Eksistensi Penyunting di Era Digital

  • Whatsapp
Era Digital
Ilustrasi (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Diny Aprilisyanda

Era digitalisasi adalah era yang tengah kita rasakan pada saat ini. Digitaliasi sendiri cenderung menggunakan sistem operasi yang otomatis dengan menggunakan komputer. Secara tidak langsung, bisa dikatakan bahwa era digitalisasi ini tidak lagi menggunakan tenaga manusia atau manual. Akan tetapi, apakah era digitalisasi ini selalu memberikan dampak positif bagi masyarakat? Tentu saja tidak. Meskipun dengan adanya era digitalisasi ini banyak memberikan kemudahan, tetapi jika kita sebagai penggunanya tidak bisa memanfaatkannya dengan baik dan sekadarnya saja, maka saat itulah era digitaliasi ini memberikan dampak buruk.

Read More

Peralihan dari sistem manual ke sistem digital banyak memberikan pengaruh ke berbagai bidang, salah satunya adalah bidang percetakan atau penerbitan. Misalnya saja dengan hadirnya berbagai macam naskah-naskah berbasis daring yang bisa kita peroleh dengan mudah melalui gawai, hal ini tentu saja memberikan dampak pada industri percetakan dan penerbitan karena adanya peralihan pembaca yang lebih memilih membaca buku ataupun artikel lewat gawai saja dibandingkan harus membeli buku berbentuk fisik yang menurut sebagian orang ribet untuk dibawa kemana-mana.

Berkaitan dengan dunia penerbitan, tentunya kita akan membahas perihal penerbit, penulis, editor dan penyunting. Pada sebagian penerbit, ada yang mencantumkan nama penyunting naskah dan ada juga yang tidak mencantumkan nama penyunting naskah. Lalu, bagaimana sebenarnya peran seorang penyunting naskah pada era digitalisasi saat ini? Apakah seorang penyunting tidak diperlukan lagi dalam dunia penerbitan?. Mari kita bahas terlebih dahulu peran seorang penyunting naskah.

Peran seorang penyunting tidaklah mudah, penyunting tidak hanya sekadar memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terdapat di dalam naskah. Pada hakikatnya peran seorang penyunting naskah ini cukup kompleks. Joy Burruough-Boenisch mengemukakan bahwa penyuntingan ini memiliki tiga tahap, yaitu (1) penyuntingan sekilas, (2) penyuntingan inti, dan (3) revisi hasil suntingan.

Pada tahap penyuntingan sekilas, peran seorang penyunting adalah memeriksa kesalahan faktual, keajegan, bagian-bagian penting naskah, dan kelengkapan naskah. Tahap kedua yaitu penyuntingan inti, berkaitan dengan penyuntingan isi topik sebuah naskah dan bahasa sebagai media untuk mengomunikasikan isi suatu naskah tersebut. Lalu, tahap ketiga yaitu tahap revisi hasil suntingan, merupakan kegiatan untuk meninjau kembali keseluruhan komponen sebuah naskah dengan tujuan menyempurnakan naskah agar layak untuk diterbitkan.

Dilihat dari tahap-tahap yang sudah dijelaskan sebelumnya, seorang penyunting memiliki peranan penting terhadap keberhasilan suatu naskah untuk layak diedarkan atau diterbitkan. Lalu apakah pada era digital yang mengandalkan teknologi saat ini, peran seorang penyunting mulai tergeser oleh adanya kecanggihan teknologi yang bisa mendeteksi kesalahan-kesalahan dalam penulisan? Jawabannya tentu saja tidak. Karena sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa seorang penyuting tidak hanya memperbaiki kesalahan dalam suatu naskah, melainkan seorang penyunting sendiri memiliki tahap-tahap tertentu dalam melakukan kegiatan menyunting yang tentunya hingga saat ini tidak bisa digantikan oleh kecanggihan teknologi sekalipun. Untuk memahami lebih dalam mengenai peran penyunting, mari kita simak bentu-bentuk kesalahan dalam penulisan naskah berikut ini.

Kesalahan yang terdapat dalam salah satu naskah terjemahan berupa novel Prancis yang berjudul Le Petit Prince. Kesalahan berbahasa di dalam buku ini terdapat di kalimat, “Jadi aku harus memilih profesi lain dan aku belajar mengemudikan pesawat terbang.” (Exupery, 2019:9). Seharusnya dibelakang kata jadi pada kalimat tersebut harus ada tanda koma (,). Seperti yang sudah dijelaskan di dalam PUEBI bahwa tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat, seperti oleh karena itu, jadi, dengan demikian, sehubungan dengan iti, dan meskipun demikian.

Kesalahan lain juga terdapat dalam salah satu naskah perguruan tinggi yaitu dalam kalimat, “Selaras dengan Notonegoro, pengertian demokrasi menurut C.T Kamsil adalah ‘Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebjikasanaan dalam permusyarawatan dan perwakilan, yang merupakan sila keempat dari dasar negara pancasila yang tercantum dalam alinea ke-4 Pembukaan undang-undang dasar 1945” (Prayogi, 2018:35). Terdapat beberapa kesalahan dalam kalimat tersebut, yaitu setelah kata perwakilan seharusnya ada tanda petik (“…”) karena pada awal kata kerakyatan ada tanda petik awal. Selain itu pada kata undang-undang dasar 1945 ditulis dengan huruf awal yang tidak kapital seharusnya ditulis dengan huruf awal kapital karena di dalam PUEBI dijelaskan bahwa huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata dalam nama negara, lembaga, badan, organisasi, atau dokumen, kecuali kata tugas.

Dari kedua contoh kesalahan yang terdapat di dalam naskah terjemahan dan juga naskah perguruan tinggi tersebut, mungkin bagi sebagian masyarakat hal itu merupakan hal yang sepele. Tapi, bagi seorang pengamat bahasa ataupun seorang yang mendalami ilmu bahasa, hal yang sepele itu bisa jadi sangat memberikan pengaruh dan menjadi suatu permasalahan dalam bidang bahasa. Hal ini tentu saja karena kesalahan dalam tatabahasa akan memengaruhi makna yang terdapat di kalimat dalam suatu naskah.

Bagaimanapun kemudahan yang hadir pada era digital saat ini, peran dari manusia itu sendiri tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh kecanggihan teknologi, salah satunya adalah peran dari seorang penyunting naskah. Era digital memang akan terus berkembang dari waktu ke waktu, tapi tidak semua aspek kehidupan bisa dikuasi oleh teknologi. Seorang penyunting naskah sangat memberikan peran penting dalam suatu peradaban. Ernest Cassier menegaskan bahwa manusia menjadi begitu istimewa karena bahasa. Tanpa bahasa, maka tiada pula kemampuan manusia dalam meneruskan nilai, norma, dan budaya dari satu generasi ke generasi selanjutnya.

/* Penulis adalah Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Email: aprilisyanda@gmail.com

Related posts