MINANGKABAUNEWS.com, AGAM — Di balik dinding papan yang lapuk dan atap yang bocor, secercah harapan mulai bersemi. Senin (23/2/2026) pagi itu, Wakil Gubernur Sumatera Barat, Vasko Ruseimy, hadir bukan sekadar untuk bersilaturahmi, tetapi untuk membawa perubahan nyata bagi dua keluarga kurang mampu di Kabupaten Agam dan Kota Bukittinggi.
Pertama, langkahnya mengarah ke sebuah gubuk sederhana di Canduang, Kabupaten Agam. Di sanalah Ernita (53), seorang buruh tani, telah bertahun-tahun menahan malu dan nestapa. Rumahnya yang tak layak huni memaksanya menumpang di kediaman saudara selama tiga tahun terakhir. Ia bermimpi memiliki tempat berteduh yang layak untuk hari tuanya.
“Alhamdulillah, sepertinya mimpi saya untuk punya rumah sendiri bakal segera terwujud,” ucap Ernita lirih, matanya berkaca-kaca menyambut kedatangan rombongan.
Perjalanan Wagub Vasko berlanjut ke Gang Mengkudu No. 41, Aur Kuning, Bukittinggi. Di sebuah rumah reot di lorong sempit itu, tinggal Sumardi bersama istri dan tiga anaknya. Kondisi rumahnya memang tak sepenuhnya rubuh, namun di setiap sudutnya, kebutuhan perbaikan berteriak minta diperhatikan. Dinding yang miring dan lantai yang tak rata menjadi pemandangan sehari-hari keluarga ini.
Di kedua tempat itu, Wagub Vasko tak hanya membawa kata-kata penghiburan. Ia menyerahkan paket sembako dan sebuah amplop berisi bantuan uang tunai sebesar Rp25 juta untuk masing-masing keluarga. Bantuan ini merupakan bagian dari program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang digagas Pemprov Sumbar berkolaborasi dengan BAZNAS Provinsi Sumbar.
“Rumah Bapak dan Ibu akan kita bantu perbaikannya. Angka Rp25 juta ini mungkin tak seberapa, tapi kami harap ini menjadi pemicu semangat gotong royong kita semua. InsyaAllah, dengan kerja sama kita, rumah ini akan berubah menjadi tempat tinggal yang lebih nyaman dan layak untuk berkeluarga,” tutur Vasko dengan nada bersahabat.
Lebih dari sekadar bantuan materi, Wagub Vasko mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari perangkat nagari, kelurahan, hingga tetangga sekitar, untuk bahu-membahu menyukseskan proses rehabilitasi. Menurutnya, program ini adalah wujud nyata kehadiran negara di tengah warga berpenghasilan rendah.
Ernita dan Sumardi hanya bisa memanjatkan doa dan rasa syukur. Kini, mereka tak sabar menanti proses perbaikan dimulai. Bagi mereka, bukan hanya dinding dan atap yang akan diperbaiki, tetapi juga martabat dan masa depan keluarga yang lebih cerah di rumah yang lebih layak. Program RTLH ini menjadi bukti bahwa pembangunan di Sumbar tak hanya soal infrastruktur megah, tapi juga menyentuh kebutuhan paling dasar warganya.






