Buya Gusrizal Ungkap Resep Al-Qur’an Hadapi Banjir Informasi: Jangan Sebarkan Sebelum Tabayun

MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Di tengah derasnya arus informasi digital, kebenaran sering kali berhadapan dengan kebisingan. Berita yang belum terverifikasi dapat menyebar dalam hitungan detik, sementara klarifikasi terkadang datang ketika dampaknya sudah meluas.

Ulama kharismatik Ranah Minang sekaligus Ketua Bidang Fatwa Metodologi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Buya Dr. H. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, mengingatkan umat Islam agar tidak mudah menjadi bagian dari mata rantai penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya.

Pesan itu disampaikan Buya Gusrizal dalam kajian di Masjid Surau Buya Gusrizal, belum lama ini. Dalam tausiyahnya, pendiri Gerakan Buya Basurau tersebut mengajak jamaah kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menghadapi derasnya arus informasi, termasuk yang beredar melalui media sosial.

Buya Gusrizal membuka kajiannya dengan sebuah kisah yang terjadi pada masa Khalifah Abbasiyah, ketika seorang perempuan mengadukan persoalannya kepada Khalifah Al-Ma’mun al-Abbasi.

Perempuan itu ternyata bersengketa dengan putra khalifah, Al-Abbas. Mengetahui hal tersebut, Al-Ma’mun meminta agar putranya diperlakukan sama dengan pihak yang mengajukan perkara.

“Khudz biyadihi, wa ajlishu majlisal khasm,” demikian pesan Al-Ma’mun, yang bermakna agar putranya didudukkan di tempat yang sama dengan pihak yang berperkara.

Saat perempuan itu menyampaikan pengaduannya, suaranya sempat meninggi. Menteri Khalifah, Khalid, kemudian memintanya merendahkan suara karena sedang berbicara di hadapan seorang putra khalifah dan Amirul Mukminin.

Namun, Al-Ma’mun justru meminta agar perempuan tersebut dibiarkan berbicara.

“Ya Khalid, da’ha. Fa innal-haqqa antaqaha, wal-bathila akhrasahu,” kata Al-Ma’mun.

Buya Gusrizal menjelaskan, ungkapan tersebut mengandung pesan mendalam: kebenaran memberikan keberanian kepada seseorang untuk berbicara, sedangkan kebatilan pada akhirnya membuat seseorang kehilangan alasan untuk berbicara.

Dari kisah tersebut, Buya kemudian mengaitkannya dengan kondisi masyarakat di era digital.

Ia mengingatkan jamaah pada firman Allah dalam Surah Qaf ayat 18:

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”

Menurut Buya Gusrizal, ayat tersebut semestinya tidak hanya dibaca, tetapi menjadi bagian dari kesadaran dan keimanan setiap Muslim.

Jika kesadaran itu benar-benar tertanam, kata dia, masyarakat akan lebih berhati-hati dalam berbicara, menulis, mengomentari, maupun membagikan informasi.

“Kalau ayat ini bukan sekadar bacaan, tetapi menjadi bagian dari iman kita, maka hiruk-pikuk berbagai persoalan yang lahir dari kebohongan, rumor, dan informasi palsu tentu akan berkurang,” ujarnya.

Era Digital dan Bahaya Informasi Tanpa Saringan

Buya Gusrizal menilai perkembangan teknologi merupakan sesuatu yang patut disyukuri apabila digunakan untuk kemaslahatan. Namun, kemudahan teknologi juga dapat menjadi sumber persoalan ketika informasi diterima dan disebarkan tanpa proses verifikasi.

Media sosial, menurutnya, telah menjadi sarana yang sangat mudah digunakan untuk menyampaikan berbagai hal. Persoalannya bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada bagaimana manusia menggunakannya.

“Kita harus bersyukur dengan perkembangan teknologi, tetapi bagaimana menyaringnya sebelum membagikan? Bagaimana memilih berbagai informasi yang berkembang dan sampai ke tangan kita melalui media telekomunikasi?” katanya.

Menurut Buya, informasi yang diterima semestinya diperiksa terlebih dahulu. Jangan sampai seseorang langsung meneruskan sebuah kabar hanya karena merasa informasi tersebut menarik, menghebohkan, atau sesuai dengan pandangannya.

Ia mengingatkan, persoalan informasi tidak berhenti di media sosial. Informasi yang tidak terverifikasi dapat terbawa ke kehidupan sehari-hari, menjadi bahan perdebatan di kedai, kafe, organisasi, bahkan di lingkungan masjid.

Lebih jauh, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat manipulasi informasi semakin mudah dilakukan.

“Orang bisa dibuat seolah-olah berbicara, yang diam bisa dibuat berbicara, dan berbagai hal lainnya,” ujar Buya.

Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan besar, terutama bagi generasi mendatang.

Tanpa kemampuan memilah informasi, kabar yang belum tentu benar dapat memicu persoalan rumah tangga, pertengkaran di tengah jamaah, konflik organisasi, bahkan keresahan dalam kehidupan berbangsa.

