MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Suara beliau tidak pernah keras, namun selalu menggetarkan. Di malam ke-8 Ramadhan 1447 H itu, ratusan jamaah yang memadati Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumatera Barat seketika larut dalam suasana yang mengharukan. Buya Adrian Muis Chatib Saripado, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumbar yang dikenal dengan dakwahnya yang menyentuh, kembali naik ke mimbar. Namun, kali ini, suasana terasa berbeda.
Lantunan ayat suci Al-Qur’an mengawali tausiah Ramadhan malam itu. Buya Adrian membuka lembaran suci dan membaca Surah Al-Qalam ayat 1 hingga 3. “Nun, wal qalami wa maa yasturuun. Maa anta bi ni’mati rabbika bimajnun. Wa inna laka la ajran ghaira mamnun.” (Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Tuhanmu, engkau (Nabi Muhammad) bukanlah orang gila. Dan sesungguhnya engkau pasti mendapat pahala yang besar yang tidak putus-putusnya).
“Perhatikan wahai jamaah sekalian,” ujar Buya Adrian memulai ceramahnya, “Allah bersumpah dengan pena. Di bulan yang penuh berkah ini, kita diperintahkan untuk tidak hanya berpuasa lapar dan dahaga, tetapi juga ‘menulis’ amal-amal terbaik kita. Setiap ayat yang kita baca, setiap sedekah yang kita berikan, itu adalah tinta kebaikan yang sedang menulis catatan keabadian di sisi-Nya.”
Jamaah yang duduk bersimpuh di lantai masjid yang sejuk itu mendengarkan dengan saksama. Udara malam Sumatra Barat yang dingin seakan semakin menusuk saat pesan demi pesan meresap ke dalam relung hati.
Tak berhenti di situ, Buya Adrian kemudian melanjutkan bacaannya ke Surah At-Tin. Ayat demi ayat dilantunkan dengan suara yang bergetar penuh penghayatan. “Wat tiini waz zaitun. Wa thuuri siiniin. Wa haadzal baladil amiin. Laqad khalaqnal insaana fii ahsani taqwim.” (Demi buah Tin dan buah Zaitun. Demi gunung Sinai. Dan demi negeri (Mekah) yang aman ini. Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya).
“Di sinilah letak kemuliaan kita, di sinilah letak keistimewaan Ramadhan,” seru Buya Adrian dengan nada meninggi namun tetap lembut. “Allah bersumpah demi empat hal: buah Tin, Zaitun, Gunung Sinai, dan Kota Mekah. Semuanya adalah simbol kebaikan dan keberkahan. Lalu Allah ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Tapi ingat, setelah Ramadhan berlalu, kita bisa kembali menjadi asfala saafiliin (serendah-rendahnya makhluk) jika kita tidak menjaga amal ini.”
Mata para jamaah mulai berkaca-kaca. Suasana Masjid Taqwa yang biasanya ramai dengan aktivitas tarawih, mendadak hening. Hanya suara Buya Adrian yang menggema.
Namun, puncak haru justru datang ketika Buya Adrian mulai mengupas makna terdalam dari semua ayat yang baru saja dilantunkannya.
“Jamaah sekalian,” ucapnya dengan suara bergetar, “Jika kita bicara tentang amal, kita harus paham dulu apa itu iman. Karena amal tanpa iman adalah sia-sia. Para ulama mengajarkan kita definisi iman yang utuh: Tashdiqun bil qalbi, wa iqrarun billisani, wa ‘amalun bil arkan.”
Buya Adrian mengulanginya perlahan, seolah ingin setiap kata meresap ke dalam sanubari jamaah.
“Tashdiqun bil qalbi – hati meyakini. Ini adalah pondasi. Di bulan Ramadhan ini, hati kita dilatih untuk tidak hanya percaya, tetapi yakin teguh bahwa Allah Maha Melihat, Malaikat mencatat, dan surga menanti. Tanpa keyakinan di hati, puasa kita hanya lapar dan dahaga.
Iqrarun bil lisan – lisan mengucapkan. Inilah fungsi syahadat. Apa yang diyakini hati, harus keluar melalui lisan. Maka perbanyaklah ucapan-ucapan baik di bulan ini. Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar. Karena iman bukan hanya bisikan diam-diam, tapi juga pengakuan terang-terangan.
Dan yang ketiga, ‘amalun bil arkan – raga mengamalkan. Inilah saatnya kita membuktikan iman. Shalat tarawih yang kita dirikan, sedekah yang kita berikan, menahan lapar dan haus – itu semua adalah amal yang membuktikan bahwa iman kita hidup.”
Jamaah mulai menunduk. Beberapa terlihat menyeka air mata yang perlahan jatuh.
“Inilah Ramadhan, bulan beramal!” seru Buya Adrian dengan semangat. “Allah turunkan Surah Al-Qalam yang berbicara tentang pena – itu simbol dari iqrar dan amal, bahwa iman harus ditulis dalam perbuatan. Dan Allah turunkan Surah At-Tin yang berbicara tentang sebaik-baik ciptaan – itu simbol tashdiq, bahwa kita diciptakan dengan fitrah iman yang sempurna.”
Malam itu, Masjid Taqwa Muhammadiyah Sumbar menjadi saksi ratusan orang yang menangis, bukan karena kesedihan, tetapi karena tersadarkan bahwa iman mereka selama ini mungkin baru berhenti di lisan, belum meresap ke dalam amal perbuatan.
Tausiah yang berlangsung sekitar 45 menit itu ditutup dengan doa bersama. Ribuan tangan menengadah, memohon kepada Allah agar setiap amal yang dilakukan di bulan suci diterima, dicatat sebagai pahala yang tak pernah putus, dan yang terpenting – agar iman yang utuh, dari hati, lisan, hingga perbuatan, benar-benar terwujud dalam diri setiap hamba.
Hingga jamaah beranjak pulang, pesan tentang Tashdiqun bil qalbi, iqrarun bil lisan, wa ‘amalun bil arkan itu masih terpatri kuat di benak masing-masing. Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, tetapi membuktikan bahwa iman itu hidup dalam setiap denyut nadi dan langkah kaki.





