MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Di tengah gempuran kabar soal kenaikan harga bahan pokok, justru muncul fenomena menarik dari balik gerobak-gerobak dan etalase kaca Rumah Makan Padang. Bukan merosot, para pelaku usaha justru menunjukkan kemampuan adaptasi yang luar biasa. Ada apa dengan ekonomi RI? Ternyata, ini tanda-tanda resiliensi yang menjanjikan.
Memasuki tahun 2026, beberapa pengelola Rumah Makan Padang di Tebet, Jakarta Selatan, mengamati perubahan perilaku konsumen yang cerdas. Ridwan, misalnya, menyadari ada pergeseran menu favorit. Di pertengahan hingga akhir bulan, pembeli kini lebih sering memilih menu “irit” seperti nasi telur, nasi perkedel, atau nasi terong seharga Rp18.000.
“Sejauh ini tengah bulan sampai akhir memang agak sepi, mereka sedang belajar ngirit,” ujar Ridwan sambil tersenyum. Bahkan, ada yang hanya membeli sayur dan sambal tanpa nasi untuk dibawa pulang, atau lauk saja untuk dibagi sekeluarga. Menurutnya, ini bukan kemunduran, melainkan tanda masyarakat semakin pintar mengatur keuangan.
Sebaliknya, di awal bulan atau saat gajian, antrean menu premium seperti rendang, tunjang, dan daging cincang kembali membludak. Paket lengkap Rp27.000 pun laris manis. Jadi, daya beli sebenarnya masih ada—hanya saja pola konsumsi menjadi lebih siklus dan terencana.
Aldi, pengelola lain di Tebet, mengakui omzet 2026 sedikit menurun dibanding pandemi. Namun, justru di masa sulit ini, para pengusaha Padang bersatu. “Kita di forum Facebook, yang di Bogor, Depok sampai turunkan harga, lho!” ungkapnya. Itu menunjukkan solidaritas dan efisiensi, bukan kepanikan.
Meski harga daging dan cabai sempat naik—cabai tembus Rp60.000 per kg—Aldi hanya menaikkan harga Rp1.000 per tahun. Pelan tapi pasti. Ijan, pengelola lainnya, juga melakukan penyesuaian serupa. Hasilnya? Pembeli tetap setia karena porsinya besar, sayur gratis, dan minum gratis.
Di Cikini, Taufik punya trik cerdas: mengurangi porsi lauk mahal seperti Kepala Kakap (dari 6-7 jadi 3 porsi per hari) dan memperbanyak porsi sayur untuk anak kost. “Kami tetap kasih banyak, karena mereka butuh,” katanya. Meski harga plastik pembungkus sempat melonjak dari Rp28.000 jadi Rp50.000 per pack, Taufik memilih tidak menaikkan harga jual demi menjaga daya beli.
Para pembeli pun merasakan manfaatnya. Triyo mengaku Nasi Padang masih “worth it” karena porsinya banyak dan harganya normal. Andi, warga lain, kini memilih nasi telur saja, tapi ia menegaskan: “Masih enak, sayurnya gratis, minum gratis. Tinggal menunya disesuaikan.”
Menariknya, fenoma serupa juga muncul di warteg—menandakan ekonomi RI tidak sedang sekarat, tetapi sedang belajar efisien. Masyarakat tetap makan enak, UMKM tetap berinovasi, dan harga diri tetap terjaga.
Jadi, ada apa dengan ekonomi RI? Jawabannya: Ekonomi RI sedang menunjukkan kekuatan dari lapisan paling bawah. Bukan runtuh, tapi membangun fondasi yang lebih tangguh. Dengan gotong royong dan adaptasi, Rumah Makan Padang tetap berdiri—dan itu pertanda sangat baik untuk masa depan.






