Cerita Lasuang dari Masa ke Masa yang Bermanfaat Turun Temurun

MINANGKABAUNEWS.COM, BUKITTINGGI – Benda-benda peninggalan sejarah masa lampau masih kelihatan di halaman Museum Rumah Adat Nan Baanjuang.

Dari pantauan Minangkabaunewscom terlihat adanya ‘Lasuang’, di Museum Rumah Adat Nan Baanjuang, benda ini digunakan sebagai tempat tumbuk padi, sekarang orang banyak yang tidak mengenal benda kuno itu lagi.

Read More

Kabid Kebudayaan, Disdikbud Kota Bukittinggi, Mul Akhiar, menjelaskan, benda-benda Museum seperti ‘Lasuang’ memiliki makna tersirat yakni ada semacam masyarakat sosial yang memiliki sifat kegotongroyongan.

“Kita melihat disitu berlaku siapa dan mengerjakan apa dan juga tersirat bagaimana dulu manusia mengembangkan teknologi sederhana untuk kehidupannya,” ujar Mul Akhiar, Kamis (10/2/2022).

Mul Akhiar lebih lanjut menjelaskan, kalau sekarang generasi milineal tidak mengenal lagi itu ‘Lasuang’, ia tau cuma beras atau padi, bagaimana proses menjadi segantang beras, mungkin mereka tidak kenal.

Kemudian mereka cuma tahu Heler, secara teknologi ada namanya rice miling. Rice miling itu mengupas kulit padi dulu dengan mesin baru dijadikan beras.

“Kita melihat dulu pernah anak muda rantau pulang kampung, dia menganggap seperti alat pertanian fungsinya apa? Banyak mereka yang tidak tahu dan mereka juga tidak mengenal tanaman itu apa? Contoh kentang, mereka menganggap kentang itu, buah dari sebuah kayu,” jelas Mul Akhiar dengan nada seloroh.

Ia menambahkan, dalam perjalanan sebuah benda-benda kuno atau benda sejarah atau benda cagar budaya itu akan membuat generasi milineal lebih mengenal bagaimana kehidupan masa lalu dan bagaimana kehidupan masa sekarang. Kalau mereka belajar, tidak akan terputus sejarah itu, dia mengenal masa lalu.

Pihaknya akan meninventarisir benda cagar budaya yang ada di Museum itu, bentuknya seperti apa, sejarahnya seperti apa, dari mana benda ini didapat, kegunaan untuk apa. Jadi jelas secara keseluruhan nanti ada inventarisir mungkin dalam bentuk buku tebal yang ada sejarahnya.

“Nanti kita ada waktu dan cukup anggaran kita untuk buat topscreen, jadi sebelum orang masuk ke museum, mereka bisa melihat benda apa yang mereka cari,” tutupnya.

Related posts