MINANGKABAUNEWS.com, ARTIKEL — Pernahkah kita membayangkan bahwa dua organisasi raksasa seperti Muhammadiyah dan Tamansiswa, yang pilar-pilarnya menopang begitu banyak sendi kehidupan bangsa, ternyata lahir dari sebuah hubungan kekerabatan dan satu pesan penting di ranjang sakit? Inilah kisah yang terselip dalam catatan sejarah, sebuah narasi tentang persaudaraan, visi kebangsaan, dan warisan yang sengaja dijalin oleh dua tokoh terbesar Indonesia.
Semuanya berawal dari sebuah kunjungan prihatin di Yogyakarta. Suatu hari di masa lalu, Ki Hajar Dewantara bersama sang istri, Nyi Hajar Dewantara, mendatangi rumah KH. Ahmad Dahlan yang sedang terbaring lemah. Saat itu, Dahlan telah mendirikan Muhammadiyah, organisasi yang gigih membangun peradaban melalui gerakan keagamaan dan sosial. Namun, dalam kondisi sakitnya, sang kakak sepuh ini justru memandang jauh ke depan.
Pesan yang Mengguncang Hati
Dalam pertemuan penuh hikmah itu, KH. Ahmad Dahlan tidak sekadar menerima kunjungan. Ia menyampaikan sebuah pesan yang begitu membekas di hati Ki Hajar Dewantara dan istrinya. Dahlan berpesan agar Ki Hajar Dewantara mendirikan organisasi yang bergerak di bidang Gerakan Kebangsaan (Nasionalis Religius). Visinya jelas: ia telah memulai dari sisi keagamaan dan kemasyarakatan, kini saatnya dilengkapi dengan pergerakan kebangsaan yang kuat. Sebuah pembagian peran yang visioner untuk kemajuan bangsa.
Pesan itu bukan sekadar ucapan. Ia menjadi pemantik dan penguat tekad yang sudah menggelora di dada Ki Hajar Dewantara. Tidak lama setelahnya, terwujudlah sebuah harapan besar: lahirnya Perguruan Nasional Tamansiswa (National Onderwijs Instituut Tamansiswa). Kelahiran Tamansiswa, ternyata, adalah jawaban atas amanah yang diberikan di ranjang sakit. Ia adalah saudara kandung dalam perjuangan dari Muhammadiyah, lahir dari rahim kepedulian yang sama terhadap masa depan Indonesia.
Kekerabatan yang Lebih dari Sekadar Darah
Lalu, apa sebenarnya hubungan di antara kedua tokoh ini? Banyak yang bertanya-tanya. Latar belakang mereka menunjukkan benang merah yang kuat: komunitas Kauman Yogyakarta. Kauman, kampung yang menjadi pusat kegiatan keagamaan dan intelektual di Yogyakarta, adalah tanah kelahiran dan persemaian gagasan mereka. Di sanalah jaringan keluarga, budaya, dan perjuangan mereka bersimpul. Kekerabatan antara KH. Ahmad Dahlan dan Ki Hajar Dewantara dibangun bukan hanya oleh ikatan darah yang mungkin terjalin, tetapi lebih lagi oleh ikatan visi, misi, dan rasa tanggung jawab yang sama sebagai putra terbaik Kauman untuk membangun negeri.
Era Keemasan Kolaborasi
Warisan hubungan harmonis ini tidak berhenti di masa pendirian. Ia terus hidup dan dipelihara oleh para penerusnya. Pada era 1980-an, ketika KH. AR Fachruddin memimpin Muhammadiyah dan Ki Suratman memimpin Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, tradisi dialog dan diskusi terus hidup. Kedua pimpinan itu rutin membicarakan tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara, memastikan bahwa api kerjasama yang dinyalakan oleh pendiri mereka tetap membara. Mereka adalah bukti bahwa kekerabatan organisasi ini mampu menjadi kekuatan penyeimbang dan pemikir bagi negara.
Revitalisasi untuk Indonesia Masa Kini
Pesan dari catatan lawas tahun 1983 yang ditulis oleh Ki Jal Atri Tanjung ini kini terasa sangat relevan. Dalam situasi bangsa yang penuh tantangan, semangat kolaborasi antara Muhammadiyah dan Tamansiswa perlu dihidupkan kembali. Bayangkan kekuatan dahsyat jika dua institusi dengan jaringan pendidikan, kebudayaan, dan pemberdayaan masyarakat yang begitu luas itu bersinergi! Skema kolaborasi dan revitalisasi kelembagaan bukanlah nostalgia, melainkan sebuah keharusan strategis untuk menjawab problematika Indonesia modern.
Mereka adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama: Iman, Ilmu, dan Amal untuk Indonesia. Dari satu pesan di saat sakit, lahirlah dua kekuatan yang membentuk karakter bangsa. Kini, saatnya kita mengenang, merawat, dan—yang terpenting—meneruskan warisan kekerabatan harmonis ini. Karena kemajuan bersama dan kesejahteraan rakyat yang dicita-citakan oleh Dahlan dan Dewantara, hanya akan tercapai jika kita bersatu padu, sebagaimana mereka dulu telah memberi contoh.
Salam dan bahagia. Temanku Temanmu. Taman Mutiara.
Oleh: Ki Jal Atri Tanjung (Advokat senior & Wakil Ketua PW Muhammadiyah Sumbar)






