MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Langit Koto Tangah sore itu terasa lebih hangat dari biasanya. Bukan karena terik matahari, melainkan karena kehangatan silaturahmi yang membalut setiap sudut Masjid Ar-Raudah. Ribuan warga Kompleks Salingka Bungo Permai 2 tumpah ruah, duduk lesehan, bersimpuh di karpet merah, menanti momen yang tak biasa.
Minggu (29/3/2026) menjadi hari yang istimewa. Bukan sekadar halalbihalal biasa usai Idulfitri—tiba-tiba, tanpa banyak pengumuman, Wali Kota Padang, Fadly Amran, melangkah masuk ke tengah jemaah. Kehadirannya sontak menyedot perhatian. Ada yang tersenyum, ada pula yang tak kuasa menahan haru. Seorang pemimpin kota memilih duduk di antara warganya, bukan di mimbar tinggi, tapi di sela-sela mereka yang datang dengan niat tulus saling memaafkan.
“Pak Wali datang sendiri, tanpa keramaian. Beliau langsung nyalami satu per satu,” ujar seorang warga dengan mata berbinar.
Fadly Amran tak hanya hadir untuk bersalaman. Dalam sambutannya yang ringan tapi penuh makna, ia menyampaikan sesuatu yang langsung menggetarkan hati yang hadir. Baginya, silaturahmi bukan sekadar tradisi tahunan yang usai setelah salaman. Lebih dari itu, ini adalah lem yang merekatkan kota.
“Ini kekuatan fundamental. Kalau kita kuat bersaudara, tantangan pembangunan apa pun akan kita hadapi bersama,” ucapnya dengan suara lantang namun bersahabat.
Warga yang tadinya duduk santai perlahan beranjak, mendekat, menyimak. Ada yang mengangguk-angguk, ada pula yang tersenyum sambil mengusap pelupuk mata. Di mata mereka, kehadiran Fadly bukan soal seremoni, tapi soal pengakuan bahwa masyarakat akar rumput adalah ujung tombak Kota Padang yang sejahtera.
Ia mengajak semua tak sekadar bermaafan di atas sajadah, tapi membawa nilai itu ke rumah masing-masing, ke tetangga sebelah, ke lingkungan yang sehari-hari mereka tempati.
“Jangan sampai silaturahmi hanya ramai di masjid, lalu redup setelah pulang. Mari kita rawat persaudaraan ini. Karena dengan saling memahami, mengesampingkan perbedaan, kita akan punya ketahanan sosial yang kuat,” pesannya.
Suasana makin syahdu ketika Buya Ristawardi, penceramah kondang yang dihadirkan dalam acara itu, mulai naik ke mimbar. Dengan gaya khasnya, ia mengupas keutamaan ukhuwah Islamiah, mengingatkan bahwa Ramadan telah mengajarkan disiplin jiwa, dan sekarang saatnya menjaga kualitas iman agar tak luntur.
“Halalbihalal ini bukan penghapus dosa otomatis, tapi pintu untuk memulai lembaran baru,” tutur Buya diselingi gelak ringan yang membuat suasana tetap cair.
Tiga jam berlalu tanpa terasa. Acara yang diawali dengan sambutan hangat, dilanjutkan tausiah menyejukkan, berakhir dengan sesi sungkeman massal yang menghabiskan banyak tisu. Wali Kota Fadly Amran pun tak buru-buru pulang. Ia berdiri paling akhir, melayani setiap warga yang ingin bersalaman, bahkan sempat berbincang santai dengan ibu-ibu yang membawa anak kecil.
Satu pesan menguat di benak warga Koto Tangah sore itu: bahwa pemimpin dan rakyat adalah dua sisi yang sama, dan ketika keduanya bersatu dalam silaturahmi, maka Kota Padang bukan hanya maju secara fisik, tapi juga kokoh secara batin.






