MINANGKABAUNEWS.com, PADANG — Di tengah keterbatasan fiskal yang kian mengencangkan ikat pinggang keuangan daerah, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, nekat melontarkan gebrakan yang tak biasa. Ia tak mau pembangunan di ranah Minang terhenti hanya karena anggaran yang menipis. Maka, di hadapan seluruh fraksi DPRD dalam rapat paripurna Senin (22/6/2026), Mahyeldi dengan lantang membeberkan strategi dadakan yang disebutnya bakal mengubah wajah Sumbar: mengoptimalkan aset daerah yang selama ini “tertidur pulas” dan meluncurkan instrumen pembiayaan kreatif bernama Sukuk serta obligasi daerah!
“Kita harus berani keluar dari kotak! Aset daerah itu harta karun yang belum terjamah. Selama ini perhatian kita lebih banyak ke uang kas, padahal tanah, gedung, dan kekayaan publik lainnya bisa jadi mesin uang jika dikelola dengan cerdas. Ini saatnya kita ubah paradigma!” tegas Mahyeldi dengan semangat membara.
Gubernur yang kembali meraih Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK ini tak hanya berhenti di teori. Ia mengungkapkan bahwa saat ini Pemprov Sumbar tengah mematangkan skema creative financing yang menjadi pionir di Indonesia. Bahkan, kesiapan Sumbar dalam menerapkan Sukuk sebagai instrumen pembangunan mendapat sorotan tajam dari Islamic Development Bank (IsDB) yang sampai mengundangnya untuk belajar langsung ke Jepang!
“Bayangkan, pembangunan jalan, jembatan, hingga infrastruktur publik lainnya tetap bisa melesat meski APBD kita pas-pasan. Sukuk dan obligasi daerah adalah jawabannya. Sumbar akan jadi laboratorium pembiayaan pembangunan nasional!” ujarnya dengan mata berbinar.
Namun, yang paling mencengangkan adalah pengakuan Mahyeldi soal potensi luar biasa yang selama ini luput dari perhatian: remitansi perantau Minang yang tembus lebih dari Rp20 triliun per tahun! Angka fantastis yang menurutnya bisa menjadi lokomotif ekonomi daerah jika pemerintah, kabupaten/kota, dan nagari bersinergi mengarahkannya.
“Ini bukan sekadar uang kiriman, ini kekuatan ekonomi yang jika dikelola bersama bisa membangun kampung halaman. Kita tidak boleh lagi diam! Kita ajak semua anak nagari bersatu padu membangun Sumbar,” seru Mahyeldi penuh haru.
Di tengah tekanan kebijakan efisiensi nasional, Mahyeldi menegaskan bahwa pembangunan tak boleh berhenti. Ia berkomitmen menghadirkan terobosan demi terobosan yang tak membebani rakyat, justru menggerakkan ekonomi dari bawah. Rapat paripurna yang dihadiri seluruh pimpinan perangkat daerah itu pun menjadi saksi deklarasi perang terhadap kemandekan pembangunan.
“Sumbar harus bergerak! Dengan kreativitas, sinergi, dan keberanian, kita wujudkan pembangunan yang merata dan bermanfaat untuk semua,” pungkasnya, menggema di ruang sidang yang kemudian disambut tepuk tangan meriah.






