Gara-Gara Banjir Bandang, Anak-Anak di Solok Malu ke Sekolah! Lihat Aksi Buya Gusrizal Bikin Nangis…”

  • Whatsapp

MINANGKABAUNEWS.com, SOLOK — Bencana banjir bandang 27 November 2025 yang melanda sejumlah daerah di Sumatera Barat bukan hanya menyisakan duka dan kerusakan material. Gelombang air bah yang menerjang rumah-rumah warga juga membawa serta perabotan, pakaian, dan perlengkapan sekolah anak-anak. Akibatnya, tak sedikit dari mereka yang kehilangan seragam, sepatu, bahkan kehilangan semangat untuk kembali ke bangku sekolah.

“Sepatu hanyut. Baju hanyut. Mereka malu ke sekolah,” ujar seorang orang tua, menggambarkan kondisi pilu yang dialami anak-anak korban bencana, terutama di Nagari Muaro Pingai, Solok. “Rumahnya tinggal separuh, bahkan ada yang rata dengan tanah. Hidup di tenda darurat,” lanjutnya.

Keprihatinan mendalam ini sampai ke telinga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat, Buya Dr. Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa. Di tengah kesibukannya yang padat, bolak-balik Jakarta-Sumbar, dan persiapan menghadapi Rakorda dan Musda MUI Sumbar, Buya Gusrizal tak bisa mengabaikan laporan bahwa puluhan anak-anak korban galodo (banjir bandang) terpaksa absen sekolah karena tak memiliki kelengkapan seragam.

“Ini tidak boleh kita biarkan,” tegas Buya Gusrizal dengan penuh semangat. “Bencana harus kita terima dengan kesabaran. Tapi anak-anak kita jangan sampai berhenti sekolah karenanya. Mereka adalah generasi pelanjut kita.”

Bukan sekadar kata-kata, komitmen itu langsung diwujudkan dalam aksi nyata. Buya Gusrizal, didampingi oleh Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Sumbar, Portito, serta perwakilan dari Kementerian Sosial dan Tim Medis Aisyiyah, mengajak 43 anak korban banjir bandang tersebut ke Pasar Kota Solok.

Hari itu, suasana pasar berubah menjadi penuh haru dan tawa ceria anak-anak. Dengan pendampingan penuh kasih, mereka diajak memilih sendiri kebutuhan sekolah mereka. Mulai dari baju seragam putih merah, celana, rok, sepatu, tas, hingga perlengkapan tulis-menulis. Buya Gusrizal dengan sabar mendampingi dan memotivasi mereka.

“Yang cantik itu, ya?” tanya Buya sambil menunjukkan sebuah baju kepada seorang anak perempuan bernama Bilkis. “Besok pakai ke sekolah, ya!” ujarnya penuh semangat. Wajah-wajah malu dan sedih pun berangsur-angsur pecah menjadi senyuman lebar. Cahaya harapan kembali menyala di mata mereka.

Aksi berbelanja ini bukanlah bentuk bantuan pertama yang dikoordinasikan Buya Gusrizal. Sebelumnya, melalui jejaring Muslim Disaster Rescue MUI dan MDMC, bantuan logistik seperti beras dan kebutuhan darurat lainnya juga telah disalurkan ke berbagai titik terdampak seperti Palembaian, Paninjau, Malalak, Palupuah, hingga Padang Tabah dan Bayang Utara.

“Sepatu boleh hanyut, tetapi semangat tidak boleh tergerus,” pesan Buya Gusrizal kepada anak-anak sekaligus menjadi semangat utama kegiatan ini. Baginya, memastikan pendidikan anak-anak terus berjalan adalah langkah vital dalam membangun kembali kehidupan pasca-bencana.

Kepada masyarakat, Buya Gusrizal juga mengimbau untuk saling peduli. “Ini tandanya kita bersaudara. Anak-anak ini adalah anak-anak kita semua. Mari kita perhatikan mereka, jangan sampai musibah ini membuat mereka patah semangat. Masa depan mereka masih panjang,” ajaknya.

Setelah berbelanja, anak-anak pun langsung mengenakan seragam dan sepatu baru mereka dengan bangga. “Alhamdulillah, sekarang anak-anak kita sudah memakai baju seragamnya yang baru. Mudah-mudahan besok bisa dipakai untuk bersekolah dengan semangat baru,” ucap seorang pendamping kegiatan.

Di tengah sisa-sisa reruntuhan dan kenangan pahit banjir, aksi sederhana yang penuh ketulusan ini menjadi bukti nyata bahwa solidaritas dan kepedulian adalah obat terbaik untuk mengobati luka dan membangkitkan kembali harapan untuk bangkit. Buya Gusrizal dan seluruh pihak yang terlibat telah menunjukkan bahwa di balik awan kelam bencana, selalu ada pelangi kemanusiaan yang siap menyinari langkah generasi penerus bangsa.

Related posts