Gawat! Jenderal Iran Yakin Menang Mudah jika Perang dengan Israel

  • Whatsapp
Nuklir Iran
Ilustrasi (Foto: Dok. Istimewa)

MINANGKABAUNEWS, INTERNASIONAL — Jenderal Angkatan Udara Iran Amir Ali Hajizadeh telah memperingatkan Israel agar bersiap untuk dihentikan. Pernyataan Jenderal Ali Hajizadeh merespons sikap pemerintah baru di Israel yang mulai mempertimbangkan serangan terhadap situs nuklir di Iran dan mengantisipasi pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat (AS).

Hajizadeh mencemooh Tel Aviv atas ancaman yang sudah dilemparkan karena menunjukkan Tel Aviv tidak dalam posisi untuk mengeluarkan peringatan. Terlebih lagi, sambil berpura-pura bahwa Israel satu-satunya rezim di dunia yang berdebat tentang cara untuk bertahan hidup.

Read More

“Rezim [Israel] yang sedang membahas negara mereka sendiri telah ditakdirkan untuk dihentikan dan tidak dapat berbicara tentang menghancurkan negara lain,” kata Hajizadeh dikutip dari SputnikNews.

Jenderal itu mengakui bahwa Israel mampu melakukan serangan terhadap Iran. Namun Teheran tetap akan menang dalam konflik bersenjata.

Selain itu, dia mencatat bahwa tuntutan sekutu Israel dalam membatasi program misil Iran adalah bukti nyata negaranya memiliki kekuatan dalam memenuhi ancaman melenyapkan Israel, jika mereka menyerang terlebih dahulu.

“Musuh kami mengatakan kami harus bernegosiasi tentang rudal … dan drone kami telah menjadi serpihan di mata mereka. Jika mereka bersikeras membatasi kemampuan rudal dan drone kami, itu menunjukkan kekuatan kami. Kami tidak perlu menyebutkan kekuatan kami karena musuh cukup berbicara tentang rudal dan kemampuan pertahanan Iran,” kata Hajizadeh.

Sebelumnya, Kepala Staf IDF Aviv Kohavi mengungkapkan bahwa militer negaranya telah melakukan persiapan untuk kemungkinan serangan terhadap situs nuklir Iran.

Tel Aviv selama bertahun-tahun mengklaim bahwa Teheran sedang mengembangkan senjata nuklir. Israel memohon kekuatan global untuk tidak memulihkan kesepakatan nuklir Iran 2015. Kesepakatan itu berantakan setelah pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menarik Paman Sama pada 2018, dengan alasan bahwa perjanjian itu dapat meningkatkan kemampuan Iran untuk membuat nuklir.

Saat ini, Iran berencana kembali ke meja perundingan di Wina untuk mencapai kesepakatan dengan AS dan penandatangan lain dari Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) untuk memulihkan kesepakatan dan mencabut sanksi dari Iran. Putaran terakhir pembicaraan berakhir tanpa hasil yang nyata karena kegagalan Teheran dan Washington untuk menyetujui persyaratan kembali.

Iran dan Amerika Serikat (AS) sepakat melanjutkan JCPOA pada 29 November mendatang. “Dalam panggilan telepon dengan (utusan Uni Eropa pembicaraan nuklir) Enrique Mora, kami sepakat memulai negosiasi yang bertujuan untuk menghapus sanksi yang melanggar hukum dan tidak manusiawi pada 29 November di Wina,” kata perunding nuklir terkemuka Iran Ali Bagheri-Kani lewat akun Twitter pribadinya pada Rabu (3/11).

Mora bersama kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell akan memimpin pertemuan tersebut. “Para peserta akan melanjutkan diskusi tentang prospek kemungkinan kembalinya AS ke JCPOA dan bagaimana memastikan implementasi penuh serta efektif dari perjanjian oleh semua pihak,” kata Uni Eropa dalam sebuah pernyataan.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price mengungkapkan, negaranya yakin pembicaraan itu bisa diselesaikan dengan cepat jika Iran serius. “Kami percaya bahwa jika Iran serius, kita dapat melakukannya dalam waktu yang relatif singkat,” ucapnya dalam pengarahan media. (Rep)

Related posts