Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Kesehatan Mental Anak

  • Whatsapp

Oleh: Widia Ristina

Infeksi manusia yang disebabkan oleh virus corona baru, SARS-CoV-2, menyebar dengan cepat keseluruh dunia, menimbulkan ancaman signifikan terhadap kesehatan populasi dan menciptakan tantangan signifikan bagi sistem kesehatan. Penyakit coronavirus 2019 (COVID-19) mempengaruhi hampir semua negara. Penyakit yang tidak diketahui dengan prognosis yang tidak pasti dan terkait dengan kelangkaan peralatan medis dan pelindung telah menyebabkan pengenaan tindakan yang membatasi kebebasan individu. Selain faktor-faktor ini, kerugian finansial yang meningkat akan berkontribusi pada tekanan emosional yang meluas dan peningkatan risiko gangguan kejiwaan dalam waktu dekat (Pfefferbaum, B., & North, 2020).

Read More

Pandemi COVID-19 membawa serangkaian tantangan kompleks yang berdampak pada kesehatan mental semua orang, termasuk anak-anak dan remaja. Kesedihan, ketakutan, ketidakpastian, isolasi sosial, peningkatan waktu layar, dan kelelahan orang tua telah berdampak negatif pada kesehatan mental anak-anak. Persahabatan dan dukungan keluarga adalah kekuatan penstabil yang kuat bagi anak-anak, tetapi pandemi COVID-19 juga telah mengganggu mereka. Karena mereka berada dalam masa kritis perkembangan, anak-anak berhak mendapatkan perawatan khusus untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan mental mereka. Sejarah pandemi ini telah mengalami perubahan yang tak tertandingi dalam sejarah dunia belakangan ini. Diantaranya, modifikasi drastis rutinitas anak. Mereka menekan kelas saat belajar dan memindahkan semua aktivitas anak-anak ke rumah. Kelas telah secara rutin ditawarkan oleh sistem pendidikan jarak jauh (Wang, G, dkk, 2020) . Latihan fisik telah dikurangi. Kehadiran orang tua dan keterlibatan anak dalam kegiatan di rumah membantu dalam rutinitas dan otonomi anak. Namun, isolasi memaksakan kontak yang lebih signifikan antara orang tua dan anak-anak, yang terdiri dari kesempatan untuk bermain (Brooks, S, dkk, 2020). Tidak semua rumah adalah tempat yang aman, dan beberapa anak mungkin lebih rentan terhadap berbagai jenis pelecehan. Meskipun screen time dapat dilonggarkan dalam masa karantina ini, kurangnya pengawasan terhadap akses internet meningkatkan kerentanan terhadap pelaku kejahatan online, percobaan penipuan, dan akses ke konten seksual yang tidak pantas (Europol, E. C., 2020). Anak-anak mungkin merasa frustrasi dengan peristiwa dan pertemuan yang tidak mereka alami. Masalah seperti kinerja sekolah yang memburuk, peningkatan agitasi, agresi, dan regresi dapat muncul atau menjadi lebih jelas (Mohammadinia, L., dkk, 2018).

Kesehatan mental jutaan anak di seluruh dunia telah dipertaruhkan, dengan setidaknya satu dari tujuh terpaksa tetap di rumah di bawah perintah kesehatan masyarakat nasional atau rekomendasi selama pandemi COVID-19. Lebih dari 330 juta anak telah terjebak di rumah, hingga Maret 2021, setidaknya selama sembilan bulan, sejak virus menyebar tak terkendali kali ini tahun lalu. Menjadi sulit bagi orang tua untuk menenangkan kecemasan anak-anak mereka karena ketidakpastian dan stres dalam kehidupan mereka sendiri. Tantangan pekerjaan atau emosional yang dihadapi orang tua mengganggu kemampuan mereka yang biasa untuk mengatasi kebutuhan dan kekhawatiran anak-anak mereka. Bukan hal yang aneh bagi anak-anak untuk mengalami emosi negatif seperti ketakutan, kekecewaan, kesedihan, kecemasan, kemarahan, kehilangan, dll. Tetapi sifat pandemi COVID-19 yang berkepanjangan, membatasi, dan meluaslah yang memperburuk situasi. Peningkatan waktu layar, hubungan keluarga yang tegang atau gaya hidup menetap di rumah menimbulkan tantangan tambahan (UNICEF, 2021). Walaupun pandemi membuat anak-anak menjadi banyak waktu di rumah, namun penulis percaya bahwa hal ini memiliki dampak negatif terhadap kesehatan mental anak.

