Buya Gusrizal Bongkar ‘Keruwetan’ Haji: Pembimbing di Lapangan Tak Cukup Bekal, Jemaah Jadi Korban: Momen Orang Makan Snack di Samping Buya Bikin Netizen Terbelah

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Geger! Di tengah Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VII DPR RI yang berlangsung serius di Senayan, belum lama ini seorang ulama karismatik asal Ranah Minang justru melontarkan fakta mencengangkan yang selama ini tersembunyi di balik hiruk-pikuk ibadah haji. Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa yang juga menjabat Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat dengan tegas membongkar “keruwetan” yang selama ini membelit para pembimbing ibadah di Tanah Suci. Bahkan, saking beratnya tantangan di lapangan, para pembimbing disebut-sebut “tidak cukup bekal” untuk menjawab kegalauan jemaah.

Duduk di kursi panas di hadapan para anggota dewan, Buya Gusrizal mengawali paparannya dengan nada prihatin yang menggetarkan ruangan. Menurutnya, selama ini publik hanya melihat gemerlapnya ritual haji dari layar kaca, tanpa mengetahui betapa “keringnya” pemahaman fikih yang dimiliki oleh para ujung tombak pelayanan ibadah di Mekkah dan Madinah.

“Pembimbing ibadah di lapangan itu tantangannya luar biasa! Mereka tidak punya akses mudah ke kitab dan berbagai rujukan seperti halnya para pengkaji di balik meja. Mereka terpaksa bergantung pada wawasan yang sudah ada untuk memberi penjelasan berdasarkan realitas yang dihadapi,” ujar Buya dengan suara lantang yang menggema di ruang sidang.

Bayangkan! Ribuan jemaah yang datang dari berbagai penjuru Nusantara dengan latar belakang pemahaman yang berbeda-beda, bergantung pada segelintir pembimbing yang ternyata tidak dipersiapkan dengan cukup matang. Alih-alih mendalami fatwa-fatwa fikih yang krusial, waktu dan tenaga para pembimbing justru terkuras habis untuk mengatur jadwal dan barisan jemaah. Ini biang kerok munculnya berbagai persoalan dan kebingungan di kalangan jemaah.

Fenomena “murur” dan “tanazul” yang kini akrab di telinga jemaah haji pun menjadi sorotan tajam. Buya mengungkap fakta mengejutkan bahwa secara bahasa Arab, “murur” berarti “lewat”. Namun tahukah Anda? Di Arab Saudi, istilah ini ternyata merujuk pada “lalu lintas”, sehingga “rajul murur” berarti “polantas” atau polisi lalu lintas.

“Banyak jemaah dan bahkan pembimbing yang tidak memahami maksud ini, padahal ini menyangkut masalah fikih yang serius,” terang Buya dengan mimik wajah yang menunjukkan kekhawatiran mendalam.

Tak berhenti di situ, polemik soal waktu wukuf di Arafah juga diangkat. Informasi fikih yang diterima jemaah menyatakan bahwa ma’ukuf (berada) di Arafah harus dilakukan sebelum waktu Maghrib. Hal ini menimbulkan kegalauan luar biasa bagi jemaah yang tidak sampai ke Arafah sebelum Maghrib. Meskipun isu ini sudah dijawab, Buya menekankan perlunya sebuah fatwa umum yang mudah dipahami oleh semua pembimbing ibadah agar tidak terjadi perdebatan berkepanjangan di lapangan.

Sementara itu, istilah “tanazul” yang tengah ramai diperbincangkan terkait skema kepulangan jemaah juga mendapat perhatian. Buya menjelaskan bahwa makna asal tanazul adalah “mundur dari hak”. Dalam konteks haji, tanazul yang ditetapkan merujuk pada orang yang telah mundur dari haknya untuk mabit (bermalam) di Mina. Pemerintah Arab Saudi, tegas Buya, tidak memberikan kelonggaran bagi skema tanazul yang bersifat bolak-balik (ulang-alik) karena telah diatur sedemikian rupa.

MOMEN KOCAK ORANG DI SAMPING BUYA: NETIZEN SALFOK!

Namun yang membuat jagad maya heboh bukan hanya isi pernyataan Buya Gusrizal! Mata netizen tiba-tiba teralihkan pada sosok di sampingnya. Di saat Buya Gusrizal sedang asyik menyampaikan paparan panjang dengan penuh kharisma, Prof. Dr. H. M. Asrorun Ni’am Sholeh, M.A yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Fatwa MUI tertangkap kamera sedang asyik menikmati hidangan dan minuman di tengah rapat.

Netizen pun sontak terbelah. Sebagian menganggap momen ini wajar karena rapat berlangsung panjang, namun tak sedikit yang menyoroti ironi di balik adegan tersebut. “Satu ulama sedang berjuang membongkar masalah haji, ulama lain seperti orang lapar!” komentar salah satu warganet di kolom media sosial. Yang lain berusaha membela, “Mungkin beliau sedang beristirahat sejenak, namanya juga rapat maraton.” Tidak sedikit yang mencibir adab Ketua Bidang Fatwa tersebut

Paparan Buya Gusrizal ini sontak membuka mata para anggota dewan bahwa persoalan ibadah haji tidak hanya sekedar teknis operasional, tetapi juga membutuhkan pemahaman fikih yang mendalam dan terstruktur bagi para pembimbing di garis depan.

Kini publik menunggu langkah konkret Komisi VII DPR RI dan MUI untuk menjawab keruwetan yang telah dibongkar—sebelum kebingungan jemaah berubah menjadi kegaduhan yang lebih besar di Tanah Suci.

Simak terus update selanjutnya hanya di MINANGKABAUNEWS.com.

 

Pos terkait