Buya Gusrizal Gazahar Bongkar Bahaya Tersembunyi Riya dan ‘Teman’ Setan yang Selalu Membisiki Manusia

  • Whatsapp
Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa (Foto: Dok. Istimewa)

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Ulama kharismatik Minangkabau sekaligus Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, mengupas tuntas bahaya laten riya dan peran qarin (teman setan) dalam kajian rutin di Masjid Surau Buya Gusrizal, baru-baru ini.

Mengawali tausiyahnya, Buya mengingatkan kembali sebuah hadis Nabi tentang tiga golongan manusia yang amalnya sia-sia di hari kiamat: orang alim yang belajar dan mengajar Al-Qur’an agar dipanggil qari; pejuang yang berjihad agar disebut syuja (pemberani); dan dermawan yang berinfak agar dijuluki karim (pemurah). Ketiganya mendapat sanjungan di dunia, namun di akhirat, Allah berlepas diri dari amal mereka karena niat yang salah .

“Saya kalau dipersekutukan dengan yang lain, Aku tidak butuh sekutu. Amal itu Kuberikan untuk sekutu saja, dan Aku berlepas diri,” kutip Buya dari hadis qudsi .

Buya menegaskan, riya adalah ibarat ihbatul amal—penghancur amal. Ia bagaikan orang menabung, tapi ketika tabungan dibuka, tidak ada isinya. Kerugian di akhirat itulah yang tidak bisa lagi ditebus .

Lebih lanjut, Buya membahas makna qarin dalam QS An-Nisa ayat 38 yang menjadi inti kajian. Beliau mengisahkan dialog antara Rasulullah SAW dan Ummul Mukminin Aisyah RA, saat Aisyah cemburu karena Nabi keluar malam. Rasulullah bertanya, “Apakah setanmu telah datang kepadamu?” Aisyah kaget, “Apakah saya punya setan?” Rasul menjawab, “Iya.” Bahkan Nabi pun mengakui memiliki qarin, hanya saja qarin beliau telah masuk Islam karena pertolongan Allah .

Buya menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki pendamping dari golongan jin yang senantiasa membisikkan was-was . Qarin inilah yang mendorong manusia pada kedurhakaan, membuat indah kemaksiatan, dan menghalangi dari jalan Allah . Dalam kajian tafsir, kata qarin di sini dimaknai sebagai setan yang selalu menyertai dan menjadi “seburuk-buruk teman” .

Buya juga membedakan riya dan sum’ah—dua penyakit hati yang kerap beriringan. Riya (dari kata raa-yaro/melihat) adalah mempertontonkan amal agar dipandang mata dan mendapat pujian. Sedangkan sum’ah (dari sam’un/mendengar) adalah sengaja memperdengarkan atau menceritakan amal agar orang yang mendengar memujinya. “Kalau bahasa zaman sekarang, ini namanya pencitraan,” tegas Buya .

Salah satu contoh nyata yang diingatkan Buya adalah saat berbagi foto dan video ibadah di media sosial. Jika niat bergeser kepada pujian manusia, maka dikhawatirkan dapat menghilangkan nilai pahala ibadah tersebut . Untuk itu, beliau mengajak para jamaah agar selalu membersihkan amal dari riya dan sum’ah, dengan menjadikan niat semata-mata karena Allah. Wallahu a’lam bish shawab.

Related posts