Pandemi secara tidak lansung ternyata berpengaruh pada psikis anak. Perubahan psikis yang terjadi pada setiap anak pada masa pandemic cukup beragam seperti munculnya reaksi-reaksi negatif yang dikenal dengan istilah stress traumatis yang kemunculan mungkin sulit untuk diidentifikasi oleh orang-orang yang berada sekitar anak (Meutia, 2020). Seperti yang sudah dijelaskan, tanpa disadari orang tua ternyata pandemi memberikan efek stress pada anak. Selain itu terdapat gejala-gajala yang dimunculkan pada anak seperti adanya penurunan atau peningkatan nafsu makan, terlihat mulai menarik diri dari lingkungannya, sulit melakukan interaksi dengan oran baru, dan gejala lainnya. Namun, kebanyakan orang tua mengabaikan gejala-gejala yang ditampilakan oleh anak dan berfikiran bahwasanya anak-anak mungkin belum terlalu memikirkan hal yang terjadi saat ini pada mereka. Padahal kenyataannya, anak-anak sebenarnya lebih rentan mendapatkan emosi negatif akibat pandemi ini.

Selain itu, Salah satu upaya yang dilakukan untuk menangani pandemi covid-19 adalah dengan cara membatasi seluruh kegiatan yang menimbulkan interaksi dengan banyak orang, sehingga mengakibatkan semua kegiatan yang ada berlangsung dari rumah masing-masing. Salah satu kegiatan yang dilakukan dari rumah yaitu melakukan pembelajran secara daring dan mengharuskan banyak sekolah untuk menghentikan kegiatan yang mengharuskan siswa datang kesekolah. Berdasarkan penelitan yang dilakukan olelh Cowie dan Myer (2020) Pemberlakuan kebijakan baru untuk menghentikan kegiatan pemberlajaran dan membatasi ruang sosial pada anak dapat menyebabkan menimbulkan stress dan kecemasan bagi anak. Kecemasan dan stress tersebut dapat mucul pada anak dikarenaka anak diharuskan untuk dapat beradaptasi dengan pada kondisi tersebut dimana kondisi yang ada merupakan suatu hal yang baru bagi anak.

Meutia (2020) menyebutkan terdapat beberapa faktor yang menyebabkan anak dapat mengalami stress. Terlebih pada anak yang keluarganya ada yang terpapar CoVID-19. Faktor-faktor tersebut adalah dikarenakan adanya tayangan berita menakutkan di tv, kemungkinan mereka kehilangan orang yang mereka sayangi, tidak dapat melakukan aktifitas sosial seperti biasanya, serta adanya perubahan gaya belajar sehingga menyebabkan mereka harus dirumah saja. Emosi negatif lainnya juga dirasakan anak saat mereka belajar hanya lewat media saja. Akibat tidak adanya interaksi dengan teman sebaya, sehingga membuat mereka jenuh saat melakukan aktifitas. Tidak hanya itu saja, berdasarkan data Lembaga Bantuan Anak Indonesia, stress yang dialami oleh anak itu dikarenakan adanya tekanan dari rumah. Karena anak sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan, sehingga tubuhnya cepat merespon terhadap stress yang mereka alami.

Terdapat beberapa gejala yang dialami anak saat mengalami stress yaitu berupa adanya sikap yang lebih menuntut, cemas, menarik diri dari lingkungan, mood yang berubah-ubah, gelisah, dan takut. Jika dilihat dari segi fisik terdapat beberapa gejala seperti nafsu makan jadi berkurang, sakit perut, kepala dan gangguan tidur. Penelitian menunjukkan bahwasanya kemungkinan gejala pada anak sebagian bisa sembuh dalam beberapa hari, tetapi sebagian ada juga yang bertahan lama. Oleh sebab itu, pada saat pandemi ini dukungan serta pantauan orang tua pada anak sangat berarti.

Pada masa pandemi anak juga dapat mengalami perubahan prilaku dan emosi. Perubahan prilaku pada anak dapat dipicu oleh adanya kondisi dimana anak merasa sedih, cemas, dan merasakan kesepian. Perasaan sedih, cemas, dan kesepian dapat muncul dikarenakan pada saat ini anak berada pada fase perkembangan. Salah satu tugas perkembangan pada anak menurut santrok yaitu melakukan interaksi dengan teman sebaya (Novianti, 2008). Namun nyatanya pada masa pandemi anak diharuskan untuk dapat berdiam diri dirumah dan melakukan semua kegiatan yang dapat dilakukan disekolah dirumah. tentunya dengan hal ini anak mendapatkan rintangan untuk memenuhi tugas perkembangannya yang seharusnay dapat dilakukannya disekolah namun terhalang dengan adanya peraturan untuk pencegahan tersebut. Maka tak jarang anak mengalami perubahan prilaku dan emosi yang disebabkan oleh adanya hal tersebut.

