Detik-Detik Haru Buya Gusrizal Kunjungi Warga Terisolir Banjir Maninjau: “Ujian Kebaikan Sering Kita Lupa”

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, AGAM – Suasana pilu masih menyelimuti Danau Maninjau. Hujan deras yang mengguyur kawasan Agam sejak beberapa hari terakhir telah mengubah surga wisata ini menjadi medan bencana. Banjir bandang dan longsor menerjang Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, menghancurkan rumah-rumah warga dan kebun-kebun yang menjadi sumber penghidupan mereka. Batu-batu besar dari bukit menghantam kampung, meninggalkan luka mendalam di hati masyarakat.

Di tengah kepiluan itu, sosok Buya Gusrizal Gazahar, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat, hadir bagaikan secercah harapan. Meski agenda padat menghimpit, sang ulama ini tak ragu melangkahkan kaki ke wilayah bencana, membawa bantuan dan menyebarkan semangat kepada saudara-saudara yang tengah diuji.

Rabu siang (3/12/2025) menjadi momen penting bagi 500 warga Jorong Tantaman, Nagari Palembayan yang sebelumnya terisolir. Setelah perjuangan keras, jalur darat akhirnya berhasil dibuka. Bantuan sembako hasil kerja sama BRI Peduli dengan Lembaga Manajemen Pemberdayaan Bantuan (LMPB) MUI pun mulai mengalir ke tangan-tangan yang membutuhkan.

Buya Gusrizal dan rombongan tidak hanya membawa bantuan material. Kehadiran mereka membawa kehangatan spiritual yang sama pentingnya bagi warga yang sedang berduka. Perjalanan mereka tidak berhenti di titik distribusi bantuan, tetapi berlanjut ke sebuah lokasi bersejarah yang sarat makna.

Perjalanan penyaluran bantuan dimulai ba’da Jumat (5/12/2025). Konvoi kendaraan membawa paket sembako melintasi jalur yang baru dibuka menuju Jorong Tantaman. Kondisi jalan yang masih licin dan berbahaya tidak menyurutkan tekad Buya Gusrizal dan tim untuk menjangkau warga yang sangat membutuhkan.

Di posko bantuan yang didirikan darurat, ratusan warga mengantre dengan wajah penuh harap. Mereka kehilangan hampir segalanya – rumah hancur, sawah tertimbun lumpur, ternak hanyut. Namun mata mereka berbinar ketika melihat kedatangan Buya Gusrizal yang tidak hanya membawa bantuan fisik, tetapi juga semangat untuk bangkit.

“Bersabarlah saudara-saudaraku,” ujar Buya Gusrizal sambil menyalami satu per satu warga yang menerima bantuan. “Ini adalah ujian dari Allah. Setiap kesusahan pasti ada kemudahan. Yang penting kita jaga iman dan terus berikhtiar.”

Di sela-sela penyaluran bantuan, Buya Gusrizal menyempatkan diri berkeliling melihat kondisi rumah-rumah warga yang rusak. Beberapa keluarga masih bertahan di rumah yang setengah hancur, sementara yang lain terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Tangis dan doa bercampur di setiap sudut kampung yang lumpuh.

Sang ulama tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga pesan-pesan dakwah yang menenangkan hati. “Dalam Al-Quran, Allah berfirman bahwa Dia tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Kalian diberi ujian ini karena Allah tahu kalian kuat untuk menghadapinya,” katanya dengan suara yang penuh kasih sayang.

Senja hari Jumat, setelah seharian menyalurkan bantuan dan memberi semangat kepada warga, rombongan Buya Gusrizal tiba di Rumah Gadang peninggalan Ahmad Rasyid (AR) Sutan Mansur di Nagari Sungai Batang. Bangunan megah yang menjadi pilot project Pariwisata Ramah Muslim (PRM) tahun 2024 dan lokasi program Wakaf MUI ini kini berdiri kokoh di tengah puing-puing bencana, seolah menjadi saksi bisu perjuangan umat.

