Baznas Pasbar Bantu Pemulangan Tiga Ibnu Sabil Kembali ke Penajam Pasir Utara

PASAMAN BARAT – Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) fasilitasi pemulangan Mustahik Ibnu Sabil atau orang terlantar ke alamat asalnya, Selasa (23/8).

“Ya, kita membantu pemulangan seorang ibu muda dengan dua orang anak, dari Kecamatan Lembah Melintang Pasbar kembali ke daerah asalnya, di Kelurahan Nenang, Kecamatan Penajam, Kota Penajam Pasir Utara, Propinsi Kalimantan Timur,” kata Ketua Baznas Pasbar, Muhajir.

Disampaikan, kegiatan itu merupakan implementasi salah satu program Baznas melalui Asnaf Ibnu Sabil atau orang terlantar, menurutnya pasca menerima laporan dari masyarakat pihaknya langsung menindak lanjuti terkait adanya informasi adanya satu keluarga yakni seorang ibu dengan dua orang anak yang terlantar di Nagari Ujung Gading, Kecamatan Lembah Melintang, Kabupaten Pasbar pasca ditinggal pergi oleh suaminya.

“Si ibu ini sudah enam bulan bertahan hidup di Ujung Gading dengan belas kasihan warga sekitar, parahnya lagi si ibu tersebut memiliki anak Balita, maka berdasarkan hasil musyawarah pimpinan Baznas ibu tersebut kami bantu untuk biaya pemulangan ke Kalimantan Timur,” ungkap Muhajir.

Lebih lanjut dikatakannya, Baznas Pasbar akan menanggung seluruh biaya yang bersangkutan untuk sampai ke daerah asalnya, serta dibantu dengan sumbangsih masyarakat lainya hingga Siska beserta kedua orang anaknya tepatnya pada Selasa (23/8/2022) sudah berangkat menuju kampung halamannya dengan jalur udara dan laut nantinya.

“Berkat kerja sama semua pihak, Alhamdulilah yang bersangkutan sudah bisa kita bantu dan diantar ke Bandara Internasioanl Minang Kabau (BIM) Kota Padang, untuk selanjutnya terbang ke Jakarta – Balik Papan kepada pihak-pihak terkait saya ucapkan terimakasih,” pungkas Muhajir.

Sementara itu, Siska 34 Tahun dengan penuh haru mengucapkan terimakasih dan rasa syukur kepada Allah SWT serta kepada pihak Baznas Pasbar yang sudah peduli dan membantu, dimana ia dan kedua orang anaknya yang bisa kembali ke kampung halamannya di Kota Penajam Pasir Utara, Kalimantan Timur.

“Alhamdulillah saya dan Anak-anak bisa kembali ke kampung halaman, semoga nantinya saya bisa membesarkan kedua orang anak saya walau tanpa ayahnya,” ujarnya penuh haru.

Lanjut Siska, Kronologis singkat mengapa ia sampai ke Kabupaten Pasaman Barat ialah ketika ia dan suaminya memutuskan untuk pindah dari daerah asal menuju Kab. Pasbar sekitar setahun yang lalu, namun entah kenapa suaminya berubah terkesan acuh dan tidak peduli lagi.

“Saya dan Anak-anak ditinggal di rumah kontrakan, dengan alasan ia akan mencari biaya untuk ongkos pulang, namun semua itu bohong seiring berjalan waktu ia tidak kunjung datang lagi, seketika ia menelepon dan mengatakan cerai kepada saya,” lanjut Siska.

Setelah suaminya tidak mau menafkahi keluarganya, Siska mencoba berusaha sendiri dimana ia membantu tetangga berjualan di kantin SMA dekat rumahnya dengan upah 20 ribu per hari.

“Untunglah warga sekitar membantu kami untuk sekedar hidup dan menumpang di rumah warga karena tidak sanggup lagi membayar sewa rumah, sedang anak pertama saya terpaksa putus sekolah,” tutupnya. (Sy)

Related posts