Buya Gusrizal Gazahar Bongkar Rahasia Syekhul Azhar yang Diam-diam Sedekahkan Cek Jutaan untuk Kampus

  • Whatsapp
Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa (Foto: Dok. Istimewa)

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Seorang ulama besar ternyata menyembunyikan kebaikannya begitu rapat. Bahkan sopirnya sendiri dilarang mengantarnya ke kampung halaman di hari libur.

Dahulu, di sebuah kota yang hangat dengan sinar matahari pagi, hiduplah Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu kesayangan Rasulullah. Penduduk di sekitarnya, yang banyak terdiri dari fuqara dan masakin, seringkali mendapati kejutan di depan pintu rumah mereka setiap pagi. Sebuah amplop berisi uang menanti di balik pintu, tanpa ada yang tahu siapa yang menaruhnya. Setelah Hasan wafat, tradisi misterius itu pun lenyap. Barulah penduduk menyadari, selama ini Hasanlah yang diam-diam berbagi tanpa ingin diketahui siapa pun.

Kisah serupa terulang berabad-abad kemudian di Mesir, tepatnya pada sosok Syekhul Azhar, Syekh Jadul Haq Ali Jadil Haq. Beliau adalah seorang ulama yang disegani, bahkan Presiden Mubarak pun tidak berani bertindak seenaknya terhadap Al-Azhar pada masanya. Rumah beliau sederhana, berada di lantai lima, jauh dari kemewahan layaknya pejabat setingkat perdana menteri.

Suatu ketika, Syekh Jadul Haq berkunjung ke sebuah negara kaya. Sang kepala negara memberinya sebuah cek pribadi sebagai hadiah. Beliau menolak dengan halus, namun karena terus dipaksa, akhirnya cek itu diterima. Namun, tanpa sepengetahuan siapa pun, di dalam mobil bersama rombongan, beliau menyerahkan cek tersebut kepada Dr. Abdul Fattah Husaini Asyikh, salah seorang dosennya yang saat itu menjabat rektor Al-Azhar.

“Ambil cek ini. Masukkan seluruhnya ke kas kampus Al-Azhar,” pesan Syekh Jadul Haq dengan tenang. “Engkau tidak perlu menceritakan bahwa ini hadiah raja untuk saya. Ceritakanlah setelah saya meninggal.”

Dr. Abdul Fattah pun menyimpan amanah itu. Barulah setelah Syekh Jadul Haq tiada, kisah itu terungkap. Cek senilai jutaan itu telah mengalir sepenuhnya untuk kemaslahatan kampus, tanpa tercatat nama sang syekh sebagai penerima.

Bukan hanya dalam hal harta. Kesederhanaan beliau juga tampak dari kebiasaannya saat libur tiba. Meski memiliki sopir pribadi yang digaji, Syekh lebih memilih pergi ke kampung halamannya seorang diri. Sopirnya yang hormat pernah menawarkan diri untuk mengantar.

“Tidak,” jawab Syekh lembut. “Kamu punya keluarga. Hari libur bukan jam dinas dan bukan waktu tugasmu. Biarlah anakku yang ingin berbuat baik kepada bapaknya.”

Maka, di hari libur, beliau tidak menggunakan mobil dinas maupun sopir. Beliau hanya ingin beristirahat di kamar kampungnya yang reot, dengan tempat tidur dan lemari usang—tempat yang paling membuatnya merasa pulang.

Buya Dr. H. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, ulama kharismatik asal Ranah Minang yang kini menjabat Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, menyampaikan kisah ini dalam pengkajian Sirah Nabawiyah di Masjid Surau Buya Gusrizal, Kota Bukittinggi. Beliau mengingatkan bahwa orang-orang seperti Hasan bin Ali dan Syekh Jadul Haq adalah teladan tentang bagaimana kebaikan sejati tidak perlu diketahui orang lain.

“Mereka mengambil pelajaran dari sabda Nabi,” ujar Buya. “Di antara tujuh golongan yang dinaungi Allah adalah seseorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, lalu tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan tangan kanan.”

Buya juga mengingatkan bahaya penyakit kekikiran yang justru sebaliknya. “Nabi bersabda, ‘Penyakit apa yang lebih berbahaya daripada kikir? Ia telah membinasakan orang sebelum kalian, seperti Qarun.’ Kekikiran bukan sekadar menahan harta, tapi bisa memutus silaturahim dan menjerumuskan pada tindakan durjana.”

Di era pencitraan seperti sekarang, Buya Gusrizal menekankan agar kisah-kisah ini menjadi cermin bagi diri sendiri, bukan alat untuk menilai orang lain. “Kita sering dangkal. Melihat orang tak tampak berbagi, langsung dilabel kikir. Padahal bisa jadi ia menyembunyikan kebaikannya seperti Hasan atau Syekh Jadul Haq. Kebaikan mereka baru tercium setelah mereka tiada.”

Maka, ketika pintu pagi terbuka dan uang misterius itu tak lagi muncul, atau ketika sebuah cek besar mengalir ke kampus tanpa nama pemberi, barulah kita belajar: orang yang paling ikhlas adalah yang paling tidak ingin namanya dikenang.

Related posts