Di serambi Rumah Gadang yang penuh berkah itu, Buya Gusrizal menyampaikan tausiyah yang menyentuh kalbu. Suaranya yang tenang namun penuh wibawa menggema, membawa pencerahan di tengah kesedihan yang menyelimuti. Puluhan warga dari berbagai kampung yang terdampak bencana berkumpul, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut sang ulama.

“*Allah menguji mereka dengan kebaikan dan keburukan,” ujar Buya Gusrizal mengutip ayat Al-Quran. “Dalam Al-Quran, kebaikan disebut terlebih dahulu. Tapi sayangnya, ketika kita mendapat kebaikan, kita sering lupa bahwa itu adalah ujian. Namun ketika kita diberikan kesusahan, baru kita sadar bahwa kita sedang diuji.”

Kata-kata bijak itu terasa menusuk ke relung hati setiap yang hadir. Dalam kesederhanaan penyampaiannya, Buya Gusrizal mengingatkan filosofi hidup yang kerap terlupakan: bahwa ujian tidak hanya datang dalam bentuk musibah, tetapi juga dalam kebaikan dan kemudahan.

“Ujian kebaikan itu lebih berat, karena sering kita lupa,” lanjutnya dengan nada penuh perhatian. “Mudah-mudahan dengan kita tetap bersyukur dan beribadah, saudara-saudara kita yang lain bisa terbantu. Bencana ini mengingatkan kita untuk saling tolong-menolong, saling menguatkan.”

Tausiyah berlangsung khusyuk hingga maghrib tiba. Setelah salat berjamaah di mushalla Rumah Gadang, warga satu per satu bersalaman dengan Buya Gusrizal. Malam itu, meski langit masih mendung dan ancaman hujan masih menggantung, hati warga terasa lebih ringan dan penuh harapan.

Sianh Sabtu (6/12/2025) datang dengan cuaca yang sedikit lebih cerah. Namun, misi kemanusiaan akan dilanjutkan ke kawasan bencana lainnya yang tidak kalah parah: Salareh Aia, Palembayan.

Kawasan Salareh Aia dikabarkan mengalami banjir yang lebih dahsyat. Air meluap dari sungai dan membanjiri ratusan rumah. Kondisi jalan menuju ke sana jauh lebih sulit dibandingkan Jorong Tantaman. Beberapa titik masih tergenang air setinggi lutut orang dewasa, dan lumpur tebal menutupi jalanan.

“Kita harus ke sana. Saudara-saudara kita di Salareh Aia sangat membutuhkan bantuan dan semangat,” tegas Buya Gusrizal kepada rombongannya sebelum berangkat.

Perjalanan dari Nagari Sungai Batang menuju Salareh Aia memakan waktu hampir dua jam, padahal dalam kondisi normal hanya butuh 30 menit. Kendaraan harus berjalan perlahan melewati jalanan yang rusak dan tergenang. Di beberapa titik, rombongan bahkan harus berjalan kaki karena kendaraan tidak bisa menembus genangan yang terlalu dalam.

Setelah menyaksikan langsung dahsyatnya dampak bencana yang melanda kawasan Maninjau dan sekitarnya, Buya Gusrizal merasa perlu mengambil langkah strategis yang lebih besar. Beliau segera berkoordinasi dengan Dewan Pimpinan MUI Pusat di Jakarta untuk membahas penanganan bencana yang lebih komprehensif.

“Setelah berkoordinasi dengan Dewan Pimpinan MUI di Jakarta, agar bencana ini ditangani lebih terkoordinir secara nasional dan tertangani dengan anggaran yang mencukupi, MUI sudah mengusulkan kepada pemerintah agar menjadikan bencana yang menimpa Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh ditetapkan sebagai Bencana Nasional

Buya Gusrizal melanjutkan dengan nada yang semakin tegas namun penuh empati:

“Di samping itu, ulama melalui MUI juga berusaha hadir di tengah saudara-saudara yang tertimpa bencana dengan segenap kemampuan yang ada, agar komitmen dakwah membersamai umat dalam tangis dan tawa bukan hanya ada dalam ceramah dan media.” Tutup Buya

Related posts