MINANGKABAUNEWS.com, BUKITTINGGI — Ada sesuatu yang istimewa dari Bukittinggi hari ini. Sabtu, 19 September 2026, di Aula Kantor MUI Kota Bukittinggi, sebuah peristiwa besar berlangsung: Musyawarah Daerah (MUSDA) MUI Kota Bukittinggi Ke-XI. Bukan sekadar agenda rutin organisasi, MUSDA ini adalah titik balik. Titik di mana Kota Bukittinggi kembali menegaskan dirinya sebagai kota ulama, kota adat, dan kota pejuang. Musyawarah Daerah MUI Kota Bukittinggi tersebut dibuka Ketum Buya Zulkarnaini didampingi Sekum Buya Ki Jal Atri Tanjung.
Ada dua alasan mengapa MUSDA kali ini layak dikenang dalam sejarah.
Pertama, MUSDA MUI Kota Bukittinggi ini adalah MUSDA pertama dari 19 kabupaten dan kota se-Sumatera Barat di tahun 2026. Bukittinggi membuka jalan, menjadi teladan dalam konsolidasi organisasi ulama di tingkat daerah. Ini bukti bahwa Bukittinggi masih menjadi jantung gerakan keulamaan di ranah Minang.
Kedua, tema yang diusung sungguh menggugah: “Menguatkan Peran Ulama, Meneguhkan Persatuan dan Mewujudkan Kemaslahatan Umat Menuju Kota Bukittinggi yang Gemilang.” Tema ini bukan retorika kosong. Ia adalah jawaban atas kegelisahan zaman. Bukittinggi hari ini adalah kota wisata dunia. Tapi di balik gemerlapnya, ada tantangan berat: krisis adab generasi muda, ancaman narkoba, judi online, dekadensi moral, dan memudarnya fungsi surau.
Di sinilah urgensi Reaktualisasi Falsafah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK).
Bukittinggi Gemilang: Bukan Sekadar Fisik, Tapi Adab
Gemilang yang dicita-citakan bukanlah gemilang karena gedungnya tinggi dan jalannya mulus. Gemilang yang hakiki adalah ketika masyarakatnya beradab.
Allah berfirman: “Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’raf: 96)
Keberkahan kota ini hanya akan datang jika ulama dan umara berjalan seiring. Ulama sebagai suluh, umara sebagai pelaksana.
Tiga Peran Strategis Ulama dalam Reaktualisasi ABS-SBK
Falsafah ABS-SBK jangan hanya menjadi tulisan di gapura. Ia harus hidup dalam kebijakan. Untuk itu MUSDA XI merumuskan tiga peran strategis ulama:
a. Ulama Sebagai Himayatul Ummah (Pelindung Umat)
Menjadi benteng terakhir umat dari aliran sesat, pergaulan bebas, dan kehancuran rumah tangga. Surau harus kembali menjadi pusat perlindungan. Satu Kelurahan Satu Surau Produktif.
b. Ulama Sebagai Ishlahul Ummah (Pendamai Umat)
Ulama harus berada di atas semua golongan. Meneguhkan persatuan. Falsafah Minang mengajarkan: “Bulek aie dek pambuluah, bulek kato dek mufakat.”
c. Ulama Sebagai Qudwatul Ummah (Teladan Umat)
Masyarakat sangat menghormati ulama. Jika ulama kompak, masyarakat kompak. Ulama jangan jauh dari pasar, jangan jauh dari panti asuhan, dan jangan jauh dari anak muda.
Roll Model Kerjasama MUI – Pemko Bukittinggi
Inilah poin paling membanggakan dan patut menjadi roll model serta percontohan bagi 19 kabupaten/kota di Sumatera Barat.
Kerjasama yang harmonis, sinergis, dan produktif antara MUI Kota Bukittinggi dengan Pemerintah Kota Bukittinggi telah terbukti nyata hasilnya. Melalui dukungan dana hibah dari Pemko Bukittinggi setiap tahunnya, program-program keumatan MUI berjalan sangat efektif. Mulai dari program dakwah, pembinaan mualaf, pelatihan penyuluh dan dai, penguatan ekonomi syariah, hingga pembinaan generasi muda di masjid dan surau, semuanya dapat terlaksana dengan baik.
Ini adalah contoh ideal dari “Umara yang memuliakan Ulama, Ulama yang menguatkan Umara.” Pemko Bukittinggi tidak memandang MUI sebagai beban, tapi sebagai mitra strategis pembangunan mental dan spiritual.
Kami di MUI Sumatera Barat sangat mengapresiasi Wali Kota Bukittinggi dan jajaran DPRD yang memiliki komitmen tinggi terhadap pembinaan umat. Model kerjasama melalui dana hibah yang transparan dan berorientasi pada kemaslahatan umat ini sangat layak dijadikan percontohan nasional.
Ini adalah bukti nyata bahwa ketika ABS-SBK diimplementasikan dalam tata kelola pemerintahan, maka keberkahan akan datang.
MUSDA XI MUI Kota Bukittinggi 2026 adalah tekad kita bersama. Dimulai dari kota yang pertama bermusyawarah, dengan kerjasama terbaik antara ulama dan umara, kita kembalikan Bukittinggi sebagai Kota Haramain-nya Sumatera.
Kota yang gemilang bukan karena wisatanya saja, tapi gemilang karena warganya beriman, beradat, dan bermartabat. Dari Bukittinggi untuk Sumatera Barat, dari ABS-SBK untuk Indonesia.