Selain itu perubahan perilaku pada anak dapat disebabkan oleh faktor-faktor lain. Penurunan kestabilan emosi pada anak dapat menjadi salah satu faktor lain munculnya perubahan emosi pada anak. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ismaniar dan Utoyo (2020) menyebutkan bahwa ketidakstabilan emosi pada anak dapat dipicu dari terdapatnya kebosanan yang dirasakan anak terhadap kegiatan yang dilakukannya pada setiap harinya sehingga anak mudah marah. Kebosanan ini muncul pada anak disebabkan oleh adanya keterbatasan ruang gerak yang dimiliki anak sehingga anak tidak dapat melakukan interaksi dengan lingkungannya pada saat sekolah yang dilakukan dengan tatap muka Saurabh&Ranjan, 2020. Maka, untuk mengatasi kebosanan pada anak diperlukan peranan penting dari orang tua agar anak tetap mampu menjaga kesehatan mentalnya.

Faktor lainnya yang dapat mempengaruhi perubahan prilaku pada anak pada masa pandemi adalah anak belum mempunyai konsep moral yang kuat sehingga anak rentan terhadap hal-hal yang terjadi pada lingkungannya. Hal ini dapat dikaitkan dengan proses perkembangannya dimana anak belum dapat memahami secara baik terhadap tindakan yang ia lakukan tersebut sudah benar atau belum, sehingga tindakan dan perilaku mereka senantiasa dapat berubah-rubah sesuai dengan kondisi suasana hati mereka (Ismaniar & Utoyo, 2020). Mudahnya perubahan tersebut dapat berakibat buruk terhadap kepribadian anak saat saat dewasa yang perlu diwaspadai oleh orang tua agar hal tersebut tidak berkembang semakin lanjut dan menjadi kepribadian sang anak.

Selain stress dan perubahan prilaku yang dialami oleh anak, pada masa pandemi Covid-19 juga mengakibatkan anak menjadi kecanduan gadget. Seperti yang diungkapkan oleh Maria (2020) diakibatkan karena adanya pembelajaran lewat daring, membuat anak lebih sering berinteraksi dengan gadget. Hal ini dikhawatirkan dapat membuat anak menjadi candu dalam bermain gadget. Sebab kecanduan gadget dapat meningkatkan prevalensi resiko kurangnya pemusatan perhatian serta hiperaktivitas. Akibat dari penggunaan gadget berlebihan, anak dapat menarik diri dari penggunaan gadget karena merasa tidak nyaman apabila tidak menggunakan gadget. Selain itu, anak-anak juga mengalami masalah dengan interaksi sosial. Akibat kecanduan gadget dikhawatirkan anak hanya berfokus pada gadget dan tidak memperhatikan lingkungan sekitar, waktu tidur anak jadi berkurang serta pola makan tidak teratur. Dikarenakan intensitas penggunaan gadget tinggi dan itu memang tidak bisa dipungkiri karena keperluan sekolah dan lainnya, jadi memang dibutuhkan upaya dari orang tua untuk mengatur jadwal penggunaan gadget pada anak.

Walaupun pada masa pandemi kebutuhan terhadap gadget pada anak dapat tidak dapat dipungkirin terhadap pelaksanaan kegiatan anak, namun penggunaan dari gadget pada anak sangat diperlukan pengawasan dan bimbingan khusus dari orang tua. Dampak negative yang dapat ditimbulkan dari gadget terhadap anak dapat menimbulkan pertumbuhan otak yang terlalu cepat, memunculkan gangguan tidur pada anak, obesitas, penyakit mental, agresif serta dapat mengakibatkan pikun digitalyang diungkapkan oleh seorang dokter yang berasal dari Amerika Serikat yang bernama Cris Rowan (Kusuma, & Sutapa, 2020). Disamping hal itu penggunaan gadget pada anak juga dapat memberikan dampak positif yang tentu dengan adanya pengawasan yang baik dari orang. Pemberian pengwasaan dan bimbingan dalam hal penggunaan gadget pada anak dapat dilakukan dengan cara menjawab hal-hal yang tidak diketahui anak dan menemani anak saat penggunaannya.
Seperti yang telah dijabarkan di atas, penulis berpendapat bahwa pandemi tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik yang disebabkan penyebaran virus, namun pandemi juga berdampak pada kesehatan mental, tidak hanya terjadi pada orang dewasa, hal ini juga dapat terjadi pada anak-anak. Reaksi kesehatan mental yang kerap terjadi yaitu stress, perubahan emosi, kecemasan, penurunan atau peningkatan nafsu makan, dan sulit berinteraksi dengan orang lain baik dengan orang yang baru dikenal atau orang-orang yang telah dikenal sebelumnya. Kemuculan gejala mental ini sering terabaikan oleh orang tua, orang tua tidak menyadari timbulnya gejala-gejala ini pada anak.

