“Bukan Hanya Bedah Rumah, Ini Bedah Ketertinggalan”: Catatan Ade Herdiwansyah atas Langkah Vasko di Dharmasraya

  • Whatsapp

Oleh: Ade Herdiwansyah – Ketua PW Pemuda Muhammadiyah Sumatera Barat

Ketika nama Dharmasraya dan Kota Padang diumumkan sebagai penerima dua dari hanya sepuluh kuota nasional dalam program peningkatan kualitas permukiman dan sanitasi dari Kementerian PKP RI tahun 2025, saya tidak hanya merasa bangga—saya merasa lega. Lega karena akhirnya Sumatera Barat tidak hanya disebut dalam forum budaya dan seminar keagamaan, tapi mulai masuk peta strategis pembangunan nasional secara konkret.

Yang lebih penting: program ini bukan hadir karena proposal dari atas meja, melainkan dimulai dari suara rakyat. Dari seorang warga bernama Annisa yang menggandeng Wakil Gubernur, Uda Vasko Ruseimy, meninjau langsung kawasan Pasar Lama di Pulau Punjung, lalu menyampaikannya ke pusat. Inilah pendekatan yang saya sebut sebagai arsitektur sosial—di mana pembangunan dimulai dari mata dan telinga yang benar-benar mendengar denyut masyarakat.

Saya ingin menyampaikan apresiasi yang dalam untuk Uda Vasko. Dalam lanskap politik yang sering kali dipenuhi simbolisme dan seremoni, beliau memilih menjadi advokat lapangan. Beliau hadir bukan sekadar untuk berfoto di lokasi, tetapi mengangkat aspirasi rakyat ke kementerian dan pulang membawa hasil: bedah rumah untuk 54 keluarga, 50 unit MCK, jaringan air bersih, pengaspalan jalan, drainase lingkungan, hingga penataan kawasan seluas 15,4 hektare.

Bagi saya, ini bukan hanya tentang infrastruktur. Ini adalah bentuk pemulihan martabat.

Seringkali kita meremehkan arti sebuah rumah. Padahal, rumah adalah tempat pertama seorang anak belajar nilai, etika, bahkan bermimpi. Ketika rumah tidak layak, mimpi pun jadi sempit. Maka, ketika negara hadir dan memberikan ruang yang lebih manusiawi untuk hidup, yang diperbaiki bukan hanya dinding atau atap, tapi harapan.

Sebagai penggiat arsitektur Minangkabau dan developer yang menekankan pentingnya desain berbasis nilai lokal, saya percaya bahwa revitalisasi rumah warga di Dharmasraya ini bisa menjadi proyek percontohan. Rumah yang sehat, bersanitasi baik, dan tetap mengusung filosofi lokal seperti “alat rumah tangga bernilai budaya” akan menciptakan harmoni sosial yang lebih kuat. Rumah bukan sekadar bangunan, tapi cermin peradaban.

Saya juga melihat potensi besar multiplier effect dari proyek ini. Material akan dibutuhkan dalam jumlah besar. Tukang lokal akan terlibat. Warung makan akan hidup. Rantai nilai kecil akan bergerak. Ini pembangunan yang bukan hanya top-down, tapi menyentuh ekonomi mikro masyarakat.

Lebih jauh lagi, ini adalah langkah strategis untuk menggeser narasi Sumatera Barat ke arah yang lebih seimbang. Kita boleh tetap menyandang predikat “Serambi Mekkah”, tapi kita juga harus menjadi teras pembangunan nasional. Kita harus mampu menjaga nilai-nilai, sambil juga memastikan warganya hidup dalam kondisi yang sehat, aman, dan bermartabat.

Saya ingin mengajak semua pihak—pemerintah daerah, masyarakat sipil, dan generasi muda—untuk melihat keberhasilan ini bukan sebagai akhir, tapi sebagai awal dari pendekatan baru dalam membangun Sumbar. Yakni pembangunan yang berbasis realitas, partisipatif, dan menyentuh hal paling mendasar: keseharian hidup warga.

Terima kasih, Uda Vasko, telah membuka pintu untuk cara kerja pembangunan yang lebih konkret. Dan untuk warga Dharmasraya: ini bukan sekadar bedah rumah. Ini adalah bedah ketertinggalan.

Related posts