Al-Qur’an Sudah Memberikan Panduan

Buya Gusrizal kemudian mengajak jamaah melihat kembali petunjuk Al-Qur’an dalam menghadapi persoalan informasi.

Ia mengutip Surah An-Nisa ayat 83 yang menjelaskan tentang sikap terhadap berita yang berkaitan dengan keamanan maupun ketakutan.

Allah berfirman bahwa ketika suatu berita mengenai keamanan atau ketakutan sampai kepada mereka, mereka langsung menyiarkannya. Padahal, apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, orang-orang yang mampu melakukan istinbat akan dapat mengetahui kebenaran persoalan tersebut.

Menurut Buya Gusrizal, ayat ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.

“Masalah kita hari ini adalah bukan seleksi, tetapi langsung broadcasting. Tanpa menyaring, tanpa melakukan screening, langsung dibagikan,” tegasnya.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya prinsip tabayun, yaitu melakukan pemeriksaan dan klarifikasi sebelum mempercayai ataupun menyebarkan suatu berita.

Ketika Rasulullah SAW sudah tidak berada di tengah umat, menurut Buya, prinsip tersebut tetap memiliki relevansi melalui rujukan kepada ulil amri dan orang-orang yang memiliki kemampuan melakukan istinbat.

Ulama Bukan Sekadar Pelengkap

Dalam konteks tersebut, Buya Gusrizal menekankan pentingnya keberadaan ulama yang memiliki kapasitas keilmuan untuk memilah dan menjelaskan persoalan kepada umat.

Ia mengingatkan bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan untuk mengambil kesimpulan hukum atau menentukan kebenaran dari sebuah informasi yang kompleks.

“Harus ada orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan istinbat. Mereka yang mampu merumuskan dari berita yang berkembang, mana yang benar-benar dapat dipercaya dan dijadikan pedoman,” jelasnya.

Karena itu, menurut Buya, ulama bukan sekadar pelengkap dalam kehidupan masyarakat maupun pemerintahan.

“Keberadaan ulama bukan sekadar partner, apalagi menjadi alat bagi ulil amri. Ulama adalah kebutuhan apabila kita ingin kehidupan ini berjalan di atas kebenaran,” tegasnya.

Warisan Ilmu Harus Dijaga

Pada bagian akhir kajian, Buya Gusrizal mengingatkan kembali pentingnya menjaga warisan keilmuan Islam.

Ia mengutip sebuah riwayat yang oleh sebagian ulama dinilai sebagai perkataan Ibrahim al-‘Uzri, seorang tabi’in. Sementara Ibnu Abdil Barr menyebut riwayat tersebut memiliki jalur yang dinisbatkan kepada Rasulullah SAW.

Riwayat itu menyebutkan bahwa ilmu akan dibawa oleh orang-orang yang adil pada setiap generasi.

Buya menjelaskan, para ulama memiliki tugas menjaga ilmu dari berbagai penyimpangan: pemahaman orang-orang yang tidak berilmu, klaim orang-orang yang ingin merusak ajaran, serta penafsiran berlebihan yang lahir dari sikap ekstrem dan hawa nafsu.

Menurutnya, umat perlu kembali kepada para ulama yang memiliki kapasitas keilmuan ketika menghadapi persoalan keagamaan yang kompleks.

Namun, ia juga mengingatkan agar umat tidak menjadikan perbedaan pendapat di kalangan ulama sebagai alasan untuk saling menjatuhkan.

Buya mencontohkan perbedaan pendapat antara Imam Malik dan Imam Syafi’i, maupun antara Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal.

Perbedaan pendapat tersebut tidak serta-merta menghilangkan kedudukan mereka sebagai imam besar dan mujtahid.

“Apakah perbedaan pendapat itu kemudian menurunkan kedudukan Imam Malik sebagai mujtahid mutlak dan imam mazhab Maliki? Tidak,” katanya.

Demikian pula ketika terdapat pendapat Imam Syafi’i yang tidak digunakan atau tidak disepakati oleh Imam Ahmad bin Hanbal.

Menurut Buya, perbedaan semacam itu harus disikapi dengan ilmu dan kebijaksanaan, bukan dengan kegaduhan.

Pada akhirnya, ia mengajak umat Islam lebih berhati-hati ketika berselancar di dunia informasi.

“Ketika ada ulama yang bisa kita ikuti, terimalah dengan hati yang lapang. Paling tidak, itu lebih membawa manfaat daripada membuat kegaduhan atau menggunakan cara-cara yang tidak semestinya,” pesannya.

Bagi Buya Gusrizal, derasnya arus informasi tidak boleh membuat umat kehilangan pegangan. Di tengah teknologi yang semakin canggih, prinsip Al-Qur’an tetap menjadi kompas: periksa, pahami, dan pastikan kebenaran sebelum menyebarkan sesuatu.

Edit jadi infogragis estetik dan kekinian dengan latar belakang, font, desain, warna kekinian, gambar kualitas HD dengan landcape, kolaborasikan dengan gambar

Pos terkait