Biduk Lalu Kiambang Bertaut: Suasana Kembali Harmoni dalam Mewujudkan Tujuan Bersama

Wakil Ketua PW Muhammadiyah Sumbar, Ki Jal Atri Tanjung (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Buya Ki Jal Atri Tanjung (Pengamat Organisasi dan Budaya)

Pernahkah Anda melihat hamparan danau tenang di pagi hari? Di atas permukaannya, biduk-biduk kecil berlayar dengan anggun. Di sekitarnya, kiambang—tumbuhan air mungil—bertautan erat, membentuk hamparan hijau yang indah. Ada semacam tarian sunyi di sana: biduk melaju, kiambang mengikut, keduanya saling membutuhkan tanpa saling mengganggu.

Itulah gambaran ideal kehidupan berorganisasi. Tapi mari kita jujur: harmoni seperti itu tidak datang dengan sendirinya. Ia lahir dari kesadaran kolektif bahwa kita semua—pemimpin dan anggota, pengurus dan masyarakat—adalah bagian dari satu ekosistem yang sama.

Falsafah Minangkabau mengajarkan kita: biduk lalu, kiambang bertaut. Sederhana tapi dalam. Ketika pemimpin bergerak, anggota harus merapat. Ketika pengurus memberi arah, seluruh elemen harus menyatu. Sebab jika tidak—biduk yang berlayar sendiri akan oleng, terombang-ambing gelombang. Sementara kiambang yang tak bertaut pada biduk akan hanyut, kehilangan pegangan, tercerai-berai dibawa arus.

Lalu, bagaimana caranya agar keduanya tetap bersinergi? Jawabannya ada pada satu sosok: pemimpin yang paham perannya bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai perekat.

Bayangkan seorang nakhoda kapal besar. Ia tak mungkin hanya duduk manis di anjungan sambil memberi perintah lewat pengeras suara. Jika ia benar-benar ingin kapalnya sampai tujuan, ia harus turun ke geladak. Merasakan hembusan angin. Mendengar keluhan awak kapal. Melihat sendiri kondisi tali-temali.

Pemimpin seperti inilah yang disebut pemimpin trilogi—konsep kepemimpinan yang sudah terbukti lintas zaman.

Pertama, Ing Ngarso Sung Tulodo. Di depan, ia memberi teladan. Bukan omong kosong, tapi aksi nyata. Datang lebih awal. Bekerja lebih keras. Menjaga ucapan. Menepati janji. Anggota tak perlu mendengar nasihat panjang lebar—cukup lihat bagaimana pemimpinnya bersikap, dan mereka akan mengikuti.

Kedua, Ing Madya Mangun Karso. Di tengah, ia membangun semangat. Ia hadir di sela-sela anggota, bukan di atas mereka. Mendengar curhat. Menyemangati yang lesu. Menjembatani yang berselisih. Komunikasi dua arah adalah jembatan emas yang membuat semua orang merasa diperhatikan, bukan sekadar diperintah.

Ketiga, Tut Wuri Handayani. Di belakang, ia memberi dorongan. Ia tak takut dikalahkan oleh ide-ide baru. Ia justru bahagia ketika anak buahnya tampil cemerlang. Ia memberi kepercayaan, mendelegasikan wewenang, dan membiarkan generasi muda mengembangkan sayapnya.

Dengan tiga pijakan ini, pemimpin bukanlah sosok yang otoriter, bukan pula yang lepas tangan, apalagi yang hanya sibuk dengan popularitas. Ia adalah perekat—yang membuat biduk tetap stabil, dan kiambang tetap bertaut.

Banyak organisasi hancur bukan karena masalah besar, tapi karena yang kecil-kecil dibesar-besarkan. Perbedaan pendapat dianggap pengkhianatan. Kritik dianggap serangan pribadi.

