MINANGKABAUNEWS.com, JAKARTA — Ada fenomena unik yang kadang membuat kita geleng-geleng kepala: mengapa orang yang pelit justru suka mengajak orang lain ikut-ajak pelit? Bukannya malu, mereka malah getol mempromosikan sifat kikir ke mana-mana. Rahasia psikologis di balik perilaku ini akhirnya dibedah tuntas oleh seorang ulama kharismatik asal Ranah Minang.
Dalam pengkajian Fiqh Keluarga di Masjid Surau Buya Gusrizal, Kota Bukittinggi, Ketua Bidang Fatwa Metodologi MUI Pusat, Buya Dr. H. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, menjelaskan bahwa akar masalah ini bukan sekadar soal harta, melainkan soal citra diri.
“Orang bakhil itu sebenarnya ingin tetap tersanjung. Dia takut dicap pelit, padahal perangainya sudah jadi bukti. Mau dipuji, tapi berbagi ogah,” jelas Buya dengan logat khas Minang yang kental.
Buya mengupas firman Allah “Wamurunanasa bil bukhli” (mereka menyuruh orang lain berperilaku bakhil). Menurutnya, si bakhil sadar bahwa jika di sekitarnya ada orang dermawan, maka akan terlihat kontras. Agar tidak kalah pamor dan tidak diperbandingkan, ia pun berusaha membentuk “geng bakhil” sehingga tidak ada tolok ukur kebaikan.
“Ini demi menyelamatkan muka. Ia ingin orang lain sama seperti dia. Karena kalau orang lain pemurah, dia akan rendah di mata publik. Maka dia ajak semua satu barisan. Itu penyakit,” tegas Buya yang juga dikenal sebagai ulama kharismatik tersebut.
Lebih lanjut, Buya Gusrizal menjelaskan dampak kebakhilan berikutnya, yakni menyembunyikan nikmat Allah karena takut dimintai. Namun, ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak main vonis. “Memperlihatkan nikmat belum tentu sombong, dan menyembunyikan nikmat belum tentu tawaduk. Bisa jadi karena takut berbagi alias kikir,” ujarnya.
Buya mencontohkan sebuah hadis riwayat Imam Abu Daud, di mana Nabi SAW justru menyuruh sahabat yang kaya namun berpakaian lusuh untuk menampakkan nikmat Allah. “Kalau Allah sudah kasih harta, tampakkanlah bekas nikmat itu. Itu bagian dari syukur, bukan sombong,” kutip Buya.
Sebaliknya, menyembunyikan nikmat karena takut dimintai tolong inilah yang terjerumus pada kufur nikmat. Ancaman bagi mereka adalah adzaban muhina (azab yang menghinakan). “Di dunia saja mereka sudah dihinakan orang karena tidak mau hidup bermasyarakat,” ingatnya.
Sekilas Tanggapan Soal Polemik Nikah Siri
Dalam kesempatan yang sama, Buya juga menyentil isu hangat KUHP baru soal pelaporan nikah siri. Ia mengingatkan agar jangan ada ego sektoral. “Sah tidaknya nikah itu berdasarkan hukum agama, jangan sampai aturan pidana justru bertabrakan dengan konsep syariat. Jangan buat aturan yang tidak sinkron,” pesannya.
Ceramah yang mengalir bak perbincangan hangat di ranah ini pun ditutup dengan pesan berimbang: beri motivasi untuk berbuat baik, beri peringatan dari keburukan. “Jangan ancaman terus, nanti pusing orang. Kasih harapan juga,” pungkas Buya disambut gelak tawa jamaah.






