“Berdayakan, Bukan Perdayakan!”: Buya Gusrizal Peringatkan Keras Praktik Eksploitasi Syariat demi Dana

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Sebuah pernyataan tajam dilontarkan Ketua Bidang Fatwa Metodologi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa. Tanpa basa-basi, ia memperingatkan praktik yang kerap terjadi di tengah umat: menjadikan ajaran syariat sebagai alat pengumpul dana, bukan sebagai jalan pemberdayaan.

Dalam suasana hikmat namun penuh tekanan, Buya Gusrizal mengingatkan bahwa umat Islam bukanlah “sapi perahan” yang terus diperas demi kepentingan sesaat.

“Berhentilah melihat umat ini sebagai objek untuk menghimpun dana dengan memperalat ajaran syari’at!” tegasnya.

Dengan suara lantang, ia mengajak para tokoh, dai, dan lembaga dakwah untuk mengubah paradigma. Jangan jadikan umat sebagai alat. Sebaliknya, berdayakan mereka secara sungguh-sungguh.

“Kalau saudara sayang dengan umat ini, berdayakan mereka, bukan perdayakan!” ujar Buya.

Menurutnya, umat Islam di negeri ini sudah memiliki ketahanan luar biasa. Mereka terbiasa bersyukur di atas kekurangan, terbiasa ikhlas dalam keterbatasan. Jika sudah kokoh dan kuat, kata Buya, tak perlu lagi disuruh berkorban.

“Kalau mereka sudah kuat dan kokoh, tak perlu disuruh mereka berkorban untuk negeri ini, karena selama ini sudah terlatih ‘bersyukur di atas kekurangan’,” pungkasnya.

Pernyataan Buya Gusrizal ini sontak menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan. Banyak yang menilai kritik itu sangat relevan dengan realitas di lapangan, di mana tak sedikit aksi penggalangan dana justru mengeksploitasi simbol-simbol keagamaan dan kemiskinan umat.

Para pengamat dakwah pun menilai pernyataan ini layak menjadi alarm bagi semua pihak untuk kembali ke esensi pemberdayaan umat, bukan sekadar menghimpun dana atas nama syariat.

Related posts