Bukittinggi Darurat Sampah, Keberlanjutan Kota Wisata Terancam!!!

  • Whatsapp

Minangkabaunews.com Bukittinggi, dengan pesonanya yang memikat, sering kali menghadapi tantangan serius dalam hal pengelolaan sampah. Seiring dengan meningkatnya jumlah pengunjung, ketidakmampuan mengelola sampah dapat mengancam keberlanjutan lingkungan dan daya tarik pariwisata. Di susul dengan penutupan TPA Regional Payakumbuh di tutup sementara waktu Pasca bencana Longsor hingga waktu yang belum di tentukan. Di kutip dari himbauan walikota Bukittinggi melalui media Instagram, Minggu 24/12/2023.

 

Read More

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, saat ini terdapat 125.23 ton timbulan sampah harian yang dihasilkan dari kegiatan masyarakat di Bukittinggi.

Dengan jumlah penduduk sekitar 121.588 jiwa, masing-masing orang setidaknya menghasilkan satu kilogram sampah per harinya. Diantaranya 55,98% merupakan sampah oragnik yang terdiri dari makanan dan tumbuhan, dan 44,02 adalah sampah anorganik.

 

Pengelolaan sampah yang tidak memadai dapat merusak keindahan alam dan citra destinasi wisata. Apalagi di penghujung tahun yang di sambut libur panjang NATARU kunjungan wisata ke Bukittinggi akan menyebabkan volume sampah otomatis melonjak. Oleh karena itu, Bukittinggi perlu tindakan serius untuk menjaga kelestarian kota wisata.

 

Pemerintah harus lebih serius memikirkan solusi untuk pengelolaan sampah tersebut, seperti : membangun fasilitas untuk pengolahan sampah organik dan anorganik yang di kelola oleh pemko Bukittinggi tentunya agar sistem daur ulang yang efisien. Dengan melibatkan komunitas lokal dan pelaku industri pariwisata, kita dapat menciptakan program-program pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Pendidikan kepada pengunjung juga menjadi kunci, agar mereka sadar akan dampak negatif sampah terhadap lingkungan dan betul-betul berpartisipasi dalam menjaga kebersihan kota wisata yang mereka kunjungi. Sebab menghimbau masyarakat untuk mengelola sampah mandiri tanpa edukasi dan fasilitas yang memadai merupakan sesuatu yang mustahil.

 

Selain itu, pemerintah setempat harus aktif dalam memberlakukan kebijakan ketat terkait manajemen sampah. Menyediakan fasilitas sampah yang memadai, memberikan insentif bagi bisnis yang berkontribusi pada pengelolaan sampah, dan memberlakukan sanksi bagi yang melanggar aturan dapat menjadi langkah-langkah penting untuk mencapai tujuan keberlanjutan. Berkolaborasi dengan institusi pendidikan dan lembaga penelitian juga menjadi solusi dalam pengelolaan sampah maupun konservasi energi.

 

Pentingnya keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat lokal, dan pelaku industri pariwisata, tidak dapat dipandang sebelah mata. Hanya dengan kerjasama yang kuat, kita dapat memastikan bahwa kota wisata tetap indah dan lestari bagi generasi mendatang. Kota wisata tanpa pengelolaan sampah ibarat toilet hotel bintang 5 tanpa septictank Jadi, mari kita bersama-sama menjaga kebersihan dan keberlanjutan kota Bukittinggi yang kita cintai. (Nico)


Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Minangkabaunews.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Related posts