MINANGKABAUNEWS.com, AGAM — Di tengah reruntuhan yang tersisa akibat banjir bandang yang melanda pada akhir November 2025 lalu, harapan terus dihidupkan dari dapur-dapur umum di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Salah satunya di SDN 05 Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, di mana Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat dengan setia menyiapkan hidangan hangat bagi 168 penyintas yang masih bertahan di lokasi pengungsian.
Di bawah komando Lettu CBA Apri Azis dari Tim Dapur Lapangan Palembayan, Bekang Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol, sebanyak 168 porsi makanan disiapkan untuk sarapan dan makan malam. Jumlah itu bertambah menjadi 250 porsi saat makan siang, untuk juga menjangkau para anggota TNI yang tengah membangun hunian sementara di lapangan sepak bola sekolah tersebut.
“Menu kita usahakan bervariasi dan bergizi, dari telur, ikan teri, hingga ayam dan kentang. Semua berjalan lancar berkat dukungan bahan makanan dari Dinas Sosial Agam dan pemerintah nagari,” jelas Apri Azis di Lubuk Basung, Jumat (23/1).
Dapur umum di Salareh Aia ini telah beroperasi sejak 1 Desember 2025, atau tiga hari setelah bencana terjadi. Awalnya, bersama dengan pos serupa di SDN 07 Koto Alam, kedua dapur ini mampu mendistribusikan total 3.000 porsi per hari untuk membanjiri dua nagari dengan bantuan. Seiring waktu, gelombang solidaritas mulai membuahkan hasil.
“Alhamdulillah, jumlah penyintas yang bergantung pada dapur umum mulai berkurang seiring mereka yang mulai mandiri. Porsi makanan pun kita sesuaikan,” tambah Apri. Pengurangan ini adalah kabar baik, pertanda bahwa pemulihan perlahan-lahan bergulir.
Namun, misi kemanusiaan ini belum berakhir. Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol masih mengoperasikan 13 dapur umum di berbagai lokasi bencana alam di Sumbar. Di Agam sendiri, selain di Palembayan, dapur umum juga masih aktif di Maninjau, Sungai Tanang, dan Canduang.
Kepala Dinas Sosial Agam, Villa Erdi, mengonfirmasi bahwa dari 16 dapur umum yang pernah dibangun pascabencana, kini tujuh di antaranya masih tetap berdenyut. “Saat ini dapur umum dikelola penuh oleh masyarakat dengan semangat gotong royong. Tugas kami adalah mendukung dengan penyediaan logistik seperti beras, minyak goreng, dan mie instan,” ujarnya.
Kisah di balik dapur umum di Salareh Aia lebih dari sekadar angka dan porsi. Ia adalah narasi tentang ketangguhan, tentang tangan-tangan yang tak kenal lelah menyajikan makanan, dan tentang semangat komunitas yang perlahan bangkit, didukung oleh solidaritas tanpa batas antara TNI dan warga. Setiap hidangan yang dibagikan bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga menguatkan keyakinan bahwa mereka tidak sendirian menghadapi ujian ini.






