MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Bayangkan, lebih dari 740 ribu pelaku usaha bergerak dalam satu ekosistem yang sama. Itulah kekuatan ekonomi Sumatera Barat yang sesungguhnya. Di balik angka tersebut, ada denyut nadi perekonomian yang selama bertahun-tahun telah terbukti tangguh menghadapi berbagai badai—mulai dari gempa dahsyat 2009, pandemi yang melumpuhkan dunia, hingga banjir bandang yang merenggut akses. Namun di tengah segala keterbatasan, semangat UMKM Sumbar tak pernah padam. Kini, saatnya melangkah lebih jauh: menembus pasar global.
—
Di ruang megah Hotel Pangeran Padang, Jumat (28/8/2026) lalu, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah berdiri di hadapan ratusan pelaku ekonomi kreatif yang berkumpul dalam Sumatera Barat Creative Economy Festival (SCEF) 2026. Matanya berbinar saat menyampaikan satu pesan kunci: UMKM Sumbar harus naik kelas.
“Lebih daripada setengah penduduk Sumatera Barat bergerak di sektor UMKM. Inilah kekuatan kita,” ucapnya dengan tegas, disambut deru tepuk tangan para peserta yang hadir.
Mahyeldi tak sekadar berbicara tentang angka. Ia berbicara tentang identitas. Karena kekayaan Sumbar bukanlah sesuatu yang asing—ia melekat dalam keseharian: aroma rendang yang menggoda, kehalusan tenun dan songket yang mendunia, gemerlap fesyen muslim yang elegan, hingga kriya dan seni budaya yang sarat filosofi. Semua itu, menurutnya, adalah modal besar yang harus diolah menjadi produk bernilai tambah dengan daya saing tinggi.
“Kita ingin ekonomi kreatif ini mampu meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat, sekaligus memperkuat struktur ekonomi daerah agar lebih tangguh menghadapi tantangan global,” tegasnya.
Bagi Mahyeldi, ketangguhan bukanlah kata kosong. Ia mengingatkan bagaimana UMKM Sumbar mampu bertahan saat gempa mengguncang Ranah Minang, saat pandemi memaksa semua orang berdiam di rumah, dan ketika bencana banjir serta longsor memutus jalur distribusi. Salah satu pelajaran paling berharga datang dari penutupan akses Lembah Anai. Saat itu, aktivitas ekonomi sempat tersendat. Namun dari situ, muncul kesadaran pentingnya menjaga konektivitas—bahkan dalam situasi darurat sekalipun.
“Walaupun ada kerusakan akibat bencana, transportasi minimal roda dua harus tetap jalan sehingga ekonomi kita tetap bergerak,” ujarnya dengan penuh keyakinan.
Lalu, apa strategi jitu yang disiapkan Pemprov Sumbar untuk membawa UMKM melesat?
Mahyeldi menyebutkan setidaknya lima pilar utama: digitalisasi pemasaran agar produk tak lagi terbatas pada pasar konvensional, peningkatan kualitas dan kemasan produk yang mampu bersaing di kancah internasional, hilirisasi untuk menciptakan rantai nilai yang lebih panjang, perluasan akses pembiayaan yang selama ini kerap menjadi kendala, serta penguatan sertifikasi dan industri halal yang menjadi nilai jual tersendiri di pasar global.
Yang menarik, semua langkah ini selaras dengan falsafah hidup masyarakat Minangkabau, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Menurut Mahyeldi, pengembangan ekonomi kreatif dan industri halal bukanlah sesuatu yang dipaksakan, melainkan sudah mengalir dalam DNA budaya Sumbar.
“Kita memiliki kekayaan budaya, kreativitas, dan nilai-nilai lokal yang sangat kuat. Tinggal bagaimana semua itu kita olah menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” ujarnya optimistis.
Keyakinan itu ternyata bukan tanpa dasar. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, yang hadir secara virtual dalam acara tersebut, memberikan kabar menggembirakan. Ia mengungkapkan bahwa sejumlah UMKM Sumbar telah berhasil menembus pasar ekspor ke tiga negara besar: Jepang, Prancis, dan bahkan Amerika Serikat.
“Sumatera Barat memiliki modal yang sangat kuat dan sudah terkenal di penjuru Nusantara. Kini tantangannya adalah mengubah kekayaan itu menjadi nilai tambah ekonomi yang membuka pasar, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan masyarakat,” kata Aida.
Bank Indonesia sendiri terus mendorong penguatan UMKM melalui berbagai program—mulai dari peningkatan kapasitas pelaku usaha, pengembangan model bisnis yang lebih modern, perluasan sistem pembayaran digital, promosi yang masif, hingga akses pembiayaan yang lebih inklusif.
SCEF 2026 menjadi bukti nyata kolaborasi itu. Festival ini bukan sekadar pameran produk, melainkan ruang temu yang mempertemukan pelaku UMKM, pemerintah, perbankan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Semua bersatu untuk satu tujuan: menciptakan ekosistem ekonomi kreatif Sumbar yang adaptif, kompetitif, dan siap bersaing di pasar global.
—
Dari lipatan kain songket yang terjalin benang emas, hingga cita rasa rendang yang menggoyang lidah dunia—Sumatera Barat sedang menulis babak baru. Bukan lagi sebagai daerah yang hanya dikenal karena keindahan budayanya, tetapi sebagai kekuatan ekonomi yang diperhitungkan. Dan di tengah sorak semangat itu, Gubernur Mahyeldi berdiri paling depan, memastikan tak ada satu pun pelaku UMKM yang tertinggal.
Karena bagi dia, kebangkitan UMKM adalah kebangkitan seluruh rakyat Sumbar.







