MINANGKABAUNEWS.com, BUKITTINGGI — Sebuah momen haru dan penuh makna tergambar ketika Rasulullah SAW meminta sahabatnya, Abdullah bin Mas’ud, untuk membacakan Al-Quran kepada beliau. Bukan karena tidak hafal, melainkan karena beliau senang mendengarkan firman Allah dari lisan orang lain. Namun, saat ayat ke-41 Surat An-Nisa dilantunkan, air mata Rasulullah tiba-tiba mengalir. Apa yang membuat beliau menangis?
Di tengah pengajian Fiqhul Qulub yang digelar di Masjid Surau Buya Gusrizal, Kota Bukittinggi, Sabtu (4/4/2026), Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, mengupas tuntas kisah luar biasa ini.
Bukan karena Sedih, tapi karena…
Menurut Buya Gusrizal, tangisan Rasulullah saat mendengar firman Allah, “Fakaifa idza ji’na min kulli ummatin bisyahidin wa ji’na bika ‘ala haaula’i syahida” (Bagaimanakah apabila Kami datangkan seorang saksi dari setiap umat dan Kami datangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka), bukanlah tangisan biasa.
“Dua kemungkinan makna di balik tangisan beliau,” jelas Buya. “Pertama, tangisan syukur atas anugerah Allah yang begitu agung. Kedua—dan ini yang paling mungkin—adalah tangisan karena takutnya memikul tanggungjawab yang begitu berat di hadapan Allah.”
Pelajaran Pedas bagi Para Pejabat dan Pemimpin
Dengan gaya ceramahnya yang khas dan menusuk, Buya Gusrizal langsung menarik benang merah ke realitas kekinian. Ia menyoroti betapa jauh perbedaan pola pikir umat saat ini dengan akhlak Rasulullah.
“Lihatlah kita sekarang. Ketika mendapatkan jabatan, pangkat, atau kedudukan, apa yang kita lakukan? Traktir teman, bergembira ria, bangga dengan baju dinas, dan merasa terpandang,” ujarnya dengan nada prihatin.
“Padahal Rasulullah—makhluk paling mulia di sisi Allah—justru menangis saat menerima kehormatan luar biasa. Beliau menangis karena takut tidak mampu memikul tanggungjawab. Sementara kita? Terbahak-bahak karena dapat fasilitas dan kekuasaan. Jauh sekali, bagai siang dan malam!”
Adab Mendengar yang Hilang
Dalam kajiannya, Buya juga mengkritik fenomena “serba tahu” yang menjangkiti banyak kalangan, terutama para pemimpin dan pejabat. Ia mengingatkan bagaimana Rasulullah yang derajatnya tak tertandingi justru meminta untuk mendengarkan bacaan Al-Quran dari sahabatnya.
“Karakter orang beriman adalah yastami’una al-qaula—mendengar dengan seksama, memfokuskan seluruh potensi diri untuk memahami, bukan sekadar mendengar lalu menggurui,” tegasnya.
Ia menyayangkan banyaknya elite dan tokoh publik yang alergi dikritik, enggan mendengar, dan bertindak seolah-olah tahu segalanya. “Mendengar itu penting. Tapi bangsa ini kekurangan orang yang pandai beristimak (menyimak dengan sungguh-sungguh).”
Saksi di Atas Saksi: Kemuliaan yang Berat
Buya menjelaskan bahwa ayat tersebut berbicara tentang dahsyatnya Hari Kiamat. Setiap umat akan didatangkan dengan nabi mereka sebagai saksi. Kemudian, Nabi Muhammad SAW didatangkan sebagai saksi atas para nabi tersebut. Para nabi sebelumnya pun akan meminta kesaksian dari Rasulullah SAW.
“Bayangkan, para nabi pilihan Allah bergantung pada kesaksian Muhammad SAW. Itu kedudukan yang luar biasa. Tapi justru di situlah letak tanggungjawab besar,” katanya.
Umat Wasath: Bisa Jadi Saksi, Asalkan…
Lebih lanjut, Buya menjelaskan bahwa umat Islam juga diberi posisi sebagai saksi atas umat-umat lain karena kedudukannya sebagai ummatan wasatha. Namun, ia memperingatkan agar makna wasath tidak disalahartikan.
“Umat wasath bukanlah umat yang toleran dengan cara mengorbankan prinsip. Bukan umat yang ikut-ikutan merayakan Natal agama lain atau kompromi dengan kemaksiatan. Umat wasath adalah umat yang tegak lurus di atas kebenaran, adil, dan berimbang. Hanya umat seperti itulah yang bisa menjadi saksi dan ukuran kebenaran,” tegasnya.
“Kalau umatnya mudah diseret arus, mana bisa jadi saksi?”
Mengakhiri tausiyahnya, Buya Gusrizal mengajak seluruh jamaah untuk merenung: sejauh mana kita benar-benar mewarisi akhlak dan semangat Rasulullah?
“Apakah kita layak menyandang gelar umat Muhammad? Apakah kita mau belajar kembali? Atau justru semakin jauh dari teladan beliau?” pungkasnya.






