Dana Asing Kabur dari RI, Menkeu Sri Mulyani Bongkar Biang Keroknya!

Menteri Keuangan Srimulyani.

MINANGKABAUNEWS.COM, JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati buka suara mengenai kondisi kaburnya dana asing dari RI dan nilai tukar rupiah yang terus tetekan. Dolar Amerika Seikat (AS) kini sedikit lagi menyentuh level Rp 15.000.

“Beberapa indikator ekonomi terutama dari sisi keuangan nilai tukar interest rate dan inflasi dalam situasi dunia seperti sekarang memang masih akan sangat dinamis,” ujarnya di Gedung DPR/MPR, Jakarta (5/7/2022)

Read More

Rupiah sebenarnya hari ini membuka perdagangan dengan menguat 0,1% ke Rp 14.950/US$, tetapi tidak lama berbalik melemah hingga 0,17% ke Rp 14.990/US$ yang merupakan level terlemah sejak Mei 2020.

Di penutupan perdagangan, rupiah berada di Rp 14.985/US$, melemah 0,13% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Rupiah kini berjarak 0,1% saja dari level psikologis Rp 15.000/US$

Sri Mulyani menjelaskan beberapa penopang fundamental ekonomi Indonesia cukup baik. Sebut saja dari sisi neraca transaksi berjalan mencatatkan surplus pada 2021, didukung oleh perbaikan terms of trade seiring kenaikan harga komoditas, dan kembali mencatatkan surplus pada triwulan I-2022.

Cadangan devisa pada akhir Mei 2022 tercatat USD135,6 miliar, setara dengan lebih dari enam bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta jauh di atas utang luar negeri Indonesia yang jatuh tempo dalam satu tahun.

Hanya saja Bank Sentral AS menaikkan suku bunga acuan dengan agresif, sehingga lebih menarik di mata investor. Pelemahan nilai tukar juga dialami oleh banyak negara lain, bahkan lebih buruk.

“Capital flow barang kali yang terjadi, dengan rate fed maka orang mencari tempat di mana orang menganggap interest ratenya lebih tinggi. Ini semua yang harus kita kelola dalam mengelola baik 2022 maupun 2023,” paparnya.

Indonesia menjadi negara yang paling banyak ditinggal investor asing di pasar obligasi. Total dana asing yang keluar dari pasar obligasi Indonesia menembus US$ 3,1 miliar pada kuartal lalu.

Investor asing meninggalkan Indonesia bukan karena faktor fundamental domestik tetapi lebih karena kekhawatiran resesi.

Data Bank Indonesia menunjukkan hingga semester satu tahun ini, terjadi outflow di pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 111,12 triliun sementara di pasar saham masih terjadi inflow Rp 61,82 triliun.

Related posts