MINANGKABAUNEWS.com, PARIWARA PEMPROV SUMBAR– Selama bertahun-tahun, pengendara yang melintasi Sitinjau Lauik harus berhadapan dengan dua momok sekaligus: tikungan maut dan gelapnya sinyal. Kini, sebuah menara setinggi puluhan meter berdiri gagah mengubah semuanya.
Bagi siapa pun yang kerap melintasi Sitinjau Lauik, tak ada yang lebih mencekam selain melaju di jalur ekstrem itu dengan ponsel yang berganti tulisan “No Service”. Jalan berkelok tajam di ketinggian itu selama ini menjadi titik buta komunikasi paling kritis di Sumatera Barat. Tepat di saat kecelakaan terjadi atau mobil tiba-tiba mogok, warga tak punya cara untuk meminta pertolongan.
Hingga Rabu pagi itu, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah berdiri tepat di bawah menara BTS Telkomsel yang baru saja menyala. Ia datang meninjau langsung, memastikan sendiri bahwa jalur yang kerap disebut “neraka bagi sinyal” itu kini telah berselimut gelombang telekomunikasi.
“Saya ingin merasakan sendiri,” ujarnya sambil memegang ponsel yang kini menunjukkan batang sinyal penuh. Di sekelilingnya, awan tipis masih bergelayut di tebing, tapi kali ini bukan kesunyian yang menyambut.
Menara yang dibangun di kawasan Taman Raya Bung Hatta ini mulai mengudara sejak 18 Maret 2026, tepat waktu menyambut arus mudik Lebaran. Hasilnya langsung terasa. Dalam catatan sementara, seribu pengguna setiap hari tercatat memanfaatkan jaringan ini, dengan jangkauan sinyal yang menjangkau hingga radius lima kilometer.
Mahyeldi tak menyembunyikan rasa syukurnya. Baginya, ini bukan sekadar soal telepon atau akses internet. Lebih dari itu, ini adalah napas keselamatan yang selama ini dirindukan. Jalur yang menjadi akses vital keluar-masuk Kota Padang ini memang punya catatan panjang soal kecelakaan. Kini, dengan komunikasi yang lancar, pertolongan bisa datang lebih cepat saat detik-detik kritis.
“Informasi yang sebelumnya sulit disampaikan, kini dapat dikomunikasikan dengan cepat, terutama saat kondisi darurat,” kata Mahyeldi dengan nada lega.
Di sisi lain, Asisten Manajer Telkomsel, Rosady, menyebut pembangunan BTS ini adalah buah sinergi antara pihaknya dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Kolaborasi yang menurutnya penting untuk terus diperkuat, mengingat tingginya mobilitas warga yang melintas di Sitinjau Lauik setiap hari.
Tak hanya meresmikan secara simbolis, Mahyeldi juga menyampaikan pesan yang tegas di akhir kunjungannya. Ia mengajak Pemerintah Kota Padang, kepolisian, hingga masyarakat untuk ikut menjaga fasilitas ini. Sebab, menara yang kini berdiri kokoh itu bukan sekadar tiang besi dan kabel—melainkan penyambung nyawa bagi siapa pun yang melintasi salah satu jalur paling ekstrem di Tanah Air.
“Ini adalah fasilitas penting bagi keselamatan masyarakat. Mari kita jaga bersama,” tegasnya.
Kunjungan yang turut dihadiri Kepala Dinas Perhubungan Sumbar, Diskominfo, dan jajaran Telkomsel itu pun berakhir. Tapi yang tertinggal di Sitinjau Lauik kini berbeda. Jalur yang dulu sunyi dari sinyal, perlahan berubah menjadi koridor yang lebih manusiawi—tempat pengendara tak lagi sendirian saat keadaan paling genting menjemput.
