MINANGKABAUNEWS.com, FEATURE –Pada suatu sore yang basah di Jakarta, di tengah riuh demonstrasi yang kian memanas, seorang perempuan bernama Ana berdiri sendirian. Di tangannya tergenggam tongkat dengan bendera merah putih yang berkibar basah kuyup diterpa hujan. Wajahnya tegar, jilbab merah muda yang membungkus kepalanya justru membuatnya terlihat semakin menonjol di tengah kerumunan yang didominasi warna gelap. Sejak hari itu, warna merah muda yang melekat padanya tak lagi sekadar pilihan kain, melainkan simbol: brave pink.
Di tempat lain, kisah tragis Affan menorehkan warna baru dalam kamus perlawanan rakyat. Jaket hijau ojek online yang dikenakannya saat ia menjadi korban demonstrasi—dilindas mobil aparat—berubah menjadi hero green. Affan gugur, tetapi jaket hijau itu menjadi penanda. Sebuah warna yang tak lagi hanya identik dengan aplikasi transportasi daring, melainkan sebuah simbol pengorbanan.
Dua kisah ini—satu tentang keberanian seorang ibu, satu lagi tentang kepergian seorang anak bangsa—melahirkan bahasa baru di ruang publik Indonesia.
Warna sebagai Senjata Sunyi
Sejak lama, masyarakat punya cara tersendiri untuk melawan ketidakadilan. Ada masa ketika puisi dan lagu dijadikan perlawanan. Ada era ketika mural di tembok kota menjadi teriakan sunyi. Kini, simbol itu menjelma sederhana: warna.
Media sosial dipenuhi unggahan yang diselimuti nuansa brave pink dan hero green. Spanduk, kaus, poster, bahkan foto profil akun berubah menjadi kanvas dua warna tersebut. Media menulis bahwa keduanya tak sekadar hiasan, tetapi lambang kekuatan. minangkabaunews melacak akarnya: satu lahir dari jilbab seorang ibu, satu lagi dari jaket seorang anak muda.
Dalam kerangka semiotika, warna tak pernah netral. Ia adalah tanda, sebuah penanda kolektif yang merangkum makna. Fajar Junaedi, pakar komunikasi dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, menyebut warna sebagai identitas kolektif: sebuah bendera tak kasatmata yang mampu mengikat ribuan orang dalam satu suara.
—
Dari Jolly Roger ke Brave Pink
Ini bukan kali pertama masyarakat Indonesia menggunakan simbol sebagai cara bicara. Kita masih ingat menjelang perayaan 17 Agustus lalu, ketika bendera bajak laut Topi Jerami dari anime One Piece dikibarkan di berbagai kota. Bendera itu, menurut laporan Tempo, menjadi metafora tajam: sebuah kritik terhadap pemerintah yang dianggap serakah, tak ubahnya para bajak laut.
Kini, Jolly Roger digantikan oleh gradasi baru—pink dan hijau. Jika bendera bajak laut menantang dengan frontal, maka warna hadir dengan subtilitas. Ia tidak berteriak, tetapi melekat pada tubuh, kain, dan layar gawai. Justru karena kesederhanaannya, perlawanan melalui warna ini menjadi lebih luas, lebih inklusif.
Solidaritas yang Menyebar
Ada yang menarik dari fenomena ini: ia lahir bukan dari panggung politik formal, melainkan dari kejadian sehari-hari. Seorang ibu di jalanan, seorang pengemudi ojek daring. Simbol besar itu lahir dari tubuh-tubuh biasa yang terlempar ke tengah pusaran peristiwa.
Dan ketika simbol itu sudah terlanjur hidup, ia tak bisa lagi dikendalikan oleh siapa pun. Masyarakatlah yang menafsirkannya, merayakannya, menyebarkannya. Brave pink dan hero green bukan lagi milik Ana atau Affan. Mereka kini milik semua orang yang merasa senasib, yang ingin menyuarakan keresahan.
Warna, Luka, dan Harapan
Perlawanan dengan warna menyimpan paradoks: ia lembut sekaligus keras, sederhana sekaligus sarat makna. Ia adalah luka yang dibalut kain berwarna. Namun, di balik itu, tersimpan juga harapan—bahwa perjuangan tak selalu harus dengan kekerasan.
Di masa depan, mungkin warna-warna lain akan muncul, membawa kisah dan simbolisme baru. Tetapi brave pink dan hero green akan selalu dikenang sebagai bab penting dalam sejarah sosial Indonesia: bab ketika rakyat menemukan bahasa baru untuk menyuarakan perlawanan—bahasa yang tak perlu diteriakkan, cukup ditunjukkan.
Karena kadang, sehelai kain berwarna mampu berbicara lebih lantang daripada sepuluh pidato panjang.






