Painan – Tradisi Balimau Paga yang berlangsung khidmat di Mesjid Akbar Baiturrahman Painan, Senin (10 Februari), menjadi momentum penting dalam menyambut bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Kegiatan sarat nilai adat dan religi tersebut dihadiri langsung oleh Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, bersama unsur Forkopimda serta berbagai elemen masyarakat yang memadati area masjid dan kompleks pemakaman.
Kehadiran Bupati Hendrajoni sejak awal acara menjadi perhatian masyarakat, karena orang nomor satu di Kabupaten Pesisir Selatan itu tampak menyatu dengan warga, mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan penuh khidmat sebagai bentuk komitmennya dalam menjaga dan melestarikan tradisi adat yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat Nagari Painan.
Selain Bupati, kegiatan tersebut juga dihadiri anggota DPRD dari Dapil I Pesisir Selatan, Ketua LKAAM Pesisir Selatan, Ketua KAN Nagari Painan Syafrizal Ucok, para ninik mamak, alim ulama, tokoh masyarakat, serta Bundo Kanduang yang secara bersama-sama menunjukkan dukungan nyata terhadap pelestarian tradisi Balimau Paga sebagai bagian dari identitas budaya Minangkabau.
Dalam sambutannya, Hendrajoni menegaskan bahwa Balimau Paga bukan sekadar tradisi seremonial tahunan, melainkan warisan budaya yang sarat makna dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, khususnya di Nagari Painan, sehingga keberadaannya harus terus dijaga dan diwariskan lintas generasi.
Ia menyampaikan bahwa tradisi Balimau Paga merupakan simbol pembersihan diri, baik secara lahir maupun batin, dalam menyongsong bulan suci Ramadan, sehingga setiap individu diharapkan mampu memasuki bulan penuh berkah tersebut dengan hati yang bersih dan niat yang tulus untuk meningkatkan kualitas ibadah.
“Balimau Paga adalah salah satu tradisi yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, khususnya di Pesisir Selatan. Tradisi ini bukan sekadar ritual membersihkan pagar kuburan menjelang bulan suci Ramadan, tetapi merupakan simbol nilai-nilai luhur yang kita warisi dari nenek moyang,” ujar Hendrajoni di hadapan masyarakat.
Menurutnya, melalui kegiatan Balimau Paga, masyarakat diajarkan untuk selalu menghormati dan mendoakan arwah leluhur yang telah mendahului, sekaligus mengingatkan bahwa hubungan antara generasi terdahulu dan generasi sekarang tidak pernah terputus oleh waktu, melainkan tetap terjalin melalui doa dan penghormatan.
Hendrajoni menjelaskan bahwa tradisi ini juga menjadi wahana memperkuat nilai adat dan tradisi yang diwariskan kepada generasi penerus, sehingga anak-anak muda tidak tercerabut dari akar budaya mereka sendiri meskipun hidup di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat.
Ia merinci setidaknya terdapat tiga makna penting dalam pelaksanaan Balimau Paga, yang pertama adalah sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur melalui doa bersama serta pembersihan area makam sebagai simbol bakti dan rasa terima kasih atas perjuangan mereka di masa lalu.
Makna kedua, lanjutnya, adalah mempererat tali silaturahmi serta memperkuat semangat gotong royong di tengah masyarakat tanpa memandang latar belakang, karena dalam tradisi ini seluruh elemen masyarakat bergotong royong membersihkan pagar makam dengan penuh kebersamaan.
Makna ketiga adalah sebagai bentuk persiapan diri menyambut Ramadan dengan hati yang bersih, penuh keikhlasan, dan semangat ketakwaan, sehingga ibadah yang dijalankan nantinya benar-benar dilandasi niat yang suci dan semangat memperbaiki diri.
“Membersihkan pagar adalah simbol dari membersihkan hati kita dari segala kotoran dan dosa,” tegas Hendrajoni dengan penuh penekanan, yang disambut anggukan dan apresiasi dari para ninik mamak serta tokoh masyarakat yang hadir.
