Begini Respon Petinggi Taliban Ketika Hamid Ingin Jadi Imam Salat

MINANGKABAUNEWS.COM, JAKARTA — Hamid Awaludin punya hubungan istimewa dengan para petinggi kelompok Taliban dan tokoh pemerintahan Afghanistan di bawah Presiden Ashraf Ghani. Maklum, sejak 2017, dia mendapat tugas dari Jusuf Kalla (saat masih itu wakil presiden) menjadi ketua tim negosiasi perundingan damai Afghanistan dan Taliban. Bersama para diplomat dari Kementerian Luar Negeri RI, Hamid kerap bolak-balik ke Kabul dan Doha, Qatar, untuk berkomunikasi dengan masing-masing pihak.

Di sela pertemuan, mereka biasa salat berjemaah. Suatu kali dia mengaku sempat menggoda Mullah Abdul Ghani Baradar (petinggi Taliban) untuk mengimami mereka salat. Hal itu untuk menunjukkan bahwa keislaman dirinya lebih baik dari Ghani Baradar dan kawan-kawan.

Read More

Alih-alih menunjukkan ketersinggungan, kata Hamid, pemimpin Taliban yang pernah dipenjara di Pakistan pada 2010-2018 itu malah tersenyum. “Silakan Syeh Hamid, silakan menjadi imam,” tutur Baradar seperti ditirukan Hamid Awaludin, Senin (30/8/2021).

Mendapat respons seperti itu, Hamid tak melanjutkan niatnya. “Ya sudah, kamu saja yang jadi imam karena kamu lebih tua dari saya,” ujar Hamid.

Menteri Hukum dan HAM di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla itu menceritakan kejadian tersebut untuk menggambarkan betapa sosok Ghani Baradar tak seperti dalam bayangan kebanyakan orang. Meski berjanggut lebat dan dikelilingi para pengawal dengan senjata Kalashnikov, Ghani Baradar cukup humanis.

“Dia sosok ulama yang sangat pendiam, santun, bicara seperlunya, dan selalu menghormati orang lain. Sesekali suka bercanda juga. Tapi penampilannnya memang lebih tua dari usianya,” kata Hamid Awaludin.

Pada 27 Juli 2019, Mullah Abdul Ghani Baradar ke Jakarta untuk pertama kalinya. Turut bersamanya antara lain Abdussalam Hanafi (Wakil Kepala Biro Politik Taliban), Syekh Amir Khan Muttaqi (anggota Dewan Syura) Mullah Nur Ulaa Nuri (mantan Menteri Informasi), Syekh Abdul Haq Wasiq (mantan Gubernur), Syekh Khair Ulla Khaikhwa (mantan Wakil Kepala Badan Intelijen), Muhammad Suhail Syahin (Juru Bicara dan mantan Menteri Dalam Negeri), serta Ali Shed (pengawal Ghani Baradar).

Mereka antara lain bertemu Jusuf Kalla di rumah dinas, lalu salat berjemaah di Masjid Sunda Kelapa. Para tokoh Taliban itu juga sempat mengunjungi Masjid Istiqlal dan salat berjemaah di sana. Juga berdialog dengan MUI dan pimpinan PBNU secara terpisah.

Indonesia memfasilitasi upaya damai Afghanistan-Taliban atas permintaan mereka kepada Presiden Joko Widodo. Selain karena alasan historis, reputasi Indonesia dan Jusuf Kalla mewujudkan perdamaian dengan Gerakan Aceh Merdeka pada Agustus 2005 menjadi rujukan Afghanistan dan kelompok Taliban.
(Detik)

Related posts