MINANGKABAUNEWS.com, PADANG- Langkah pertama Rasulullah SAW usai hijrah justru bukan mendirikan kantor pemerintahan atau istana. Sejarah mencatat, fondasi peradaban Islam yang gemilang justru dibangun dengan sebuah pilihan yang sering diabaikan di zaman now. Hal inilah yang diungkap dan ditegaskan kembali oleh Ketua DPRD Provinsi Sumbar, Muhidi, dalam sebuah tabligh akbar.
Dalam acara milad ke-43 Majelis Taklim Muslimat Masjid Raya Almunawwarah, Ahad (23/11), Muhidi menyampaikan ceramah yang menyentuh akar peradaban. Dengan penuh semangat, ia mengajak jamaah untuk meneladani sirah Nabi Muhammad SAW, yang justru memilih membangun Masjid Quba dan Masjid Nabawi sebagai fondasi pertama negara Madinah.
“Rasulullah tidak membangun ‘kantor rasul’. Beliau membangun masjid,” tegas Muhidi, mengingatkan semua pihak tentang esensi prioritas dalam membangun peradaban.
Pernyataan tersebut bukan sekadar retorika. Muhidi mengukuhkannya dengan mendalam melalui sejumlah firman Allah dalam Al-Qur’an. Ia menyitir Surah At-Taubah Ayat 18 yang menegaskan bahwa hanya orang beriman yang hakiki yang mampu memakmurkan masjid-masjid Allah.
Tak hanya itu, untuk menekankan pentingnya integritas antara ucapan dan tindakan, ia mengutip Surah Ash-Shaff Ayat 38. “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” bunyi ayat yang disampaikannya, seraya mengingatkan agar semangat membangun masjid tak hanya jadi wacana, tapi diwujudkan dalam aksi nyata memakmurkannya.
Lebih dari itu, Muhidi juga menekankan pilar kedua yang tak kalah penting: literasi Al-Qur’an. Dalam paparannya, ia turut menyampaikan Surah Thaha Ayat 132, yang memerintahkan Nabi untuk mendirikan shalat dan bersabar atasnya.
“Perintah mendirikan shalat ini tidak bisa dilepaskan dari kemampuan baca-tulis Al-Qur’an. Bagaimana bisa kita memahami dan mengamalkan ajaran Islam jika literasi terhadap kitab sucinya lemah?” ujarnya.
Dengan menggabungkan dua pesan utama ini—revitalisasi fungsi masjid dan penguatan literasi Al-Qur’an—Muhidi seolah menyampaikan formula yang pernah sukses diterapkan Nabi. Masjid harus kembali menjadi pusat peradaban yang hidup, bukan hanya secara fisik, tetapi juga intelektual dan spiritual, dengan literasi Al-Qur’an sebagai jantungnya.
Acara yang berlangsung khidmat itu pun diharapkan bukan sekadar seremonial, tetapi menjadi pemantik untuk bersama-sama membangun peradaban dimulai dari masjid, dengan Al-Qur’an sebagai panduan utamanya.
Narasi yang dibangun Muhidi ini mengajak semua pihak untuk introspeksi.Di era yang serba kompleks, membangun peradaban justru harus kembali ke khittah yang sederhana namun penuh makna: memakmurkan masjid dan mendalami Al-Qur’an. Sebuah resep klasik yang terbukti efektif, menunggu untuk dihidupkan kembali.


