Cek Fakta! Apa Benar Orang Minangkabau Lebih Mementingkan Tamu dari Pada Diri Sendiri

orang minangkabau
Ilustrasi (Foto: Wikipedia Minangkabau)

Oleh: Ranika Ralnandes

Di antara karakter utama orang minang lebih mementingkan orang lain (tamu) atau saudaranya dalam hal positif, Tidak hanya menganjurkan dan mendorong untuk itu, Mereka begitu senang ketika telah membuat saudaranya senang dan mereka bersedih ketika tidak bisa memberikan hal terbaik kepada saudaranya. Bahkan, mereka rela menderita asalkan saudaranya sesama orang beriman tidak menderita, Tetapi ada juga karakter orang beriman dalam hal negatif atau merugikan diri sendiri.

Read More

Di Minang tamu lebih dipentingkan, misalnya saja seperti menghidangkan makanan, yakni menyuguhkan semua makanan yang ada sehingga keluarga kekurangan, Hati mereka pun menjadi sedih.

Keindahan ajaran orang Minang yang diserapnya mampu membentuk kepribadiannya menjadi seorang yang mencintai orang lain, seperti ia mencintai dirinya sendiri. Apabila dia melihat kesempatan untuk mendahulukan orang lain, dia akan mendahulukannya atas dirinya. Terkadang dia rela kelaparan agar orang lain bisa merasa kenyang. Adakalanya dia harus menahan dahaga agar orang lain tidak kehausan. Bahkan, dia siap mati demi kehidupan seseorang, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik orang ialah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. ath-Thabarani, ad-Daraquthni.

Tamu dan tuan rumah juga terikat pada adab-adab menyuguhkan makanan. Tuan rumah seharusnya tidak membebani diri dan menyuguhkan apa yang ada. janganlah tamu mengusulkan atau menentukan sesuatu untuk hidangannya. Permintaan tamu itu bisa jadi membuat tuan rumah kesulitan untuk mengadakan hidangan itu. Jika tuan rumah menawarkan dua pilihan makanan kepadanya, hendaklah dia memilih makanan yang paling mudah di antara keduanya untuk disediakan tuan rumah. 

Berikutnya, tuan rumah boleh menyatakan keinginannya kepada tamu. Dia pun bisa menanyakan kepada tamunya mengenai usul itu. Bilamana tuan rumah merasa nyaman terhadap pendapat tamu, hal tersebut dinilai baik, mengandung pahala, beserta keutamaan.

Lalu tuan rumah tidak pantas bertanya kepada tamu, “Apakah kamu mau disuguh kan makanan?” Tetapi, langsung memberi suguhan jika memang memiliki makanan. Jika tidak dimakan, tuan rumah bisa mengangkatnya kembali.

Demikianlah pujian Allah kepada orang yang mementing kan orang lain. mengutamakan orang lain padahal ia sedang ke susahan, itu lebih utama dari pada sekadar bersedekah dengan senang hati. Karena, tidak semua orang yang bersedekah itu senang hati dan dalam kesusahan. Nabi menegaskan, Barang siapa memudah kan (urusan)orang yang kesulitan, maka Allah akan memudahkan baginya dari kesulitan di dunia dan akhirat. (HR Muslim). Wallahu a’lam. 

Dia yakin bahwa manfaat yang ia berikan kepada orang lain, akan dibalas di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya,

وَمَا تُقَدِّمُواْ لِأَنفُسِكُم مِّنۡ خَيۡرٍ تَجِدُوهُ عِندَ ٱللَّهِ هُوَ خَيۡرًا وَأَعۡظَمَ أَجۡرًاۚ وَٱسۡتَغۡفِرُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمُۢ

“Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampun kepada Allah; sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Muzammil: 20). (*)

/* Penulis adalah Mahasiswa Mahasiswa Universitas Andalas.

Related posts