Dikia Rabano di Minangkabau

  • Whatsapp

Oleh : Sari Novia

Dikia Rabano adalah salah satu kesenian Tradisional Minangkabau yang bernafaskan Islam yang dapat menyentuh rasa dan pikiran pada aktifitas sosial maupun personal, oleh karena itu setiap kegiatan syarak (agama) maupun adaik(adat) selalu diwarnai oleh kegiatan seni yang Islami. Kesenian bernuansa Islam menjaga keseimbangan antara dakwah Islamiah dan hiburan, salah satunya adalah kesenian Dikia Rabano. Dikia Rabano berasal dari dua patah kata yaitu Dikia dan Rabano, Dikia yang berasal dari kata zikir dan Rabano berasal dari nama satu alat musik Rebana. Penggabungan dari dua kata tersebut menjadi sebutan untuk satu jenis musik Islami Minangkabau yaitu Dikia rabano (pengabungan musik Vokal dan musik Instrumen). Instrument musik ini digunakan dalam berbagai aktivitas sosial dan budaya pada masyarakat Minangkabau.

Read More

Seni pertunjukan gaya surau atau jenis kesenian bernafaskan Islam yang melekat dalam kegiatan kehidupan masyarakat Minangkabau diwarnai oleh pandangan hidup yang menganut syarak atau pedoman hidup mengandung unsur aqidah dan syari’ah yang berlandaskan agama Islam (Idrus Hakimi, 1993).

Kehidupan seni tidak bisa dipisahkan dari segi-segi kehidupan yang lainnya, seni bernafaskan Islam pada masyarakat Minangkabau dapat menyentuh rasa dan pikiran, karena itu setiap kegiatan syarak maupun adat hendaknya diwarnai oleh kegiatan seni yang Islami. Kesenian bernuansa Islam yang semula sangat sarat dengan ajaran keagamaan (dakwah), namun sejalan dengan perkembangan zaman mengalami perkembangan dengan mamasukkan budaya kekinian, baik masalah-masalah yang disampaikan, maupun teks nyanyiannya.

Dalam perkembangannya saat ini, kesenian bernuansa Islam yang selalu menjaga keseimbangan antara dakwah Islamiah dan hiburan salah satunya adalah kesenian Dikia Rabano. Dikia Rabano berasal dari dua patah kata yaitu Dikia dan Rabano, Dikia yang berasal dari kata zikir dan Rabano berasal dari nama satu alat musik Rebana. Penggabungan dari dua kata tersebut menjadi sebutan untuk satu jenis musik Islami Minangkabau yaitu Dikia rabano (musik Vokal dan musik Instrumen). Kata Dikia Rabano dalam bahasa Minang berarti puji-pujian kepada AllahS.W.T dan Rasul-Nya yang diucapkan berulang-ulang untuk mendekat diri kepada AllahS.W.T, diiringgi dengan musik Rebana.

Tetapi dalam konsep Islam kata zikir merupakan perbuatan ibadah yang khusuk kepada AllahS.W.T, dengan mengucapkan puji-pujian tanpa diiringi alat atau musik. Dikia Rabano adalah salah satu seni pertunjukan tradisional Minangkabau yang merupakan nyanyian vokal yang diiringi Rabano sebagai istrumen musiknya. Rabano adalah sebuah alat musik pukul yang termasuk dalam klasifikasi membranofon, jenis frame drum bersisi satu. Teks Dikia Rabano berisikan tentang kisah Nabi Muhammad S.A.W. Awal pertumbuhannya Dikia Rabano difungsikan hanya untuk berdakwah, mengembangkan ajaran agama Islam. Selanjutnya sesuai dengan kebutuhan sosial masyarakat Dikia Rabano digunakan juga untuk kebutuhan hiburan dan prosesi dalam acara adat, maupun agama. Terjadinya pergeseran fungsi awal dari Dikia Rabano yang hanya untuk kepentingan dakwah, karena adanya pengaruh dari perkembangan sistem pendidikan Islam tradisional Surau berpindah/bergeser dengan munculnya sistem pendidikan modern/sekolah formal yang akhirnya mempengaruhi keberadaan kesenian bernuansa Islam. Kesenian bernuansa Islam mulai di kembangkan menjadi kesenian yang bukan hanya untuk dakwah di lingkungan Surau saja, tetapi mulai di gunakan dan difungsikan lebih luas lagi untuk kegiatan-kegiatan pertunjukan atau seremonial acara adat maupun hari-hari besar agama. Masa sekarang Dikia Rabano sering disajikan dalam upacara perkawinan, acara Khatam Qur’an, upacara Batagak Penghulu, Khitanan,dan hari-hari besar agama Islam. Dikia Rabano dimainkan oleh laki-laki dewasa antara 18-50 tahun.

