Buya Gusrizal Buka Suara: Jangan Nikah Kalau Masih Kekanak-kanakan! Ini Bahaya yang Mengintai Rumah Tangga”

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, BUKITTINGGI — Pernikahan bukan soal umur, melainkan soal kedewasaan. Itulah pesan tegas yang disampaikan Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, dalam pengkajian Fiqh keluarga di Masjid Surau Buya Gusrizal, Kota Bukittinggi, belum lama ini.

Menurut Buya, banyak orang salah kaprah mengukur kesiapan menikah hanya dari angka tahun kelahiran. Padahal, dalam Islam tidak ada batasan usia minimal maupun maksimal untuk menikah. Mengapa? Karena umur tidak menjamin apa-apa.

“Menghadapi persoalan rumah tangga bukan dengan kepintaran saja, tetapi dengan kedewasaan,” ujar Buya mengawali tausiyahnya.

Ia mengutip firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 6 yang berbicara tentang anak yatim. Di ayat itu, Allah memerintahkan agar menguji anak yatim hingga mereka sampai pada masa pernikahan. Lalu ada satu kata kunci yang sangat penting: rusdun.

“Apa itu rusdun? Yaitu kematangan berpikir, kematangan sikap, dan kemampuan menghadapi persoalan,” jelasnya.

Allah berfirman, “Fain anastum minhum rusda” – jika kamu merasa damai dan tenang melihat mereka telah mencapai tingkat kedewasaan, maka serahkanlah harta mereka. Artinya, indikator menikah bukanlah usia, melainkan rusdun.

“Lihatlah anak kita, pantas tidak menikah? Tandanya sudah muncul rusdun belum? Pemikiran yang tajam, matang, sikap yang bijak. Tapi kalau masih kekanak-kanakan, walaupun umur 40 tahun, susah,” tegas Buya.

Pendidikan Gagal Bentuk Karakter

Lebih lanjut, Buya Dr. Gusrizal mengkritik keras sistem pendidikan saat ini. Menurutnya, pendidikan hari ini tidak membentuk karakter rusdun.

“Bayangkan anak sudah tamat S1 macam-macam, tapi tidak punya rasa malu. Bertindak di luar kepatutan seorang yang berilmu. Tidak bisa memilah mana yang patut dikerjakan, mana yang mendatangkan mudarat, mana yang manfaat,” sesalnya.

Ia menyebut bahwa orang yang tidak matang karakternya akan mudah diseret oleh siapa saja di sekitarnya. “Orang itu punyo pribadi bagaikan angin kancang. Mudah terbawa,” ujarnya dalam dialek Minangnya.

Hal inilah, kata Buya, yang menjadi salah satu penyebab maraknya penyalahgunaan narkoba, LGBT, tawuran, dan perbuatan asusila di kalangan anak muda.

“Itu karena pendidikan kita tidak membuat orang menjadi matang secara karakter. Kita cenderung menghindari nilai-nilai agama dalam membentuk kepribadian. Semakin dihindari nilai-nilai agama, orang akan semakin tidak matang sebagai manusia,” bebernya.

Bahkan, Buya tidak segan menyebut bahwa kegagalan ini juga termasuk kegagalan ulama dalam mendidik umat, termasuk masjid dan surau yang belum mampu membentuk pribadi yang dewasa.

Pacaran vs Rumah Tangga: Beda Dunia

Di akhir tausiyahnya, Buya Gusrizal mengingatkan bahwa jangan pernah membayangkan rumah tangga akan kosong dari tantangan. Butuh kesiapan, dan kesiapan itu datang dari kedewasaan.

“Jangan masuk ke rumah tangga dengan gaya kekanak-kanakan. Jangan bayangkan era pacaran yang haram itu akan terus berlanjut ke pernikahan. Tidak akan berkelanjutan,” tegasnya.

Saat berpacaran, orang bisa saling menjaga karena bertemu hanya satu atau dua jam. Tapi setelah menikah, hidup bersama 24 jam, semua drama dan topeng akan terbuka.

“Yang rapi keliatan rapi, yang malas keliatan malas. Karena masing-masing tumbuh dari lingkungan berbeda, asupan pendidikan berbeda, bahkan keluarga berbeda. Mau diseragamkan dalam satu rumah tangga? Tidak ada itu,” pungkasnya.

Pengkajian yang berlangsung di Surau Buya Gusrizal itu dihadiri puluhan peserta dari berbagai daerah dan menjadi bagian dari program rutin kajian fiqih keluarga yang digagas MUI Pusat.

Related posts