Padahal, harmoni bukan berarti semua orang harus sama. Harmoni adalah orkestra—setiap alat musik punya nada berbeda, tapi ketika dimainkan bersama dengan komposer yang baik, jadilah simfoni yang indah.

Maka ciri organisasi yang harmonis sejatinya mudah dikenali:

· Musyawarah hidup—rapat bukan formalitas, tapi ruang untuk benar-benar bertukar pikiran. Keputusan lahir dari diskusi, bukan dari gertakan.
· Saling percaya—pemimpin yakin anggota bisa bekerja, anggota yakin pemimpin punya niat baik.
· Gotong royong jalan—tak ada yang saling menjatuhkan. Jika ada yang terjatuh, ada tangan yang mengulurkan bantuan.

Di sinilah kemudian program berjalan, anggaran tepat sasaran, dan tujuan organisasi benar-benar terwujud. Bukan sekadar mimpi di atas kertas.

Tapi kenapa banyak organisasi gagal mempertahankan harmoni?

Karena ada tiga “hantu” yang selalu mengintai:

Pertama, ego dan kesombongan.
Rasa paling benar, paling berjasa, paling berhak. Akhirnya semua mau didengar, tapi tak mau mendengar. Setiap orang merasa panggung itu miliknya sendiri.

Kedua, fitnah dan perpecahan.
Di era gawai, menyebarkan kabar burung semudah membalikkan telapak tangan. Isu diadu domba, politisasi internal, kecurigaan yang tak berujung. Tanpa disadari, kita sendiri yang merusak perahu yang kita tumpangi.

Ketiga, ketidakadilan.
Ada yang diistimewakan, ada yang diabaikan. Ada yang dapat jatah, ada yang disisihkan. Ketika rasa adil hilang, maka hilang pula kepercayaan. Dan tanpa kepercayaan, organisasi hanya tinggal cangkang.

Akibatnya? Program mangkrak. Anggota apatis. Rapat-rapat berisi debat tak berguna. Dan tujuan bersama berubah jadi wacana yang tak pernah terealisasi.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Kembali ke akar.

Pemimpin harus kembali menjalankan Trilogi Kepemimpinan. Bukan sekadar slogan, tapi dihidupi setiap hari.

Anggota harus kembali mendukung yang baik, mengingatkan dengan adab, dan tak mudah diadu domba. Jangan jadi penonton yang pasif, tapi jangan pula jadi perusak yang aktif.

Tokoh dan penasehat harus kembali berperan sebagai penengah—jembatan saat terjadi kesalahpahaman, pengingat saat nilai-nilai dasar mulai luntur.

Dan generasi muda? Mereka bukanlah ancaman bagi yang tua, melainkan aset. Kreativitas mereka, semangat baru mereka, adalah bahan bakar bagi organisasi untuk terus relevan. Jangan dibiarkan menjadi generasi yang apatis—libatkan, dengarkan, dan beri mereka ruang.

Kuncinya memang ada pada satu kata: qana’ah. Kerelaan menerima peran masing-masing. Dan ikhlas—bekerja bukan karena ingin dilihat, tapi karena ingin memberi manfaat.

Di akhir tulisan ini, mari kita renungkan:

Biduk yang megah sekalipun akan tenggelam jika air tak lagi mengangkatnya.
Kiambang yang hijau subur sekalipun akan hanyut jika tak ada yang menahannya.

Tapi ketika biduk melaju dan kiambang bertaut—dengan nakhoda yang paham seni memimpin di depan, di tengah, dan di belakang—maka badai apapun bisa dilalui bersama.

Karena pada akhirnya, organisasi yang sehat bukanlah tentang siapa yang paling berkuasa atau siapa yang paling dikenal. Organisasi yang sehat adalah tentang bagaimana kita bersama-sama mengarungi lautan kehidupan, saling menguatkan, dan memastikan tak ada satu pun yang tersisihkan di tepi perjalanan.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. Ali Imran: 103)
Wallahu a’lam bishawab.

Pos terkait