Dikia Rabano dimainkan secara berkelompok terdiri dari 6-10 orang atau bisa juga lebih. Dikia Rabano pada awalnya diajarkan pada anak laki-laki yang tidur di Surau dengan proses belajar dari selesai sholat Isya’ sampai menjelang pagi, sehingga anak-anak perempuan sampai sekarang tidak pernah mempertunjukan Dikia Rabano dan biasanya Dikia Rabano dipertunjukan pada malam hari. Pemain Dikia Rabano biasanya berjumlah enam orang sampai belas orang pemain, syarat utama seorang pemain Dikia Rabano harus pandai membaca Al-Qur’an dan tulisan Arab karena teks Dikia Rabano bertulisan Arab Melayu yang berasal dari kitab Sibaratul Ihsan (berupa aksara ArabMelayu), dan kitab-kitab lainnya. Pemain Dikia Rabano terdiri dari pemain yang bertugas sebagai penyanyi dan juga sebagai pemain musik.

Pemain menyanyikan teks Dikia sambil menabuh alat musik Rabano sebagai iringan musiknya, dan setiap masing-masing pemain memainkan satu buah Rabano. Pertunjukan Dikia Rabano biasanya dimainkan di dua tempat yaitu di Medan Nan Bapaneh (tempat pertunjukan terbuka seperti dilapangan bola di halaman rumah) dan di Medan Nan Balinduang (tempat pertunjukan yang tertutup atau mempunyai atap). Pertunjukan bisa dilakukan dengan menggunakan panggung maupun tanpa panggung. Pada masa sekarang pertunjukan Dikia Rabanobisa dimainkan siang hari ataupun malam hari sesuai dengan permintaan tuan rumah, seperti dalam acara mengiringi pengantin dari rumah mempelai laki-laki ketempat mempelai wanita atau sebaliknya yang berfungsi sebagai simbol pemberitahuan bahwa ditempat tersebut sedang berlangsung upacara pernikahan. Dalam perayaan hari besar agama Islam Dikia Rabano disajikan sebagai hiburan utama yang dapat menarik perhatian warga untuk menyaksikan pertunjukannya.

Teks Dikia Rabano dalam kitab Sibaratul Ihsan terdiri dari delapan pasal yang masing-masingnya diakhiri dengan rowi (rowi adalah ringkasan dari isi masing-masing pasal). Dalam penyajiannya, setiap selesai satu pasal dilanjutkan dengan membaca rowi tanpa diiringi Rabano. Rowi dibaca oleh satu orang pemain yang biasanya orang yang sudah sangat hafal semua teks Dikia Rabano. Kedelapan pasal teks Dikia Rabano selalu dinyanyikan berurutan dari awal sampai akhir, yang isinya adalah mencerita kisah Nabi Muhammad Saw mulai dari sebelum lahir sampai beliau diangkat oleh Allah Swt, menjadi Rasul AllahSwt. ,sebagai pemimpin umat Islam. Bahasa yang digunakan dalam penyajian Dikia Rabano antara lain ada yang menggunakanbahasa Indonesia, bahasa Minang, dan bahasa Arab.

Kedelapan pasal teks Dikia masing-masing mempunyai judul yang disesuaikan dengan isinya dan urutannya seperti: pasal 1. Kelebihan Maulid, pasal 2. Asal mahluk, pasal 3. Nur berpindah ke punggung Adam, pasal 4. Aminah kawin dengan Abdullah, pasal 5. Mimpi Aminah sembilan bulan, pasal 6. Kabar Abdullah, pasal 7. Kabar Aisyah dengan Maryam, dan pasal 8. Ajaib Nabi Zhohir.

Menurut beberapa sumber mengenai Kitab Sibaratul Ihsan saat ini sangat susah untuk ditemukan bahkan menurut salah satu kelompok Dikia Rabano juga mengatakan belum pernah melihat kitab tersebut. Jadi yang dipelajari saat ini adalah berdasarkan pengetahuan yang diperoleh secara turun temurun dari generasi sebelumnya. Unsur musik yang terkandung didalamnya menurut Malm (1976:4) merupakan kejadian suara yang dapat dipandang dan dipelajari sebagai suatu musik, jika suara tersebut merupakan kombinasi antara unsur nada, ritem, dan dinamik juga sebagai kombinasi secara emosi, estetika, atau fungsional dalam suatu kebiasaan, atau tidak berhubungan dengan kombinasi bahasa. Sebagai suatu budaya musikal Dikia Rabano bagi masyarakat Minangkabau, pada penyajiannya dinyanyikan dengan suara-suara yang terdiri dari bermacam nada dan ritem dari nyanyiannya dan iringannya. Nyanyiannya mengandung nilai-nilai estetika keagamaan dan norma-norma ajaran Islam. Penggunaan dan fungsi Dikia Rabano merupakan dua pengertian yang berbeda yaitu: penggunaan berarti faedah atau manfaat yang merupakan suatu proses atau perbuatan bagaimana cara menggunakan (memakai) sesuatu. Sedangkan fungsi lebih menekankan pada alasan bahwa untuk apa digunakan kesenian tersebut.

/*Penulis :Mahasiswa, Fakultas Ilmu Budaya, Sastra Minangkabau, Universitas Andalas.

Related posts