Belum Banyak yang Tahu, Ada Tradisi ‘Maisi Sasuduik’ di Minangkabau, Apa Itu?

  • Whatsapp
rumah adat minang
Rumah Gadang Minangkabau (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh : Khairunnisa Azzukruf

Maisi sasuduik (biasa disebut juga sasuduik, manyuduik, atau isi biliak) merupakan salah satu tradisi pernikahan urang Minangkabau di Luhak Lima Puluh Kota, Pesisir, Kabupaten Agam, Bukittinggi. Tradisi ini menjadi syarat bagi pihak laki-laki untuk meminang perempuan Minangkabau. Dinamakan maisi sasuduik dikarenakan syarat yang mesti di penuhi oleh laki-laki yaitu melengkapi isi kamar perempuan, paling sedikit : tempat tidur, kasur, meja rias, lemari, selebihnya di sesuaikan dengan kesanggupan dari pihak laki-laki.

Read More

Soal jenis dan bentuk kamar setnya biasanya itu tergantung kesepakatan sang calon pengantin pria dan calon pengantin wanita. Biasanya uang yang diserahkan oleh calon pengantin pria kepada calon pengantin wanita telah disepakati bersama antara pihak keluarga perempuan dan pihak keluarga yang laki laki (seharga kamar set). Kamar setnya boleh yang murah dan boleh yang mahal, tergantung kemampuan masing-masing.

Asal usul uang sasuduik dalam sistem perkawinan pertama kali ada di Nagari Situjuah Gadang Kecamatan Situjuah Limo Nagari Kabupaten Lima Puluh Kota Provinsi Sumatera Barat adalah pemberian yang sudah terjadi sejak dari zaman dahulu yang ditetapkan oleh tetua adat dahulu kala dan berlaku hingga sekarang. Kedudukan uang sasuduik dalam perkawinan di Nagari Situjuah Gadang Kecamatan Situjuah Limo Nagari sebagaimana “kok indak panuah ka ateh panuah ka bawah” maksunya pemenuhan uang sasuduik ini kalau tidak sanggup mengisi ke atas maka mengisi ke bawah. Kedudukannya ini merupakan keharusan adat dan merupakan bagian dari adaik nan diadaikan.

Uang sasuduik dalam perkawinan ini sebenarnya tidak akan membatalkan akad nikah, namun dikarenakan perkawinan adat dan perkawinan syara’ merupakan serangkaian yang tidak bisa dipisahkan makanya uang sasuduik dapat menunda hingga ada yang batal perkawinan. Karena dari uang sasuduik piha perempuan bisa melihat kesiapan seorang laki-laki dalam berumah tangga, mampu mengemban tanggung jawab dalam menjalin rumah tangga. Dan juga uang sasuduik ini harus diberikan kepada pihak perempuan yang berguna untuk pengisi kamar pengantin dengan memenuhi selaruh peralatan kamar dan digunakan untuk baralek/ pesta pernikahan.

Jarak antara pinangan dengan penyerahan uang sasuduik, tergantung kesepakatan kedua belah pihak, namun tidak melewati batas untuk menuju akad nikah dan baralek itu sendiri. Apabila laki-laki lalai dalam memenuhi kesepakatan tersebut pihak perempuan atau niniak mamak akan menunda perkawinan hingga laki-laki tersebut mampu membayarkan uang sasudui berdasarkan kesepakatan diawal. Setelah penundaan tersebut niniak mamak atau pihak perempuan melaporkan ke kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN) dalam hal ini kepada Ketua Kerapatan Adat Nagari. Karena dalam proses penetapan jumlah uang sasuduik tersebut hingga penetapan tanggal perkawinan tokoh adat datang menghadiri.

Tradisi maisi sasuduik hanya bersifat adat salingka nagari yang artinya tradisi ini hanya berlaku di wilayah yang di sebutkan sebelumnya. Jika ada pernikahan yang beda nagari serta berbeda adat nya dan berbeda luhak, tradisi ini boleh ada boleh juga tidak akan tetapi harus ada kata mufakat dari kedua belah pihak yang akan menikah. Seiring dengan sisitem yang di anut oleh masyarakat Minangkabau yaitu matrilinear, hal ini berakibat sang suami harus tinggal di rumah mertuanya sehingga maisi sasuduik dirasa perlu.

Perkara maisi sasuduik disampaikan waktu acara manaiakan siriah atau disebut juga makan lamang, atau manjarah. Waktu pelaksanaan ini kurang lebih dua bulan atau paling lambat satu bulan sebelum diadakannya akad nikah, sehingga maisi sasuduik selain menjadi syarat pernikahan juga menjadi tanda mula baso rencana pernikahan kedua belah pihak alah samo-samo direstui dan indak diungkai lai atau masalah dikudian ari sebelum acara akad berlangsung mangkanya maisi sasuduik menjadi penentu keluarga mana yang memulai masalah. Katiko isi sasuduik dikaluaan sarato dibaliakan ka pihak nan laki-laki mangko disimpulkan baso pihak padusilah nan maungkai janji, atau sabaliaknyo kok isi sasuduik indak dibaliakan mangko pihak laki-lakilah nan maungkai jani.

Maisi sasuduik juga menandakan bahwa sanya laki-laki tersebut memang berniat untuk meminang perempuan tersebut. Sebenarnya adat maisi sasuduik ini tidak akan merugikan pihak laki-laki, karena isi kamar perempuan yang telah diisi oleh pihak laki-laki akan mejadi milik dari laki-laki itu juga, laki-laki juga yang akan memakai kamar tersebut. Sementara itu pihak perempuan juga harus membayar uang jemput kepada mamak dari pihak laki-laki. Jadi sebenarnya adat ini dibuat untuk menguntungkan satu sama lai bukan untuk merugikan salah satu pihak atau menguntungkan salah satu pihak saja. Adat yang akan dipakai atau dilaksanakan tergantung oleh kesepatan antar dua belah pihak keluarga si mempelai.

Pemenuhan uang sasuduik ini merupakan bagian dari “adaik nan diadaikkan”. Maksudnya adalah adat kebiasaan yang ditetapkan atas dasar “bulat mufakat” para penghulu, tua-tua adat, cerdik pandai, dalam majelis kerapatan adat zaman dahulu atas dasar “halur” dan “patut”. Ketentuan ini dapat berubah menurut keadaan tempat dan waktu. Sebagaimana sifat dari adat yang di adatkan ini lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya dan uang sasuduik ini hanya berlaku di Nagari atau daerah-daerah yang telah di sebutkan di atas.

Dalam adat upacara pernikahan ini yang menjadi daya tarik orang Minang adalah hiasan kamar pengantin di hias begitu indah dan dalam baralek/ pesta pernikahannya seluruh rumah dihiasi dan dihidangkan makanan daerah tersebut. Uang sasuduiktersebut digunakan untuk mengisi kamar pengantin tersebut serta hiasannya dan juga digunakan untuk acara baralek tersebut. (*)

/* Penulis adalah Mahasiswa Universitas Andalas.

Related posts