Gulai Cubadak Campua Cancang Sebagai Tradisi Manjalang Bako di Minangkabau

  • Whatsapp
Gulai Cubadak
Gulai Cubadak (Foto: Dok. Istimewa)

Oleh: Lezia Maharani

Salah satu tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat Minangkabau khususnya Pesisir Selatan adalah tradisi ‘Manjalang Bako’ dan ‘Manjalang Mintuo’. Tradisi atau kebiasan adalah sebuah bentuk perbuatan yang dilakukan berulang-ulang dengan cara yang sama. Hal ini juga menunjukan bahwa orang tersebut menyukai perbuatan itu.

Read More

Kebiasaan yang diulang-ulang ini dilakukan secara terus-menerus karena dinilai bermanfaat bagi sekelompok orang, sehingga sekelompok orang tersebut melestarikannya.

Tradisi yang merupakan segala sesuatu yang diwariskan atau disalurkan dari masa lalu ke masa saat ini yang menjadi warisan-warisan sosial khusus yang memenuhi syarat saja yakni yang tetap bertahan hidup di masa kini.

Tradisi dari sudut pandang benda material yang menunjukan dan mengingat hubungan khususnya dengan kehidupan masa lalu.

Kata tradisi diambil dari bahasa latin “Tradere” yang bermakna mentrasmisikan dari satu tangan ke tangan lain untuk dilestarikan. Tradisi secara umum dikenal sebagai suatu bentuk kebiasaan yang memiliki rangkaian peristiwa sejarah kuno.

Setiap tradisi  dikembangkan untuk beberapa tujuan, seperti tujuan politis atau tujuan budaya dalan beberapa masa jika kebiasaan sudah diterima oleh masyarakat dan dilakukan secara berulang, maka segala tindakan yang bertentangan dengan kebiasaan akan dirasakan sebagai perbuatan yang melanggar hukum.

Tradisi ‘Manjalang Bako atau mengunjungi rumah bako oleh anak pisang masih bertahan di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat dalam menyambut bulan Ramadhan. Seperti halnya masyarakat Pesisir Selatan mengatakan manjalang bako, selain bentuk penghormatan, juga sebagai ajang mempererat silaturahmi antara bako dan anak pisang.

Olahan masakan dari Ranah Minang memang sudah dikenal akan kelezatannya. Mulai dari rendang, gulai kapalo lauak, gulai tambunsu, gulai cubadak hingga gulai cancang, dan masakan lainnya. Gulai cubadak campua cancang menjadi hidangan yang nyaris sebagai salah satu macam samba pabukoan  menjelang bako yang diantar oleh anak pisang saat sebelum berbukadi bulan Ramadhan dan menjadi tradisi yang sering dilakukan masyarakat minangakabau terutama masyarakat pesisir selatan hingga saat ini.

Manjalang mintuo bukan hanya datang ke rumah dan saling maaf-bermaafan, namun disertai membawa rantang yang berisi bermacam masakan. Makanan tersebut akan dihidangkan dan dimakan bersama-sama. “Iya hari ini mau ke tempat bako, bawa makanan juga untuk makan bersama nanti di rumah mertua,” katanya. Sementara, Ketua Kerapatan Adat Nagari pesisir selatan, Kecamatan IV Jurai, Salido menerangkan selain menyambut Bulan Suci Ramadhan manjalang bako juga kerap dilakukan pada saat setelah Idul Fitri.

Ia mengatakan biasanya rantang berisi masakan berupa gulai cubadak campua cancang ,daging, rendang, ikan goreng, sambal, kue, dan berbagai macam kuliner tradisional lainnya.

Gulai cubadak merupakan makan tradisional minangkabau yang menjadi budaya dan kearifan lokalnya dengan cita rasanya yang pedas dipadukan dengan aneka rempah khas Indonesia membuat makanan khas suku minangkabau menjadi idola banyak orang, masakan gulai cuadak menggunakan bumbu rempah-rempah, daerah pesisir selatan merupakan daerah yang kaya akan rempah-rempah.

Hidangan dengan penyajian potongan daging sapi ataupun jeroan sapi ini memang menjadi hidangan paling andalan yang cukup banyak diminati. Gulai ini berbahan dasar yang terdiri dari cubadak atau lebih dikenal dengan nama nangka, nangka adalah salah satu sayur yang dapat sebagai pencampur makanan, cubadak atau daging nangka muda, sering digunakan sebagai bahan pencampur masakan seperti rendang dan gulai dan gulai ini juga berbahan dasar seperti olahan daging sapi yang dipotong-potong menjadi kecil kemudian dijadijan gulai, daging yang sedang direbus sebaikknya dimasukan tiga sendok makan agar daging tersebut cepat empuk, hal ini merupakan salah satu kepercayaan masyarakat yang tinggal di daerah Pesisir Selatan.

Daging yang dijadikan cancang biasanya bagian yang mengandung lemak, air rebusan dari daging tersebut dapat dijadikan kaldu agara menambah aroma gulai tersebut. Selain daging sapi biasanya ada juga yang menggunakan daging kambing sebagai bahan utama gulai cancang.

Gulai cubadak campua cancang ini menjadi salah satu macam samba pebukoan manjalang bako, manjalang mintuo, acara baralek, perkawinan, tunangan, mandoa, dan acara tradisi lainnya, Manjalang bako dan manjalang mintuo  merupakan tradisi wajib, tradisi ini dilakukan sejak turun temurun sejak ratusan tahun ini, Tradisi ini memang melekat kuat di aktivitas kehidupan masyarakat minang.

“Saat ini masih banyak warga yang menjalankan tradisi manjalang bako sebagai bentuk penghormatan antara bako dengan anak pisang,” katanya.

Meski tradisi tersebut sudah menjadi turun-temurun, ia juga tak menampik jika ada sebagian dari masyarakat yang tidak melaksanakan. Hal ini mungkin dikarenakan beberapa faktor seperti, faktor ekonomi, sosial, budaya dan faktor lainnya.

“Mungkin saja lantaran ekonomi, namun ada juga warga yang tidak membawa rantang dan hanya mengunjungi saja, tidak masalah, tidak ada larangan, poin pentingnya adalah silaturahmi, ada juga dari fator sosial seperti ada satu masalah dengan bakonya tersebut katanya. Ia berharap tradisi manjalang bako bertahan di tengah kehidupan masyarakat khususnya Minangkabau. Karena mengunjungi dan bersilaturahmi dengan kerabat orang tua laki-laki yang masih hidup merupakan suatu keharusan yang tidak boleh ditinggalkan. “Kunjungilah orang-orag tersebut selagi masih hidup selagi mereka masih hidup. Tanpa makanan yang dibawa, tetaplah datang dan bersilaturahmi dengan orang-orang,”

/* Penulis adalah Mahasiswa Universitas Andalas.

Related posts