Eksistensi Santri Sebagai Penyejuk Umat di Masa Pandemi

  • Whatsapp
Rezi Rahmat, M.Pd
Rezi Rahmat, M.Pd.

Oleh: Rezi Rahmat, M.Pd

Peringatan Hari Santri Nasional tahun 2021 masih dalam suasana pandemi. Peringatan Hari Santri Nasional tahun ini mengusung tema “Santri Siaga Jiwa dan Raga”. Santri siap membela dan menjaga tanah air baik dengan jiwa maupun raga mereka. Hal ini secara tidak langsung mengandung makna bahwa santri memiliki peran penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Read More

Penetapan Hari Santri Nasional (HSN) tanggal 22 Oktober setiap tahunnya menjadi bukti dan pengakuan bangsa atas peran para santri dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI.  Penetapan HSN ini merujuk kepada peristiwa sejarah yang terjadi pada tanggal 22 Oktober 1945, yaitu adanya seruan jihad fiisabilillah dan resolusi jihad  kepada umat Islam terutama kaum santri untuk melawan penjajah yang disampaikan oleh KH. Hasyim Asy’ari, seperti yang dikutip dari jabar.nu.or.id. Seruan jihad tersebut menggelorakan semangat kaum santri dan umat Islam untuk melawan penjajah pada masa itu, bahkan semangat jihad masih terus dan tetap diwariskan hingga masa sekarang.

Santri Generasi Warasatul Ambiya’

Santri sebagai generasi warasatul anbiya’. Tidak berlebihan jika menyebut santri sebagai generasi penerus risalah para nabi. Pasalnya para santri di pondok pesantren dibekali dengan ilmu agama, seperti ilmu fikih, tauhid, ilmu tafsir, ilmu hadis, dan pelajaran agama lainnya. Pembelajaran kitab kuning sebagai ciri khas pesantren. Mereka juga dibina secara jasmani dan rohani, sehingga para santri memiliki akhlak yang baik (akhlakul karimah). Dengan ilmu yang didapatkannya, suatu saat para santri akan menggantikan  kyai dan ulama untuk meneruskan dakwah Nabi Muhammad Saw. dan menyampaikan risalah Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin.

Disamping ilmu agama, santri juga belajar ilmu dunia atau ilmu pendidikan umum, sehingga santri pandai dalam urusan agama dan piawan dalam urusan dunia. Pada awalnya pondok pesantren hanya memberikan pendidikan agama saja kepada santri, namun dari masa ke masa pesantren mengalami perubahan dalam sistem pembelajarannya, mulai dari sistem klasik berubah menjadi sistem klasikal. Kurikulumnya pun sudah menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Santri Penyejuk Umat dan Menjaga Keutuhan Bangsa

Saat ini bangsa Indonesia belum sepenuhnya pulih. Pasalnya, berbagai aspek kehidupan masih belum bangkit disebabkan pandemi covid-19 yang melanda negeri. Umat masih gundah gulana, resah dan gelisah sebab pandemi belum juga berakhir. Saat umat dalam keadaan seperti ini, kehadiran santri sebagai penyejuk sangat dibutuhkan. Santri memberikan hawa ketenangan dengan menyampaikan pemahaman dan pengerttian kepada umat, bahwa pandemi sebagai salah satu bentuk ujian untuk meningkatkan keimanan kepada Allah Swt.. Pandemi juga sebagai bentuk teguran bagi umat yang sudah mulai lupa kepada Tuhannya.  Sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Ankabut ayat 2 :  Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”. (Q.S Al-Ankabut: 2)

Disamping memberikan kesejukan kepada umat, santri juga memiliki peran dalam menjaga keutuhan bangsa. Sesuai dengan resolusi jihad dari KH. Asy’ari, bahwa santri mesti menjaga keutuhan bangsa dari berbagai macam hal yang akan memecah belah dan merusak ideologi bangsa.

Santri Ngaji dan Melek Teknologi

Tiada hari tanpa ngaji, begitulah kehidupan para santri. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali diisi dengan membaca kitab kuning, belajar fikih, menghafal al-qur’an dan lain sebagainya. Hal ini menjadikan santri orang yang fakih (paham dalam urusan ilmu agama). Sehingga santri yang sudah lulus dari pondok pesantren pada umumnya menjadi hafiz dan melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah.

Selain ngaji, santri mesti melek teknologi. Saat ini kita sudah berada di era disrupsi teknologi digital. Era dimana arus informasi berjalan sangat cepat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat pesat. Santri tidak melulu berbicara soal ngaji ilmu agama, tapi santri juga bisa memanfaatkan teknologi untuk hal-hal positif. Menebarkan konten-konten yang mencerahkan di berbagai platform digital.

Seperti yang kita tahu perkembangan teknologi memiliki sisi positif dan negatif. Teknologi jika tidak digunakan dengan bijaksana, maka teknologi bisa menjadi racun terhadap umat dan bumerang terhadap penggunanya. Contohnya saja dalam media sosial, acap kali ditemukan berita-berita hoax yang menyesatkan umat, tidak hanya hoax, ujaran kebencian, konten-konten yang berbau seksual juga ada. Untuk mengimbangi dan menetralisir konten-konten negatif tersebut, santri dengan kepandaiannya menggunakan teknologi bisa memproduksi konten-konten yang positif dan memberikan edukasi kepada umat, baik dalam bentuk flyer, kata-kata, maupun video yang di-upload ke kanal Youtube.

Kebanyakan generasi muda sudah terkontaminasi dengan game online. Game online membuat pemainnya menjadi ketagihan, sehingga lupa dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya. Apalagi saat ini sedang marak judi yang sudah dimodifikasi dalam bentuk game online. Maka santri sebagai generasi yang didik dengan agama memiliki kewajiban menyampaikan bahwa praktik judi dalam bentuk apapun hukumnya adalah haram atau terlarang dalam Islam kepada generasi muda. Semoga semakin banyak santri yang menebarkan kebaikan di tengah-tengah umat dan Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik. Wallahu Musta’an. (*)

/* Penulis adalah Wakil Kepala Sekolah dan Guru PAI di SMPN 32 Solok Selatan. Email: rezi.rahmat37@gmail.com.

Related posts