Bukan Terkenang Tapi Pelajaran Berpantang Hilang

  • Whatsapp
Ketum MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar Dt. Tambunan.

Oleh Buya Gusrizal Gazahar Dt. Palimo Basa — Apapun kebaikan yang tercurah ke ranah bundo ini, sering teriring dengan kalimat, “sudah melawan, tetap juga diberi”.
Dalam pergaulan di Ranah Minang, inilah yang disebut “agiah bapanokok, unjuak palatiang kecek”.

Bukankah tuan-puan yang memilih demokrasi sebagai cara mengelola negeri ini ?!
Dengan percaya diri dikumandangkan bahwa inilah negeri yang menjamin kemerdekaan berpendapat.
Ketika pilihan suatu masyarakat tidak sehaluan dengan tuan-puan, meluncurlah “caraco” kurang Pancasilais, tipis nasionalisme, anti kebhinnekaan, aneh dan berbeda bahkan sampai kepada sindiran “berubah dan tak punya tokoh yang berkaliber”.

Read More

Bisa jadi, ada yang menilai tulisan ini sebagai “negatif thinking” dan tak mau berfikir objektif bahkan bisa saja terlahir tuduhan “dendam sejarah” atau “manusia berhalusinasi yang tak sadar dengan kenyataan yang dia hadapi”.
Terserahlah…. itu hak tuan dan puan.

Hanya saja yang patut kami sampaikan bahwa manusia Minangkabau itu hidup bukan sekedar hidup. Hidup bukan sekedar untuk makan, berketurunan dan berkekayaan.
Manusia Minangkabau adalah orang-orang yang terdidik dengan prinsip keminangan yang tak akan tergadaikan karena tak ternilai oleh siapapun.
Itulah yang dia “pertongkat” di siang hari dan sebagai “kalang ulu” di malam hari.
“Adaik Basandi Syara’ – Syara’ Basandi Kitabullah – Adaik Bapaneh Syara’ Balinduang – Syara’ Mangato Adaik Mamakai” adalah prinsip yang mahalnya tak terhargai dan murahnya tak terbeli”.
Bagi putra-putri Minangkabau, prinsip itu bukan “harga mati” tapi “tak terhargai”.

Dalam panggung sejarah bangsa, tokoh-tokoh besar Minangkabau tetap membawa prinsip itu.
Ketika gerak langkah mereka masih dalam garis “pesan bundo”, tak ada bukit yang tinggi dan lurah yang dalam untuk mencapai cita-cita kehidupan.
Bukanlah karakter pemuda Minang “mendingin sebelum berenang”. “Mereka akan terjuni pusaran air walaupun harus berakit batang pisang, tekad tak pupus untuk sampai ke seberang”

Tapi ketika medan perjuangan telah menolak prinsip keminangan untuk tumbuh, tak ada beban bagi pemuda Minang untuk menjarak dari kekuasaan dan berpisah dengan jabatan karena memang bukan itu sebagai tujuan.
Inilah yang dibuktikan oleh Bung Hatta di ujung kehidupan, Syahrir di akhir perjalanan, Tan Malaka di batas pelangkahan bahkan Buya Hamka dalam gelombang perjuangan dan Buya Natsir dalam badai jihad perpolitikan.

Konsekwensi dari tegak berprinsip duduk berkejelasan itulah yang dipikul oleh masyarakat Minangkabau dari zaman ke zaman.
Itulah karakter yang terbentuk dari kekuatan iman yang telah berjalin berkulindan dengan langkah kehidupan.
Walaupun harus bertongkat paruh, kebenaran tetap diperjuangkan dan kehormatan tak boleh diperjualbelikan.

Karena itu, orang Minang tak akan terpaku dengan sikap lahiriyyah tanpa menyilau landasan bathiniyyah.
Bayang yang tersirat bahkan gerak yang tersuruk pun menjadi ukur dan jangka dalam bersikap.
Mereka tidak lah kaku dalam bergaul tapi tak pula hanyut dalam pusaran badai.
Ibarat aur di pinggir tebing, pucuk boleh meliuk-liuk menjangkau bumi tapi rumpun tegak tak akan bergeser karena ia tumpuan tebing supaya jangan runtuh.
Jadi, pekatnya darah putra-putri Minang bukanlah diukur dari sorak dan sorai di gelanggang tapi terlihat dari keteguhan menggenggam prinsip-prinsip di atas.

Akhirnya, hamba ini tetap yakin bahwa selama Minangkabau masih dengan pakaiannya lahir dan bathin, tak akan berpengaruh kepada mereka rayuan dalam berbagai rupa bahkan telisik nasab dan suku pun tidak akan berguna karena Minang itu tak sekedar garis keturunan tapi di dalam talian darah dan rahimnya, ada nilai-nilai titipan yang berpantang disia-siakan.

Jadi, bila prinsip yang dibawa dan sikap yang dipakai selama ini tak bersesuaian dengan pakaian masyarakat Minang, ambil sajalah rasa malu dari nasehat pantun berikut ini :

Bukit bunian panjang tujuh,
lalu dilipat panjang lima.
Bukan tanaman segan tumbuh,
bumi yang enggan menerima

Padang, ba’da Maghrib 9 Muharram 1443 H / 17 Agustus 2021

*/Penulis adalah Ketum MUI Sumbar yang juga penggagas Gerakan Buya Baliak Basurau

Related posts