Selama pandemi kegiatan yang dilakukan oleh anak sangatlah terbatas, anak banyak menghabiskan waktu mereka dirumah. Mereka bersekolah secara daring, tidak melakukan kegiatan di lingkungan luar, yang mana secara tidak langsung anak tidak dapat bertemu dengan teman-teman mereka, kegiatan yang dilakukan hanya berhadapan terus menerus dengan gadget hingga membuat anak kecanduan karna penggunaan berlebihan, hal inilah yang menyebabkan stres yang terjadi pada anak, perubahan emosi yang mudah sekali berubah. Dampak negatif yang dapat ditimbulkan dari gadget terhadap anak dapat menimbulkan gangguan tidur pada anak, obesitas, penyakit mental, agresif serta dapat mengakibatkan pikun digital yang diungkapkan oleh seorang dokter yang berasal dari Amerika Serikat yang bernama Cris Rowan (Kusuma, & Sutapa, 2020).

Penyebab lain dari terganggunya kesehatan mental anak selama pandemi ialah tidak stabilnya emosi yang dimiliki oleh anak,ketidakstabilan emosi pada anak dapat dipicu dari kebosanan yang dirasakan anak terhadap kegiatan yang sama yang dilakukannya setiap harin sehingga anak mudah marah. Kebosanan ini muncul pada anak disebabkann oleh adanya keterbatasan ruang gerak yang dimiliki anak sehingga anak tidak dapat melakukan interaksi dengan lingkungannya pada saat sekolah yang dilakukan dengan tatap muka (Saurabh & Ranjan, 2020).

Dari penyebab di atas, maka orang tua harus mampu menanggulangi penyebab terganggunya kesehatan mental pada anak, pengawasan orang tua terhadap penggunaan gadget pada anak harus lebih diperketat, serta perhatian yang orang tua berikan juga sangatlah penting, karna interaksi antara orang tua dengan anak akan selalu terjadi setiap harinya selama pandemi, maka orang tualah yang akan mampu menanggulangi perubahan emosi yang terjadi pada anak. Orang tua harus mampu untuk meningkatkan kekuatan mereka dan mereka harus merasa mampu mengelola peran mereka sebagai orang tua dan mengatur emosi mereka. Orang tua mungkin bisa menerapkan digital parenting pada anak. Digital parenting merupakan upaya dari orang tua untuk membatasi, mengawasi serta memberikan pendampingan pada anak dalam menggunakan gadget.

Peran orang tua dalam digital parenting bisa berupa membatasi anak bermain gadget, melatih kemampuan motorik anak, mengalihkan kegiatan anak pada hal-hal yang bermanfaat seperti berkebun, berolahraga, memilih tayangan yang pas untuk anak, memantau apa saja yang diakses oleh anak di internet, mengajak anak untuk berbicara tentang kegiatan sehari-hari (Sisbintari, 2021). Tidak hanya menuntut anak untuk membatasi penggunaan gadget, tetapi orang tua juga harus bisa mengurangi, karena orang tua adalah roleplay bagi anak dirumah. Oleh sebab itu, perhatian saat pandemi memang harus lebih diupayakan lagi agar anak mampu dapat berkembang dengan baik meskipun masih dalam keadaan pandemi.

Selama karantina, peran orang tua sangat penting bagi anak-anak mereka sangat bergantung pada orang tua mereka dalam tahap kehidupan ini. Penting bagi orang tua untuk mengetahui bahwa mereka dapat melindungi anak-anak mereka, mencegah disregulasi emosional mereka, menggunakan kekuatan dan kepercayaan diri mereka, bahkan jika mereka mengalami ketakutan dan stres berat untuk keadaan darurat kesehatan selama pandemi. Selain itu, bahkan jika orang tua terpapar pada tingkat stres yang tinggi, mereka masih dapat meningkatkan fungsi emosional positif pada anak-anak mereka jika mereka merasa dapat meyakinkan anak-anak mereka tentang keadaan darurat kesehatan, mengatur kehidupan sehari-hari anak-anak mereka selama karantina, dan menjelaskan kepada mereka terkait apa yang terjadi.

/*Penulis: Kelompok 8B Psikologi Bencana, Jurusan Psikologi, Fakultas Kedokteran Unand

Related posts