Buya Gusrizal Nasehati Pemimpin yang Fasilitasi Gaya Hidup Bebas tapi Biarkan Remaja Jauh dari Ulama

  • Whatsapp
Ketua bidang Fatwa Metodologi MUI pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa (Foto: Dok. Istimewa)

MINANGKABAUNEWS.com, BUKITTINGGI — Ketua Bidang Fatwa dan Metodologi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, melontarkan kritik tajam kepada para pemimpin yang dinilai lalai dari tanggung jawab syariat. Penegasan ini disampaikan dalam pengkajian Fikih Keluarga yang digelar di Masjid Surau Buya Gusrizal, Kota Bukittinggi.

Dalam ceramahnya, Buya Gusrizal menyoroti ironi yang terjadi di tengah masyarakat: para pemimpin rajin membangun gedung, menggelar acara adat, dan menyambut para penjilat, namun enggan membuka ruang bagi ulama untuk membina generasi muda.

“Banyak pemimpin yang merasa sudah menjalankan tugasnya karena bersandar pada undang-undang dan peraturan. Tapi pernahkah mereka bertanya kepada ulama, apa tugas yang dibebankan Allah atas amanah yang mereka emban?” ujar Buya Gusrizal.

Ia mengingatkan bahwa di hadapan Allah kelak, pemimpin tidak akan diselamatkan oleh keputusan presiden, perda, atau instruksi menteri. Yang akan dimintai pertanggungjawaban adalah amanah syariat yang dibebankan kepada mereka sebagai pemimpin umat.

Buya Gusrizal juga menyentil kecenderungan pemimpin yang lebih memilih mendengar orang-orang yang memuji-muji mereka ketimbang ulama yang berbicara jujur. Menurutnya, para “tim sukses” yang bersorak-sorak di panggung kampanye itulah yang kemudian mendominasi lingkaran pemimpin setelah mereka berkuasa — dan mereka tidak pernah bebas dari kepentingan pribadi.

“Ulama yang mengerti beratnya terjun ke dunia politik yang sudah tidak mengenal rahmat dan akhlak, mereka cenderung hanya berada di posisi menjaga nilai. Tapi justru yang seperti itu tidak akan mau bersorak-sorak,” tegasnya.

Salah satu kritik paling menohok Buya Gusrizal adalah soal ketimpangan fasilitas. Ia mempertanyakan mengapa pemerintah begitu bersemangat menyediakan fasilitas senam pagi dengan daya tarik yang dipercantik, sementara majelis ilmu dibiarkan sepi tanpa perhatian.

“Fasilitas untuk senam-senam pagi tidak cukup hanya dengan masjid besar. Tapi daya tarik untuk orang hadir di majelis ilmu tidak pernah dibantu,” sindir Buya Gusrizal.

Lebih jauh, ia menyoroti fenomena ibu-ibu yang diajak melonjak-lonjak di muka umum dalam acara-acara publik yang bahkan difasilitasi aparat, sementara nilai-nilai *sumbang duo baleh* — kearifan lokal Minangkabau tentang tata krama — terus digembar-gemborkan oleh pemimpin yang sama.

“Satu sisi kita agungkan *sumbang duo baleh*, tapi di sisi lain yang seperti itu dibiarkan, bahkan difasilitasi. Apa artinya itu semua?” ujarnya.

Buya Gusrizal juga menekankan bahwa kerusakan rumah tangga saat ini banyak bersumber dari lingkungan luar, bukan semata dari dalam keluarga itu sendiri. Ia mencontohkan anak yang jatuh ke pergaulan bebas dan narkoba meski orang tuanya tidak pernah memberikan contoh buruk di rumah.

“Bagaimana kita menjaga rumah tangga supaya tetap berisi orang-orang yang taat kepada Allah, kalau begitu kita keluar dari pintu rumah, lingkungannya tidak kita jaga?” tuturnya.

Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa membangun keluarga yang sakinah tidak bisa hanya mengandalkan pendidikan di dalam rumah. Diperlukan sinergi antara ulama, orang tua, dan pemimpin untuk menciptakan lingkungan yang selaras dengan tujuan syariat Islam.

“Menjaga rumah tangga agar tetap baik harus disertai dengan menjaga lingkungan di mana rumah tangga itu berada — seirama dan serasi dengan arah yang kita tuju,” pungkas Buya Gusrizal.

Related posts