Bukan di Rapat Formal! Ruang WAG DP MUI Panas, Buya Gusrizal ‘Kuliah’ soal “Tinggalkan Zakat” hingga Pimpinan Sepakat Ambil Sikap

Ketua bidang Fatwa Metodologi MUI pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa (Foto: Dok. Istimewa)

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Gedung MUI Pusat mungkin tampak tenang, Sabtu (28/2/2026) siang. Tapi di dunia maya, grup WhatsApp internal dewan pimpinan MUI Pusat mendadak berubah jadi medan diskusi yang menghangat. Pemicunya: video viral Menteri Agama, Prof Dr Nasaruddin Umar, yang dinilai mengajak umat “meninggalkan zakat”.

Bukan dalam forum formal berbalut jas dan peci, justru di kolom-kolom percakapan digital itulah para elite ulama saling melempar pandangan. Dan di tengah riuh diskusi itu, satu nama muncul sebagai “pengawal metodologi”: Buya Dr. Gusrizal Gazahar, Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat.

Grup WA yang Berubah Jadi Ruang Ijtihad

Awalnya, seorang pimpinan mengirimkan potongan video yang sedang viral. Beberapa emoji terkejut langsung membanjiri chat. Namun, Buya Gusrizal tak serta-merta ikut emosi. Ia justru membuka “pengajian digital” di ruang chat itu.

“Saudara-saudaraku, mari kita bedah dulu secara metodologis,” tulis Buya membuka analisisnya, seperti dikonfirmasi sumber internal MUI kepada MUI Digital, Sabtu (28/2/2026).

Dengan sabar, Buya mengetik panjang lebar—bukan sekadar kritik, tapi kuliah singkat ushul fiqh via WhatsApp. Ia mengurai bahwa meski niat Menag baik untuk menggenjot sedekah, cara penyampaiannya keliru secara dakwah (uslub al-khitabah fi ad-da’wah).

“Ini Pemaksaan Dalil!”

Puncak “kuliah WA” Buya Gusrizal adalah saat ia membedah satu pernyataan Menag yang paling mengganggunya: klaim bahwa “zakat tidak populer di zaman sahabat”.

“Ini yang saya sebut sebagai pemaksaan dalil mengikuti arah yang dituju,” tulis Buya dengan nada tegas di grup. “Muqaddimahnya keliru, saudara-saudara. Sejarah membuktikan sebaliknya. Justru karena zakat sangat populer dan agung, Abu Bakar sampai memerangi mereka yang enggan membayar!”

Para pimpinan MUI yang lain mulai merespons. Beberapa mengirimkan tanda setuju, yang lain menambahkan kutipan sejarah. Suasana grup yang sempat panas perlahan berubah menjadi majelis taklim virtual.

Dari Diskusi Virtual ke Sikap Resmi

Setelah berjam-jam berdiskusi—dengan Buya Gusrizal menjadi salah satu yang paling aktif memberikan masukan strategis—para pimpinan akhirnya mencapai titik temu. Mereka sepakat bahwa MUI perlu bersikap, tapi tidak dengan cara yang reaktif.

“Bukan soal niat baiknya, tapi soal menjaga pemahaman umat,” tulis salah satu pimpinan merangkum.

Buya Gusrizal kembali mengetik, kali untuk memberikan rekomendasi langkah yang patut diambil:

1. MUI perlu mengapresiasi semangat optimasi filantropi, tapi.
2. Harus meluruskan narasi “tinggalkan zakat” yang rentan salah tafsir.
3. Mengingatkan bahwa zakat adalah rukun Islam, bukan sekadar filantropi sukarela.

Apa Kata Buya di Grup?

Sumber MUI Digital yang ikut dalam grup itu membocorkan beberapa pesan kunci Buya Gusrizal:

· “Saya bisa paham konteksnya, tapi narasinya harus diluruskan.”
· “Jangan sampai karena semangat sedekah, kita justru menjatuhkan kedudukan zakat.”
· “Ini bukan sekadar salah ngomong, ini masalah metodologi dakwah yang harus dijaga.”

Dari Layar HP ke Publik

Akhirnya, kesepakatan di grup WA itu dituangkan dalam pernyataan-pernyataan resmi para pimpinan MUI, termasuk Buya Gusrizal, yang kemudian dikutip oleh MUI Digital. Yang semula hanya diskusi di ruang chat internal, berbuah menjadi sikap resmi organisasi.

“Alhamdulillah, diskusi kita hari ini produktif. Ini bukti bahwa MUI tetap waras dan menjaga marwah keilmuan,” tulis Buya menutup percakapan di grup.

Jadi, meski tidak ada rapat formal dengan meja bundar dan sound system, di grup WhatsApp itulah sejarah kecil MUI ditulis: saat para ulama berdebat, beradu argumen, dan akhirnya bersepakat—dengan Buya Gusrizal sebagai salah satu nahkoda yang menjaga agar perahu metodologi tak karam diterjang ombak viral.

Related posts