Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bukittinggi Lakukan Penguatan Museum Fisik dan Nonfisik

MINANGKABAUNEWS.COM – Langkah-langkah penguatan museum, ada bersifat fisik dan nonfisik. Kalau secara fisik berupa bantuan anggaran dari pemerintah kota dan dari pusat (Kementerian).

Hal ini disampaikan Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi Mul Akhiar melalui ponselnya kepada Minangkabaunewscom, Sabtu (26/3/2022).

Read More

Menurut Mul Akhiar, bantuan dari kementerian sifatnya nonfisik melalui DAK (Dana Alokasi Khusus) sedangkan untuk pemerintah daerah juga tetap bersifat nonfisik.

“Sementara museum itu, kita harus punya potensi informator, kolektor dan tenaga-tenaga yang perlu kita manfaatkan di dalam museum, karena di dalam museum ada barang- barang cagar budaya yang bernilai sejarah dari masa dahulu untuk dijaga,” ungkap Mul Akhiar.

Mul Akhiar menjelaskan, di museum tersebut harus ada orang yang merawat barang-barang cagar budaya yang ada di dalamnya (kolektor-red)

“Untuk petugas museum, bukan orang sembarangan yang bisa melaksanakan atau tenaga kontrak yang mungkin kita rekrut begitu saja, tidak bisa seperti itu,” jelas Mul Akhiar.

Ia menambahkan, orang yang dimasukkan adalah tenaga terlatih, artinya mereka dilatih tapi punya potensi.

“Kita butuh sumber daya manusia (SDM) bermutu, seperti seseorang yang mempunyai latar belakang ilmu sosiologi, ilmu antropologi atau sudah punya pengalaman sebelumnya, dan itu bisa kita manfaatkan sebagai tenaga informator termasuk juga kolektor di museum,” imbuh Mul Akhiar.

Untuk ketahanan museum, seperti Bukittinggi sekarang museumnya dengan Tipe C. Dana bantuan DAK nonfisik dari kementerian untuk museum sebesar Rp700 juta pertahun.

“Artinya dari dana Rp700 juta tersebut, kita mensosialisasikan pemeliharaan dan juga berikan insentif bagi pelaksana kegiatan di museum,” terang Mul Akhiar.

Kekurangan tenaga di museum saat ini, pihaknya perlu penuhi, sesuai permintaan dari klasifikasi museum.

“Bantuannya sangat kecil sekali, karena tenaga kita masih kurang di dalamnya, seharusnya, tenaga ahli di satu museum itu minimal empat orang dengan keahlian masing-masing,” tutur Mul Akhiar.

Sesuai hasil telaah dari pihak museum kementerian, kalau kondisi tenaga museum masih seperti ini, bisa berkemungkinan nilai DAK diturunkan menjadi yang terendah dengan Tipe D, itu berarti museum kita sudah tidak dipedulikan lagi oleh pemerintah pusat.

“Kita berharap kedepan, Pemerintah Kota (Pemko) Bukittinggi bisa meningkat jumlah tenaga untuk dilatih menjadi tenaga ahli di museum,” tutupnya.

Related posts