Bupati juga menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya kepada masyarakat Nagari Painan yang terus berkomitmen menjaga dan melestarikan tradisi Balimau Paga di tengah derasnya arus modernisasi yang sering kali menggerus nilai-nilai lokal dan kearifan tradisional.
Menurut Hendrajoni, kemajuan daerah tidak harus mengorbankan nilai-nilai budaya yang menjadi identitas masyarakat, karena justru dengan menjaga tradisi dan adat istiadat, suatu daerah akan memiliki karakter kuat yang membedakannya dari daerah lain.
“Di tengah arus modernisasi yang begitu deras, kearifan lokal seperti ini harus terus kita jaga dan wariskan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman,” katanya dengan penuh semangat.
Kepada generasi muda, Hendrajoni secara khusus mengajak agar tidak hanya menjadi penonton dalam kegiatan adat dan budaya, melainkan turut aktif berpartisipasi, mengambil peran, dan menjadi pelopor dalam pelestarian tradisi Balimau Paga di masa mendatang.
Ia menegaskan bahwa nilai kepedulian, gotong royong, dan spiritualitas yang terkandung dalam Balimau Paga sangat relevan dengan kehidupan modern, karena masyarakat yang maju adalah masyarakat yang tetap berakar pada nilai-nilai luhur dan etika sosial yang kuat.
Tak hanya itu, Hendrajoni juga berpesan kepada ninik mamak, alim ulama, dan seluruh tokoh masyarakat agar terus membimbing generasi muda untuk mencintai serta melestarikan adat istiadat sebagai benteng moral dan identitas budaya Minangkabau.
“Adat nan indak lakang dek paneh, indak lapuak dek ujan, harus terus kita jaga dan lestarikan dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya mengutip falsafah adat Minangkabau yang sarat makna.
Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, lanjutnya, akan terus mendukung berbagai upaya pelestarian budaya dan tradisi lokal melalui kebijakan, pembinaan, serta dukungan terhadap kegiatan adat yang menjadi ciri khas masyarakat setempat.
Hendrajoni menegaskan bahwa pembangunan fisik dan infrastruktur yang terus dilakukan pemerintah daerah harus berjalan seiring dengan pembangunan mental dan spiritual masyarakat, sehingga kemajuan yang dicapai tidak hanya bersifat material, tetapi juga berakar pada nilai agama dan adat.
Ia juga menyampaikan bahwa kegiatan seperti Balimau Paga memiliki potensi besar untuk memperkuat identitas daerah sekaligus menjadi daya tarik budaya yang dapat memperkenalkan kekayaan tradisi Pesisir Selatan kepada masyarakat luas.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati tampak berbaur langsung dengan masyarakat, ikut menyaksikan proses pembersihan pagar makam, serta menyapa para ninik mamak dan Bundo Kanduang sebagai bentuk penghormatan terhadap struktur adat yang selama ini menjadi penopang kehidupan sosial masyarakat.
Kehadiran Hendrajoni tidak hanya sebagai kepala daerah, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga kesinambungan nilai-nilai budaya dan adat istiadat yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Di akhir sambutannya, Hendrajoni berharap melalui pelaksanaan Balimau Paga di Mesjid Akbar Baiturrahman Painan tersebut, seluruh masyarakat dapat mempersiapkan diri dengan lebih baik dalam menyambut bulan suci Ramadan dengan hati yang bersih dan penuh ketakwaan.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia, tokoh adat, dan masyarakat yang telah bekerja keras menyukseskan kegiatan tersebut sehingga berlangsung tertib, khidmat, dan penuh makna kebersamaan.
“Semoga amal ibadah kita diterima oleh Allah SWT, dan semoga Nagari Painan serta Kabupaten Pesisir Selatan semakin maju dan berkembang dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan agama,” tutup Hendrajoni dengan penuh harap.
Tradisi Balimau Paga tahun ini pun menjadi bukti nyata bahwa di bawah kepemimpinan Bupati Hendrajoni, pelestarian adat dan budaya tetap menjadi prioritas penting dalam membangun Kabupaten Pesisir Selatan yang maju, religius, dan berakar kuat pada jati diri Minangkabau.









