Dari Padang Pariaman ke Kauman: Ketika 36 Kepala Madrasah Pulang Membawa “Resep” Transformasi Pendidikan

MINANGKABAUNEWS.com, PADANG PANJANG — Ada yang berbeda dari kunjungan biasa. Sabtu, 12 September 2026, Aula Hamka Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang dipenuhi wajah-wajah serius namun bersemangat. Sebanyak 36 kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) swasta se-Kabupaten Padang Pariaman beserta wakilnya datang bukan sekadar bersilaturahmi. Mereka datang memburu sesuatu: strategi transformasi pendidikan.

Rombongan Forum Komunikasi Madrasah Tsanawiyah Swasta (FKMTS) se-Padang Pariaman yang dipimpin Ketua FKMTS, Bapak Zulfahmi, memang punya satu pertanyaan besar yang ingin dijawab. Bagaimana mungkin sebuah lembaga pendidikan swasta mampu membangun identitas yang kuat, membaca kebutuhan masyarakat, tumbuh konsisten, dan akhirnya dipercaya hingga tingkat internasional?

Pertanyaan itu pula yang membawa mereka ke Kauman.

Kegiatan dibuka dengan sambutan Mudir Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang, Dr. Derliana, MA. Dalam sambutannya, ia menekankan satu hal mendasar: perubahan besar dalam sebuah lembaga pendidikan selalu dimulai dari keberanian membaca zaman dan memahami kebutuhan masyarakat.

Suasana kemudian menghangat. Santri Ghina Nathania tampil membacakan puisi. Penampilannya memukau, mengundang decak kagum para tamu. Bukan sekadar hiburan, penampilan itu menjadi bukti hidup bagaimana Kauman memberi ruang bagi santri untuk tumbuh—mengembangkan potensi, kreativitas, keberanian, dan ekspresi diri.

Sambutan berikutnya datang dari Ketua Rombongan FKMTS se-Padang Pariaman, Bapak Zulfahmi. Ia mengaku bahagia bisa berkunjung ke kompleks Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang. Sebagai bagian dari keluarga besar Muhammadiyah, kunjungan ini baginya punya makna tersendiri.

“Ketika sampai di sini, kami merasa bahagia. Selain kami juga keluarga Muhammadiyah, kami melihat perkembangan Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang yang luar biasa pesat,” ujarnya.

Menurut Zulfahmi, kedatangan FKMTS secara khusus bertujuan menggali strategi pengelolaan madrasah—terutama madrasah swasta—sekaligus mempelajari bagaimana Kauman mampu membangun sistem pendidikan hingga mendapatkan identitas sebagai pesantren internasional.

Sesi pemaparan menjadi inti kegiatan. Dipandu Wakil Mudir Bidang Pengasuhan, Ustadz Insan Adha Hasibuan, diskusi menghadirkan langsung jajaran pimpinan Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang.

Salah satu gagasan yang paling menyita perhatian peserta adalah pentingnya branding dan ciri khas bagi madrasah swasta.

Dr. Derliana, MA menegaskan, sebuah madrasah tidak cukup hanya mengatakan dirinya baik. Lembaga pendidikan harus mampu menunjukkan “mengapa masyarakat harus memilih kita.”

Menurutnya, persaingan lembaga pendidikan semakin ketat. Jumlah sekolah dan madrasah terus bertambah, sementara jumlah lulusan peserta didik cenderung menyusut. Kondisi ini memaksa lembaga pendidikan swasta memiliki identitas yang kuat dan mudah dikenali calon santri maupun wali santri.

“Madrasah swasta harus memiliki ciri khas. Branding harus jelas sehingga calon santri dan wali santri tahu apa yang menjadi keunggulan kita,” tegas Dr. Derliana.

Pandangan itu diperkuat Wakil Mudir Bidang SDM dan Humas, Ustadz Surya Bunawan. Menurutnya, branding tidak bisa dipisahkan dari penguatan sumber daya manusia dan komunikasi lembaga. Apa yang dijanjikan kepada masyarakat harus sejalan dengan apa yang benar-benar diberikan dalam proses pendidikan.

Hal menarik lainnya datang dari perubahan paradigma penerimaan santri baru. Jika sebelumnya lembaga pendidikan lebih banyak berpikir tentang bagaimana mencari santri, kini orientasinya harus bergeser menjadi bagaimana menyediakan kebutuhan santri dan masyarakat.

Perubahan cara pandang itu menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan transformasi Kauman.

Lembaga pendidikan harus lebih dulu memahami apa yang dicari orang tua, apa yang dibutuhkan generasi muda, dan pendidikan seperti apa yang relevan dengan lingkungan sosial serta budaya masyarakat.

Dalam konteks Sumatera Barat, Kauman melihat kekuatan itu melalui pendidikan yang tetap berpijak pada nilai-nilai Islam dan budaya Minangkabau, dengan falsafah “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah.”

Inilah salah satu kekuatan pendidikan madrasah: pendidikan agama, karakter, akhlak, dan penguasaan ilmu pengetahuan berjalan beriringan menjawab kebutuhan masyarakat.

Diskusi berlangsung cair, dinamis, dan penuh antusiasme. Para kepala madrasah dan wakil kepala madrasah aktif menggali berbagai hal—dari pengelolaan lembaga, strategi penerimaan santri, penguatan branding, sumber daya manusia, pengasuhan, hingga cara membangun kepercayaan masyarakat.

Pertemuan itu sekaligus memperlihatkan bahwa transformasi Kauman bukan proses yang terjadi dalam semalam.

Ada proses panjang di belakangnya: membaca perubahan, berani mengubah paradigma, menemukan ciri khas, membangun sumber daya manusia, memperkuat sistem, memahami kebutuhan masyarakat, dan terus berinovasi.

Dari proses itulah sebuah lembaga pendidikan dapat tumbuh lebih besar dan memiliki daya tarik yang kuat.

Bagi FKMTS se-Padang Pariaman, pengalaman Kauman menjadi bahan pembelajaran berharga untuk dibawa pulang dan dikembangkan sesuai karakter masing-masing madrasah.

Sementara bagi Pesantren Internasional Kauman Muhammadiyah Padang Panjang, kunjungan itu menjadi pengingat: ketika sebuah lembaga konsisten membangun kualitas, proses yang dilakukan di dalam akan menjadi inspirasi bagi lembaga lain di luar.

Kegiatan ditutup dengan foto bersama dan penyerahan cinderamata sebagai simbol silaturahmi, apresiasi, sekaligus komitmen untuk terus membangun kolaborasi antarlembaga pendidikan.

Dari Padang Panjang, Kauman terus bergerak. Bukan hanya membangun pesantren, tetapi juga berbagi gagasan, pengalaman, dan inspirasi untuk kemajuan pendidikan. (TR)

Pos terkait