamatkan masa depan bangsa—di mana tidak ada lagi makanan bergizi yang terbuang sia-sia, dan setiap masyarakat memiliki akses terhadap pangan layak konsumsi.
“Penanganan sisa pangan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Diperlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat agar pangan berlebih yang masih layak konsumsi dapat dimanfaatkan secara optimal,” pungkas Nita.
Ayo, mulai dari diri kita sendiri! Makan secukupnya, jangan bersisa. Karena setiap suap makanan yang kita selamatkan, adalah harapan bagi mereka yang membutuhkan. Gerakan Selamatkan Pangan, gerakan kita semua!.






