Filter Bubble Pada Media Sosial, Apa Itu?

Filter Bubble
Ilustrasi Filter Bubble (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Robertus Rifael

Dewasa ini, khususnya di era 4.0 yang mana pola pemikiran manusia semakin berkembang sehingga menyebabkan kemajuan teknologi. Membuat kita dapat dengan mudah mendapatkan akses informasi secara cepat melalui teknologi internet.

Read More

Dengan adanya kekuatan internet, munculah yang dinamakan media sosial yang juga merupakan aktifitas digemari oleh banyak kalangan masyarakat khususnya generasi millenial.

Adapun beberapa media sosial yang sering digunakan masyarakat seperti, Instagram, Facebook, Whatsapp, Youtube hingga Tiktok yang akhir-akhir ini cukup meraih perhatian serta popularitas di tengah-tengah masyarakat.

Walaupun, dengan adanya media sosial membuat kehidupan kita menjadi serba instan dan praktis. Namun, ternyata hal tersebut secara nyata membuat banyak masyarakat yang terbelenggu hingga diperdaya oleh adanya media sosial ini.

Terlihat, banyak sekali masyarakat yang mengabaikan informasi secara menyeluruh dan hanya berorientasi kepada apa yang dia suka dalam bermedia sosial yang mengakibatkan, masyarakat secara cepat mengambil kesimpulan serta tidak kritis dalam menanggapi suatu konten di media sosial ini.

Hal ini pun, tak lain dikarenakan munculnya ‘Filter Bubble’ atau ‘Filter Gelembung’ yang dikutip dari Buku The Filter Bubble “What the Internet is Hiding From You” Karya Eli Pariser Pada Tahun 2011 menyebutkan bahwa algoritma dalam filter bubble memungkinkan pengguna internet untuk memperoleh informasi, iklan, hingga suggested search yang dibuat seakan menjadi sangat personal.

Filter Bubble ini dengan Algoritma tentunya sangat relate dikarenakan kedua hal tersebut sangat mengatur aktifitas serta data kita, khususnya dalam media sosial hingga terjadinya personalisasi informasi. Tentunya filter bubble tersebut sangat berdampak bagi banyak orang. Berdasarkan pengalaman pribadi, saat saya sedang memainkan aplikasi instagram. Banyak sekali konten muncul khususnya di explore berdasarkan hal apa yang saya sukai atau sering dicari.

Contoh: seringnya muncul iklan baju oversized yang sebelumnya juga sering dicari oleh saya. Sama hal dengan Tiktok, banyak sekali konten yang muncul pada laman (For You Page) yang dimana kebanyakan memberikan konten relevan yang menyebabkan saya lebih betah dalam memainkan aplikasi tersebut.

Tak hanya di Instagram dan Tiktok, Filter Bubble ini banyak terjadi di media sosial lain hingga mesin pencari. Tentunya, hal ini juga sangat menguntungkan para pebisnis dalam meningkatkan penjualan produk yang dijual dengan memanfaatkan sistem SEO (Search Engine Optimization) yang relate dengan filter bubble. Sistem SEO ini, merupakan upaya mengoptimasi website agar mendapat ranking teratas di hasil pencarian di mesin pencari. Otomatis, banyak masyarakat yang langsung tertuju kepada produk tersebut. Kemudian, bagi saya pribadi dengan adanya filter bubble ini semakin memudahkan saya dalam mendapatkan informasi terbaru yang pastinya relate dengan apa yang saya sukai.

Fillter Bubble ini pun, membuktikan bahwa media sosial telah melakukan aktifitas tracking / pelacakan terhadap konten apa yang kita sukai, sehingga informasi yang dimunculkan relevan dengan diri kita sehingga terkadang nyaman dalam melakukan aktifitas media sosial.

Selain itu, juga membuat para pebisnis menaikkan profitnya dikarenakan dengan adanya filter ini membuat bisnis tersebut mudah dikenal oleh masyarakat dikarenakan sering muncul di beranda pencarian.

Namun, ibarat 2 sisi mata pisau adapun dampak buruk yang diterbitkan dari efek Filter Bubble ini yang condong akan menimbulkan personalisasi informasi yang dimana hanya memunculkan informasi yang sesuai dengan preferensi sebelumnya sehingga mendapatkan informasi yang terbatas dan berujung mempersempit wawasan serta hanya mendapatkan dari satu sudut pandang saja.

Dalam kasus-kasus yang kontroversial, filter bubble ini membuat kita hanya terpapar dan fokus kepada informasi yang kita percaya sehingga menghilangkan posisi yang berlawanan. Tentunya, hal ini juga akan menambah potensi peningkatan terjadinya penyebaran berita hoax di tengah-tengah masyarakat.

Selain itu, juga membuat pribadi kita menjadi cuek dalam menanggapi suatu hal di media sosial dan seakan membuat kita menutup mata akan hal lain yang terjadi di media sosial dan juga membuat kita merasa bahwa seakan-akan berita yang sering kita dapatkan oleh filter bubble ini yang paling aktual.

Hal ini pun juga diperkuat oleh adanya argumen yang diberikan oleh pencetus nama filter bubble ini yaitu “Dunia yang dibangun dari kesamaan (hal yang familier) adalah tempat kita tidak bisa belajar apa-apa,” kata Pariser dikutip dari Farnam Street.

Tentunya, dalam mengurangi Fenomena serta efek dari Filter Bubble ini Kita dapat mensiasatinya dengan cara rajin menghapus browsing history, mengaktifkan ad-blocker, membaca artikel dari sumber yang tidak bias, sebisa mungkin perluas topik yang kamu konsumsi dan juga lebih bijak lagi dalam mengakses informasi yang ada pada media sosial.

Pada intinya, Filter Bubble ini tidak selalu berdampak positif bagi kehidupan bersosial media yang dimana kita sebagai konsumen dapat mudah menemukan suatu informasi secara cepat. Namun, adapun dampak negatif yang dimana harus kita perhatikan secara bijak dan seksama agar tidak terjadi penyalahgunaan hingga kesalahpahaman. (*)

/* Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP, Universitas Andalas.

Related posts