MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Suasana di Masjid Surau Buya Gusrizal mendadak hening. Bukan karena takjub semata, melainkan karena tersentak oleh rentetan kalimat tajam yang dilontarkan oleh ulama kharismatik, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa. Dalam tausiahnya belum lama ini, Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat itu membedah habis fenomena “kebersamaan semu” yang kerap terjadi di tengah masyarakat.
Dengan tegas, Buya mengingatkan bahwa sebuah pertemuan fisik belaka tanpa dilandasi harmoni hati hanyalah sebuah kepura-puraan. “Walaupun fisik bermajelis tapi hati tidak harmonis, maka yang terlihat tak lebih dari senyuman palsu dan ungkapan basa-basi,” ujarnya menohok.
Lebih jauh, ia mengungkap sisi gelap dari formalitas seremonial ini. “Bahayanya di luar acara seremonial malah yang terlihat adalah saling jegal dan saling sikut!” seru Buya, menggambarkan realitas pahit yang seringkali tersembunyi di balik agenda-agenda kebersamaan.
Buya Gusrizal pun mengajak seluruh jamaah untuk merenungi firman Allah dalam Surat Al-Anfal ayat 63. Ayat ini menegaskan bahwa mempersatukan hati adalah pekerjaan besar yang hanya mampu dilakukan oleh Allah SWT. “Seandainya engkau (Nabi Muhammad) menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka” (QS. Al-Anfal:63).
Buya menekankan bahwa kebersamaan fisik tanpa kebersamaan hati hanya akan melahirkan seremoni yang hampa. Sebaliknya, ketika Allah telah menyatukan hati, perbedaan yang ada tidak akan berubah menjadi permusuhan . Dengan memahami konsep Qur’ani ini, kita diajak untuk mampu memilah antara hakikat persatuan sejati dan kepura-puraan yang hanya berorientasi pada kepentingan sesaat.






