Bicara Filosofis Silek, Supardi: Kini Basic Tradisional Kita Sudah Tertinggal

Ketua DPRD Sumbar, Supardi, ketika berdiskusi dengan wartawan terkait rencana Musyawarah Tuo Silek di Agam Jua Art Caffe Payakumbuh. Jumat (3/6) malam. (Foto: Aking/MKN)

MINANGKABAUNEWS.COM, PAYAKUMBUH – Ketua DPRD Sumatera Barat yang juga politisi Partai Gerindra, Supardi, mengaku kecewa dengan hasil perolehan medali oleh kontingen cabang olahraga Silat (IPSI) yang tidak masuk peringkat 10 besar, pada ajang PON Papua akhir 2021 lalu.

Dia menyebut, kondisi itu menandakan terus berkurangnya minat masyarakat terutama kawula muda, terhadap salah satu cabang olahraga beladiri yang berasal dari Ranah Minang. Masyarakat Minang, katanya, kini lebih cenderung bangga dengan seni budaya serta olahraga bela-diri dari luar.

Read More

“Padahal sejak dulu, para orang tua kita terus mengembangkan Silek tidak hanya sebagai beladiri, tapi juga sebagai sarana membangun karakter bahkan untuk pegangan hidup,” kata Supardi, ketika berdiskusi dengan wartawan di Agam Jua Art Caffe Payakumbuh, Jumat (3/6) malam.

Supardi yang dilantik menjadi Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Sumatera Barat sejak Februari 2022 lampau, mengaku sangat prihatin dengan kondisi perkembangan Silek Tuo Tradisi yang kini mulai tergerus oleh arus teknologi.

Saat ini, lanjutnya, Silek Tradisi semakin tertinggal dan tidak lagi banyak diminati terutama oleh kawula muda. Menurutnya, silek prestasi dan silek tuo tradisi sebenarnya sejalan, sehingga tidak boleh dibedakan. Silek prestasi, katanya, berkembang setelah adanya silek tradisi.

Dia menceritakan, Silek Tuo Tradisi yang diajarkan secara turun temurun di Ranah Minang mengandung arti dan filosofis yang tinggi sebagai pedoman kehidupan. Namun, kini banyak para atlet silek/silat tidak lagi memiliki basic Silek Tuo Tradisi dalam bertanding.

“Sebenarnya, tidak ada perbedaan antara (silek) tradisi dengan prestasi. Misalnya pada prestasi ada kuda-kuda, di tradisional kita kenal dengan langkah. Apalagi, silek Tuo Tradisi kita juga lebih identik dengan Surau, sebagai sarana membangun karakter,” sebutnya.

Berangkat dari persoalan itu, Supardi menyebut, sebagai anggota DPRD Sumbar dirinya merasa terpanggil mendorong perguruan silek tradisi supaya terus berkembang. Terutama berupaya agar memasukkannya ke dalam program-program pemerintah daerah.

Dalam waktu dekat ini, pihaknya bekerjasama dengan UPTD Taman Budaya, Dinas Pariwisata dan Olahraga Provinsi Sumbar dan Kota Payakumbuh sudah menginisiasi penyelenggaraan kegiatan Musyawarah Tuo Silek, yang akan dilaksanakan di Kampuang Adat Balai Kaliki.

Dalam Musyawarah yang akan dihadiri sekitar 60 orang tuo silek itu, bakal mengangkat tema ‘Upaya Meletakkan Kembali Silek Sebagai The Way of Life‘. Menurut rencana, musyawarah tersebut bakal berlangsung tanggal 4-6 Juni 2022 ini.

Supardi menambahkan, pihaknya bermasud merekrut kembali para tuo-tuo silek, karena mereka adalah orang-orang yang punya komitmen memelihara dan mengembangkan sileknya. Sasarannya yakni upaya pelestarian surau tempatnya mengajarkan silek kepada generasi penerus.

“Kesimpulannya, ke depan kita akan menginventarisir tuo-tuo silek di Sumatera Barat. Output dari musyawarah ini melahirkan rekomendasi, baik dalam literasi berbentuk buku maupun digital, serta mengajak mereka turun gunung, agar bagaimana silek ini tetap diminati di zaman modern,” tambah Supardi.

Diskusi malam itu, turut dihadiri Kepala UPTD Taman Budaya Hendri Fauzan, Kasi Pameran dan Pertunjukan, Sexri Budiman, dan Kadisparpora Kota Payakumbuh, Desmon Corina.

Adapun Kasi Pameran dan Pertunjukan, Sexri Budiman, dan Kadisparpora Kota Payakumbuh, Desmon Corina, sependapat dengan Supardi, perihal pelestarian budaya Silek sebagai program pariwisata yang sangat layak untuk dijual.

“Kalau kita hanya mengandalkan wisata alam, maka kita akan terus tertinggal. Karena wisata alam juga sudah banyak di daerah lain. Sehingga, kita harus berani menampilkan pariwisata budaya, salah satunya melalui pelestarian budaya, Silek ini,” sebutnya. (akg)

Related posts