Duet Maut Fadly-Maigus: Skeneta Politik yang Menyatukan Rumah Gadang Balaikota dengan Partai di Padang

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, FEUTURE — Udara di Hotel Santika Padang pada Minggu petang itu terasa berbeda. Bukan sekadar hawan panas biasa, melainkan desisan angin perubahan yang akan menentukan masa depan politik kota ini. Dalam Rakerwil yang berlangsung khidmat, sebuah keputusan strategis diumumkan: Maigus Nasir, sang Wakil Wali Kota yang selama ini lebih banyak diam di belakang layar, resmi dinobatkan sebagai Ketua DPD Nasdem Kota Padang.

Ini bukan sekadar rotasi kader. Ini adalah gerakan final dalam sebuah skenario besar yang telah dirancang bertahap. Sebuah langkah yang menyempurnakan puzzle kekuasaan Partai Nasdem di Ranah Minang. Sejak 2022, Wali Kota Fadly Amran telah bertahta di pucuk DPW Nasdem Sumbar. Kini, dengan Maigus memegang kendali di tingkat kota, terkunci sudah sebuah formasi yang langka: duet penguasa eksekutif yang sekaligus menjadi tuan rumah di partainya sendiri.

Sebuah suara berbisik dari kerumunan kader, “Dengan begitu, dua sosok kader Nasdem saat ini memimpin Kota Padang. Semoga memberikan kebaikan.” Sebuah harapan sederhana yang menyimpan kekuatan politik yang tak terelakkan.

Wajah Maigus Nasir tampak berbinar saat ia menerima Surat Keputusan itu. Dalam pidatonya yang khas, tenang namun penuh keyakinan, ia menyebut momen ini sebagai “kesempatan yang lebih besar.” Sebuah pengakuan halus bahwa kursi ketua DPD ini adalah kunci untuk melanjutkan kiprahnya, bukan hanya di Padang, melainkan di panggung politik Sumatera Barat yang lebih luas. Ia pun menyampaikan terima kasih kepada “Bos”-nya, Fadly Amran, yang telah memberikan kepercayaan.

Ketua Fadly Amran, tak kalah bersemangat. Di depan para kader, ia dengan gamblang menyebut terpilihnya Maigus sebagai booster—pendorong daya yang sangat besar bagi partai. “Kita sama-sama tahu kiprah Buya Maigus,” ujarnya, seolah melegitimasi pilihan ini di mata semua pihak. Fadly memuji basis massa dan visi perjuangan Maigus, dua hal yang sejalan dengan cita-cita Nasdem.

Lalu, apa yang membuat Maigus Nasir, sang politisi senior, begitu berharga dalam kalkulasi politik ini?

Jawabannya terletak di luar dinding ballroom hotel yang mewah. Asrinaldi, pengamat politik dari Universitas Andalas, membedahnya dengan tajam. “Penunjukan Buya Maigus ini bisa dilihat dari dua sisi,” katanya.

Pertama, adalah track record-nya yang solid. Maigus bukanlah pendatang baru. Jejaknya telah mengular dari kursi DPRD Kota Padang, merambah ke DPRD Provinsi Sumatera Barat, sebelum akhirnya mendarat di jantung eksekutif sebagai wakil wali kota. Ia adalah politisi yang telah mencicipi asam garam politik dari legislatif hingga eksekutif.

Kedua, dan ini mungkin yang paling menentukan, adalah identitasnya. “Sebagai orang Padang, Buya Maigus memiliki pemahaman mendalam terhadap konstituen di Kota Padang,” tegas Asrinaldi. Dalam politik lokal Padang yang sarat dengan nuansa kultural, memiliki pemimpin yang bukan hanya berasal dari partai berkuasa, tetapi juga anak kandung ranahnya sendiri, adalah kombinasi yang ampuh. Ia mengerti denyut nadi, selera, dan bahasa politik masyarakatnya.

Dengan demikian, langkah Nasdem ini bagai menyatukan dua mata pedang. Satu mata adalah kekuatan administratif dan kebijakan yang dipegang Fadly-Maigus di balai kota. Mata pedang lainnya adalah kekuatan jaringan, kearifan lokal, dan legitimasi kultural yang melekat pada diri Maigus. Mereka tak hanya membangun menara gading kekuasaan, tetapi juga menancapkan akarnya jauh ke dalam tanah masyarakat Padang.

Kini, panggung telah disiapkan. Duet maut Fadly-Amran dan Maigus Nasir ini tinggal menunggu bukti. Akankah kekuatan politik yang terpusat dan solid ini diterjemahkan menjadi pemerintahan yang lebih lincah dan berpihak? Ataukah ia hanya akan menjadi monumen baru bagi kekuasaan yang terkonsolidasi? Jawabannya akan ditulis tidak hanya di gedung DPRD, tetapi juga di warung-warung kopi sepanjang Pantai Padang, menanti terjemahan nyata dari semua skenario politik yang indah ini.

Related posts