Empat Pilar Kebangasaan, Anggota DPD RI, Alirman Sori Ajak Masyarakat Cegah Radikalisme

PAINAN, Minangkabaunews — Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia (RI), Dr. H. Alirman Sori, SH, MHum, MM, menilai saat ini isu Suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) dimanfaatkan untuk kepentingan politik.

Hal itu dikatakanya saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI di Gedung Pertemuan kantor DPD II Golkar, Rawang Painan, Kecamatan IV Jurai Kabupaten Pesisir Selatan, Senin (8/8).

“Maka dari itu saya mengajak masyarakat untuk memperkuat pemahaman agama agar tidak terjebak dalam radikalisme dan terpolarisasi dengan kepentingan politik SARA,”ajak Alirman Sori.

Dalam kegiatan itu, juga dihadiri Ketua DPD II Golkar Syafril Saputra, SH, MH, H. Indra Bakti Taufik, ST, (Bendahara) Elinda Aznur, (pengurus), Etti nurhayati (pengurus), Staf Ahli anggota DPD RI Sumbar, M. Adli dan diikuti ratusan peserta yang terdiri dari pemuda dan emak – emak.

Senator asal kabupaten pesisir selatan, Sumbar itu melanjutkan dirinya pun mengajak seluruh komponen bangsa untuk tetap teguh menjaga nilai luhur empat pilar, yang menjadi sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Empat pilar tersebut adalah Pancasila sebagai dasar negara UUD 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai bentuk negara dan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

Ia mengungkapkan, nilai luhur yang terkandung dalam empat pilar tersebut menjadi kekuatan yang telah mempersatukan anak bangsa sehingga tidak terpecah belah.

“Empat pilar ini harus dijaga, demi menjaga persatuan dan kesatuan. Nilai – nilai luhur yang terkandung di dalamnya harus tetap terjaga,”kata dia.

Also menegaskan, Pancasila sebagai dasar negara sudah final. Sebab, itu terkandung di dalam pembukaan UUD 1945. Kesatuan Indonesia (NKRI) adalah juga tidak boleh diubah, harga mati.

Selanjutnya, Bhinneka Tunggal Ika. Artinya berbeda – beda tapi tetap satu. Maknanya, NKRI terdiri dari berbagai belasan ribu pulau. Namun, nilai luhur Bhinneka Tunggal Ika telah mampu mengikat anak bangsa dalam kerangka NKRI.

Mantan wartawan ini, menambahkan bahwa tantangan bangsa kedepannya jauh lebih berat terutama menghadapi serangan pengaruh global yang saat ini berlahan lahan telah merobah karakter generasi muda kita yang cenderung terbuka, dan menginginkan kebebasan tanpa nilai nilai (Liberalisme).

Menurutnya selain pemahaman agama tentang pendidikan, generasi muda harus dikenalkan pada budaya lokal untuk menanamkan karakter dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Jadi memperkenalkan ilmu pengetahuan bukan hanya sebatas ilmu umum saja, tetapi juga ilmu agama yang merupakan penting terkait prilaku, sikap dan juga keyakinanya kepada Tuhan.

“Kedua ilmu ini harus diperkenalkan secara baik dan benar, dalam artian haruslah seimbang antara ilmu umum dan ilmu agama. Sedemikian sehingga dapat tercipta kerangka pemikiran yang seimbang dalam diri,” ungkapnya.(Ronal)

Related posts