MINANGKABAUNEWS, PADANG PANJANG — Di tengah hiruk pikuk modernisasi pendidikan, sebuah pesantren tua berdiri tegak dengan kisah yang hampir terlupakan. Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang menyimpan jejak sejarah yang menakjubkan: dari perlawanan terhadap kolonialisme hingga terobosan kepemimpinan perempuan di era kontemporer.
Berani Melawan Arus di Masa Penjajahan
Tahun 1927 bukanlah waktu yang mudah untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam. Saat itu, Belanda masih berkuasa penuh di Nusantara. Namun, di sinilah keberanian lahir. Sekelompok tokoh berani mendirikan pesantren yang menawarkan sistem pendidikan mandiri, menolak tunduk pada model pendidikan kolonial yang membatasi ruang gerak Islam. Langkah ini bukan sekadar membangun sekolah, melainkan bentuk perlawanan intelektual yang sunyi namun berpengaruh.
Tempat Lahirnya Para Pemimpin
Tidak seperti pesantren biasa yang hanya fokus pada kajian keagamaan, lembaga ini sejak awal dirancang sebagai “pabrik kader”. Visinya jelas: melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter kuat dan jiwa pengabdian. Hasilnya? Ratusan alumni menjadi tulang punggung gerakan Muhammadiyah dan berbagai bidang kehidupan nasional.
Nama-Nama Besar yang Pernah Berpijak di Sini
Deretan tokoh yang pernah terlibat di pesantren ini membuat siapa pun terkagum-kagum. Buya Hamka—ulama legendaris dan sastrawan kebanggaan Indonesia—adalah kepala sekolah pertamanya. Bayangkan, di usia muda, ia sudah memimpin lembaga yang kelak melahirkan pemikir-pemikir besar seperti A.R. Sutan Mansur dan diplomat Dahlan Abdullah. Atmosfer intelektual di Padang Panjang pada tahun 1920-1930an menciptakan ruang diskusi yang hidup dan dinamis.
Perpaduan Tradisi dan Kemodernan
Salah satu keunikan pesantren ini terletak pada kurikulumnya yang tidak memilih satu sisi. Santri mempelajari fikih mazhab Syafi’i dan tasawuf Imam Al-Ghazali dengan mendalam, namun juga dibekali pengetahuan umum seperti matematika, sejarah, dan bahasa. Formula ini bertujuan menciptakan generasi yang kuat spiritualitasnya, mulia akhlaknya, sekaligus siap menghadapi tantangan zaman.
Terobosan: Perempuan Berdoktor Memimpin Pesantren
Babak paling mencengangkan dalam sejarah pesantren ini terjadi ketika Dr. Derliana, M.A. diangkat sebagai Mudir atau kepala pesantren. Beliau adalah perempuan pertama sekaligus pemegang gelar doktor pertama yang memimpin lembaga ini. Keputusan ini bukan hanya soal kesetaraan gender, tetapi juga cerminan komitmen pada peningkatan kualitas kepemimpinan berbasis keilmuan. Kepemimpinan beliau membawa angin segar: tradisi pesantren bertemu dengan visi pendidikan modern, menginspirasi generasi santriwati bahwa batas-batas itu bisa ditembus.
Bertahan Hampir Seabad Tanpa Kehilangan Jati Diri
Yang paling memukau adalah bagaimana pesantren ini bertahan melewati berbagai era—penjajahan, revolusi, reformasi, hingga era digital—tanpa kehilangan identitasnya. Bangunan-bangunan tua masih berdiri kokoh dan terawat, sementara metode pendidikan terus berinovasi. Inilah bukti bahwa tradisi dan modernitas bisa berdampingan, bahkan saling memperkuat.
Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang adalah saksi hidup bahwa pendidikan Islam bisa menjadi kekuatan transformatif. Dari sebuah lembaga kecil di kota yang dijuluki “Serambi Mekah,” ia telah memberikan kontribusi luar biasa bagi peradaban bangsa. Kisahnya mengingatkan kita: ketika visi bertemu keberanian, perubahan sejati akan terjadi. (TR)






